islam.jpg

Kewajiban Mengobati Hati Oleh H.Mustafa

Di antara tugas utama orang yang beriman ialah, memelihara dan menjaga hatinya dari penyakit-penyakit dan membersihkannya dari segala kotoran dan karat-karat yang menjadikannya gelap tidak bercahaya.

Karena hati merupakan organ terpenting dari tubuh manusia, maka kita wajib menjaganya dengan sebaik-baiknya karena di dalamnya bersemayam iman dan taqwa, mahabbah dan ridha, khauf dan rajaa (rasa takut dan harap) kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ [رواه البخاري ومسلم]

Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.

(HR. Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir)

Imam Nawawi dalam kitab At Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an (hal. 87) menjelaskan cara mengobati hati yang sakit, yang sedih dan yang gelisah.

Ibrahim Al Khawash berkata, obat hati itu ada lima:

Membaca Al Qur’an dan tadabbur (merenungkannya)
Rajin mengosongkan perut (dengan gemar berpuasa)
Mendirikan shalat malam (shalat tahajjud)
Merendahkan diri di hadapan Allah (dengan do’a dan dzikir) di akhir malam (waktu sahur)
Bermajelis (bergaul) dengan orang-orang shalih.

Wallahu a’lam bish shawab.

H.MUSTAFA SEMRANI
H.MUSTAFA SEMRANI
fdewfdew

Seni Menyentuh Hati Oleh H.Mustafa Semrani

“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila daging itu rusak, maka rusaklah seluruh organ tubuhnya, begitu sebaliknya. Segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhari, Muslim)

Hadist di atas menggambarkan bagaimana pentingnya menjaga hati, hati yang mudah terbolak-balik oleh sebuah keadaan. Sayid Qutb mengatakan, mengikat hati itu lebih penting untuk didahulukan sebelum memberi nasihat. Karena dengan hati yang terikat akan mudah untuk menerima nasihat, akan tetapi sebaliknya sehebat apapun dalam memberi nasehat kalau hati tidak menyatu maka akan sulit menerima. Sehingga ilmu yang diberikan akan sulit untuk dipahami.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Quran surah Al-jumu’ah ayat 2 yang artinya :

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Ayat di atas memberitahukan kita bahwa dalam berdakwah atau memberikan pelajaran kepada orang lain mencakup 3 tahapan, yaitu : Membacakan ayat-ayatNya (tilawah), mensucikan mereka (tazqiyatun nafs), dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (ta’lim).

Yang pertama adalah tilawah, seorang dai dalam menyeru kepada kebaikan baik dalam kajian ataupun halaqoh-halaqoh sangat dianjurkan untuk mengawalinya dengan membaca Al-Quran, karena dengan membaca atau dibacakan Al-Quran akan membuat suasana menjadi lebih tenteram untuk melanjutkan proses berikutnya. Sebagaimana Umar bin khattab yang begitu membeci Rasulullah di masa jahiliyahnya yang masuk Islam dikarenakan mendengarkan bacaan Al-Quran, begitupun juga seorang pemimpin dari suku Daus di yaman yang bernama Thufail bin amr juga masuk Islam dikarenakan ketidaksengajaannya mendengarkan Rasulullah membaca Al-Quran dan masih banyak lagi sahabat yang lainnya. Bercermin dari kisah-kisah sahabat Rasulullah yang masuk Islam dikarenakan mendengarkan bacaan Al-Quran, maka hendaknya juga menjadi pedoman kita dalam menyampaikan sebuah kebenaran.

Yang kedua, ini merupakan hal yang sangat penting yaitu tazqiyatun nafs (membersihkan hati), dengan membersihkan hati dari segala kotoran yang ada, maka ilmu yang kita berikan akan mudah diterima. Para ulama mengatakan salah satu cara membersihkan hati yang paling efektif adalah dengan membaca Al-Quran. Jadi sebenarnya Al-Quran inilah yang menjadi dasar kita dalam menyampaikan sebuah kebenaran. Dengan Al-Quran kita akan dapat mudah untuk menyentuh hati obyek dakwah kita, ini menjadi point penting dalam seni menyentuh hati.

Berikutnya yang terakhir adalah ta’lim, ta’lim menjadi sebuah keniscayaan dalam proses berdakwah, setelah hati bisa tersentuh dan bersih dari segala macam penyakit-penyakit hati, maka nasehat apapun yang masuk ke dalam hati akan mudah diterima dengan baik. Proses ta’lim tidak hanya sekedar transfer materi, tapi bagaimana ruh dari materi-materi yang disampaikan itu bisa mengubah pemikiran dan hidup seseorang menjadi lebih baik.

Jadi sahabatku fillah, menyentuh hati lebih diutamakan sebelum memberi nasehat, membersihkan hati dari segala kotoran penyakit hati lebih diprioriaskan sebelum memberikan saran kepada obyek dakwah kita. Wallahu ‘alam bi showab.

H.Mustafa Semrani

H.Mustafa Semrani

M-02.indd

Manfaat wudhu sebelum tidur Oleh H.Mustafa Semrani

Memang ini kedengarannya sepele.Tapi jangan anggap enteng soal ini, pasalnya nabi senantiasa wudhu sebelu tidur.berwudhu,disamping bernilai ibadah juga bermanfaat besar bagi kesehatan .

Peneliti dari Universitas Alexsandria ,dr musthafa syahatah ,yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas THT, menyebutkan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu.

Dengan ber-istisnaq (menghirup air dalam hidung) misalnya kita dapat mencegah timbulnya penyakit dalam hidung. Dengan mencuci kedua tangan ,kita dapat menjaga kebersihan tangan. Kita juga bisa menjaga kebersihan kulit wajah bila kita rajin berwudhu. Selain itu,kita juga bisa menjaga kebersihan daun telinga dan telapak kaki kita, artinya dengan sering berwudhu kita dapat menjaga kesehatan tubuh kita.

Lalu ,bagaimana jika berwudhu dilakukan sebelum tidur ? Nah,para pakar kesehatan di dunia senantiasa menganjurkan agar kita mencuci kaki mulut dan muka sebelum tidur. Bahkan ,sejumlah pakar kecantikan memproduki alat kecantikan agar dapat menjaga kesehatan kulit muka.

Di samping itu tentunya anjuran untuk berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi. Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan suci,berarti ai dekat dengan Allah. Karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)

Hal ini juga ditulis dalam kitab tanqih al-Qand al-Hatsis karangan syekh muhamad bin umar an-nawawi al-mantany. Dari umar bin harits bahwa nabi bersabda :“barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu ,maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi allah.
Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa berwudhu sebelu tidur merupakan anjuran nabi yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah.

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur

Pertama, merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Mungkin tidak terlalu banyak penjelasan. Bisa dibuktikan dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan umat muslim melakukan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendorkan otot-otot yang kaku karna lelahnya dalam beraktifitas. Sangat diambil dampak positifnya bahwa jika seseorang itu telah melakukan wudhu, maka pikiran kita akan terasa rileks. Badan tidak akan terasa capek.

Kedua, mencerahkan kulit wajah. Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena kinerja wudhu ini menghilangkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang menempel pada kulit wajah kita akan senantiasa hilang dan tentunya wajah kita menjadi cerah dan bersih.

Ketiga, didoakan malaikat. Dalam sabda Beliau yang disinggung pada bagian atas, malaikat akan senantiasa memberikan do’a perlindungan kepada umat muslim yang senantiasa wudhu sebelum tidur. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.

Fenomena Meninggal Dunia Saat Tidur Dalam Sunnah

Jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan bimbingan dalam tidur agar tidak menimbulkan bahaya, di antaranya tidur sambil miring ke kanan, tidak tidur sambil tengkurap.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Pernah suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang tidur tengkurap di atas perutnya, lalu beliau menendangnya dengan kakinya seraya bersabda,

“Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang tidak disukai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Sesungguhnya sebab kematian itu bermacam-macam, namun kematian tetaplah satu. Selain Sleep Apnea masih ada sebab lainnya yang menjadi media datangnya kematian. Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tips terbaik bagi umatnya dalam menghadapi kematian yang datangnya tak terduga ini.

Disebutkan dalam Shahihain, dari sabahat al-Bara’ bin Azib radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya;

“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.” (HR. Bukahri dan Muslim).

Dalam menjelaskan faidah dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, Al-Hafidz Ibnul Hajar menyebutkan hikmahnya, di antaranya yaitu: Agar dia tidur pada malam itu dalam keadaan suci supaya ketika kematian menjemputnya dia dalam keadaan yang sempurna. Dari sini diambil kesimpulan dianjurkannya untuk bersiap diri untuk menghadapi kematian dengan menjaga kebersihan (kesucian) hati karena kesucian hati jauh lebih penting daripada kesucian badan.

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan tiga hikmah berwudlu sebelum tidur (yang maksudnya tidur dalam keadaan suci). Salah satunya adalah khawatir kalau dia meninggal pada malam tersebut.

Abdul Razak mengeluarkan sebuah atsar dari Mujahid dengan sanad yang kuat, Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata,

“Janganlah engkau tidur kecuali dalam kondisi berwudlu (suci), karena arwah akan dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat dia dicabut.”

H.Mustafa Semrani

H.Mustafa Semrani

ff

Akhlak yg Baik Oleh H.Mustafa

Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mubarak tentang pengertian Husnul Khuluq, ia mengatakan, wajah yang cerah, mengerahkan kebaikan, dan mencegah bahaya.

Urgensi Akhlak yang Baik:

Jangan remehkan soal peneguhan akhlak. Hati sekeras batu milik para kafir Quraisy pun dapat luluh dengan akhlak mulia.

Karena Islam bukan sekadar tujuan tapi juga cara. Artinya kalau kita mempunyai cita-cita menegakkan Islam maka tidak ada cara lain untuk mencapai kecuali dengan cara (akhlak) Islam. Hal ini juga diisyaratkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang keluar dari rumah-rumah mereka dengan congkak dan ingin dilihat oleh manusia dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah.” (QS. Al-Anfal: 47)

Orang-orang kafir, sekalipun membangkang dan bersikeras memerangi Rasulullah SAW, namun mereka tidak kuasa menampik kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mengapa?

Apa –selain faktor hidayah dari Allah SWT- yang membuat hati banyak orang yang semula lebih keras dari batu, bisa tiba-tiba luluh, dan tak berdaya selain tunduk dan pasrah kepada seruan Rasulullah SAW? Jawabannya adalah karena Islam adalah kebenaran mutlak yang pasti sesuai dengan fitrah manusia. Namun ada faktor lain yang menempati posisi amat bermakna untuk membuat seseorang tersentuh fitrahnya yakni: akhlak.

Keindahan akhlak yang ditampilkan Rasulullah saw telah membungkam segala hujjah orang yang mendustakan Rasulullah SAW. Karenanya hal yang paling mungkin mereka tuduhkan kepada Rasulullah SAW adalah bahwa beliau seorang tukang sihir atau berpenyakit gila. Meski akhirnya tuduhan itu tak dapat juga mereka buktikan.

Karena itu, semangat menegakkan kebenaran (baca: syari’at Islam) bukan alasan untuk mengabaikan akhlak Islami. Bahkan justeru semangat itu seharusnya mendorong untuk meningkatkan kualitas akhlak.

Prinsip itu berlaku universal dan dipraktekkan oleh para nabi sebelum Rasulullah SAW. Lihat, bagaimana Allah SWT mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadapi Firaun. Bukan untuk semata-mata menawarkan kebenaran, namun untuk menawarkan kebenaran dengan memakai akhlak. “Pergilah kamu berdua kepada Firaun sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (kepada Allah).” (QS. Thaha: 43-44)

Rasulullah SAW pun mendapat perintah yang sama. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan tidaklah sama antara kebaikan dengan keburukan. Maka tolaklah (keburukan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dengan dia ada permusuhan menjadi seolah-olah telah menjadi teman setia.” (QS. Fushshilat: 33-34)

Kedua ayat ini menunjukkan akhlak dalam berdakwah dengan segala tantangannya sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang mau menerima kebenaran atau tidak, menjadi tunduk hatinya atau semakin congkak, menjadi suadara seiman atau semakin menjadi-jadi permusuhannya.

Karenanya, dakwah yang penuh cacian dan makian, kepada siapa pun: penguasa, kelompok lain yang tidak sehaluan, orang yang tidak mau mengikuti seruan dakwahnya adalah bertentangan dengan akhlak Islam. Selain tidak sesuai dengan esensi kebenaran itu sendiri cacian dan makian itu tidak akan menambah keimanan dan amal. Alih-alih meningkatkan pemahaman dan kesiapan untuk berjuang, bertambah justeru penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, kebencian, dan kesumpekan dada.

Langkah menuju akhlak yang baik:

Dilakukan dengan dua langkah secara bersamaan. Langkah pertama adalah takhliyah, yakni membesihkan diri dari segala akhlak yang buruk. Dan langkah kedua adalah tahliyah menghiasi diri dengan akhlak yang baik. Dalam konteks perjuangan menghadapi tantangan, Allah menyebut dua sifat buruk secara khusus. Yakni al-bathar (congkak) dan riya (beramal demi untuk dilihat manusia). Mengapa dua penyakit hati itu disebut secara khusus?

Kesombongan akan melemahkan posisi dai dalam menghadapi tantangan, baik yang muncul karena sebab kelebihan ilmu, wawasan, atau informasi. Ini sering mengakibatkan dirinya mudah mengambil kesimpulan, keputusan, atau bahkan memvonis keadaan. Jelas cara ini sangat berbahaya. Karena dengan cara seperti itu seorang da’i bisa terjebak dalam pandangan yang over istimasi tentang dirinya dan sebaliknya under estimasi tentang orang lain dan keadaan yang dihadapinya. Ini pernah menjadi catatan pahit kaum muslimin di masa lalu, sebagaimana Allah rekam dalam ayat-Nya:

“Sungguh Allah telah menolong kalian di banyak tempat dan pada hari (perang) Hunain, saat jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga tapi ternyata tidak berguna sama sekali bagi kalian (jumlah tersebut), dan bumi kalian rasakan menjadi sempit padahal ia luas, kemudian kalian berpaling dengan membelakang. Kemudian Allah menurunkan ketenteraman-Nya atas rasul-Nya dan atas orang-orang beriman dan menurunkan bala tentara yang kalian tidak dapat melihatnya, dan menyiksa orang-orang kafir. Dan itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25-26)

Kesombongan juga bisa muncul dalam bentuk mengangkat diri sendiri melebihi kapasitas sebenarnya. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada kemenangan yang dicapai oleh kesendirian. Kemenangan Islam adalah kemenangan kolektif dan dihasilkan dari amal jama’i yang segala keputusannya lahir dari musyawarah (syura).

Riya juga menempati posisi penting dalam faktor-faktor penyebab kegagalan dakwah dan perjuangan Islam. Sebelum riya itu berdampak buruk dalam kaitan interkasi sesama manusia, ia terlebih dahulu merupakan penyakit yang dimurka Allah SWT sampai-sampai Rasulullah SAW menjelaskan bahwa alih-alih mendapatkan pahala, orang yang beramal dengan riya lebih layak menjadi penghuni neraka. Karena memang orang yang riya bukan mencari ridha Allah dengan amalnya. Atau mencari ridha Allah sambil mencari pujian manusia. Dan Allah tidak suka cara seperti itu. Lalu, bagaimana bisa mendapatkan pertolongan Allah SWT jika dalam beramal yang diinginkan adalah keridhaan manusia?

Sombong dan riya ini merupakan induk dari akhlak buruk yang akan memunculkan perilaku buruk lainnya. Karena itu dapat dimengerti jika larangan sombong dan riya kemudian diikuti larangan menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah. Apa maksudnya?

Bukan dakwah dan perjuangannya, tentu, yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, melainkan sifat dan akhlak buruk yang menyertai dakwah dan perjuangan itu. Akhlak buruk bisa menyebabkan orang lari dari dakwah dan bahkan dari Islam itu sendiri. Dan jika ada orang yang lari dari Islam gara-gara kita berakhlak buruk kita dianggap telah menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah. Maka, sifat-sifat buruk ini perlu dibersihkan dari diri kita. Namun tidak cukup dengan hanya takhliyah, tapi juga dihiasi dengan sikap tahliyah.

Sikap berikutnya adalah tahliyah yakni menghiasi diri dengan segala akhlak terpuji. Dan Rasulullah SAW telah melakukan keduanya (takhliyah dan tahliyah), yang karenanya Allah SWT memujinya, “Dan engkau sungguh memiliki akhlak yang agung.” Allah berfirman,

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Anas RA berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا

“Adalah Rasulullah SAW itu orang yang paling baik akhlaknya.” (Muttafaq Alaihi).

Macam-macam sikap tahliyah, diantaranya;

1. Berinfak, menahan marah, memaafkan kesalahan orang lain meskipun kita ampu membalasnya. Allah berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134).

Allah berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134).

Abu Huraiah RA meriwayatkan,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

“Seseorang berkata kepada Rasulullah saw, ‘Nasihati aku!’ Beliau bersabda, ‘Jangan marah!’ beliau mengulang beberapa kali, ‘Jangan marah!” (Bukhari).

2. Menyuruh kepada yang m’aruf, berpaling dari orang jahil;

Allah berfirman,

“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199).

3. Bersikap sabar;

Allah berfirman,

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar”. (QS. Fushshilat: 34-35).

Allah berfiman,

“Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, Sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. As-Syura: 43).

4. Sopan santun dan telaten

Ibnu Abbas RA berkata,

وَقَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلأَشَجّ عَبْد الْقَيْس إِنَّ فِيك لَخَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْم وَالْأَنَاةُ

“Rasulullah saw berkata kepada Asyaj Abdul Qais, ‘Pada dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah, yaitu sopan santun dan telaten.” (Muslim).

Aisyah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah mencintai sikap santun dalam segala hal.” (Muttafaq Alaihi).

5. Mempermudah dan tidak mempersulit;

Abu Hurairah RA meriwayatkan,

أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَثَارَ إِلَيْهِ النَّاسُ ليَقَعُوا بِهِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَأَهْرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ أَوْ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“Seorang Arab Baduwi kencing di masjid dan orang-orang (sahabat) bangkit untuk menghentikannya. Nabi SAW bersabda, ‘Biarkan dia dan siramlah seember air pada kencingnya atau seember besar air. Karena kalian diutus untuk mempermudah dan tidak diutus untuk mempersulit.” (HR. Bukhari).

Anas ra meriwayatkan dari Nabi SAW beliau bersabda,

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan persulit. Berilah berita gembira dan jangan kalian buat mereka berlari.” (Muttafaq Alaihi).

Jarir bin Abdullah RA berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ

“Barangsiapa diharamkan memiliki kelembutan maka ia diharamkan dari kebaikan.” (HR. Muslim).

6. Berbuat ihsan dalam segala hal

Abu Ya’la Syaddad bin Aus

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Allah menentukan ihsan dalam segala hal, jika kalian membunuh, baiklah dalam membunuh, jika kalian menyembelih, baiklah dalam menyembelih. Hendaknya salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menyamankan binatang sembelihannya.” (HR. Muslim).

Aisyah ra berkata,

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidaklah Rasulullah diberi pilihan terhadap dua hal kecuali beliau memilih yang paling mudah selama tidak dasa. Jika ia dosa, beliau adalah orang yang paling jauh. Rasulullah SAW tidak pernah marah kepada sesuatu karena dirinya kecuali jika kehormatan Allah dinodai, maka beliau akan marah karena Allah.” (Muttafaq Alaihi).

Rasulullah Saw memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari bagaimana berakhlak yang baik. Seperti penuturan para sabahat di bawah ini;

Anas berkata;

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَا مَسِسْتُ حَرِيرًا وَلَا دِيبَاجًا أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا شَمِمْتُ رِيحًا قَطُّ أَوْ عَرْفًا قَطُّ أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ أَوْ عَرْفِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَقَدْ خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم عَشْرَ سِنِيْنَ فَمَا قَالَ لِي قَطُّ أُفٍّ، وَلاَ قاَلَ لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَهُ؟ وَلاَ لِشَيْءٍ لَمْ أََفْعَلْهُ: أَلاَ فَعَلْتَ كَذَا؟

“Aku tidak pernah memegang kain sutra maupun brokat yang lebih halus daripada telapak tangan Raslullah SAW dan aku tidak pernah mencium bau yang lebih harum daripada bau Rasulullah SAW. Aku telah melayani Rasulullah SAW selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkata, ‘uf’ kepadaku dan tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang aku kerjakan, ‘mengapa kamu lakukan itu,’ serta sesuatu yang tidak aku kerjakan, ‘mengapa kamu tidak lakukan itu?” (Muttafaq Alaihi).

As-Sha’bu bin Jattsamah RA berkata,

أََهْدَيْتُ إلى ِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا وَحْشِيًّا فَرَدَّهُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَلَمَّا أَنْ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا فِي وَجْهِي قَالَ إِنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكَ إِلَّا أَنَّا حُرُمٌ

“Aku memberi hadiah keledai liar kepada Rasulullah saw namun beliau mengembalikannya. Ketika Rasulullah melihat perubahan pada wajahku beliau bersabda, ‘Kami tidak mengembalikannya kepadamu kecuali karena hal itun haram (bagi kami).” (Muttafaq Alaihi).

Nawwas bin Sim’an ra berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebajikan dan dosa. Beliau bersabda, ‘Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di dalam dada dan engkau tidak suka jika dilihat orang.” (Muttafaq Alaihi).

Abdullah bin Amr bin Ash berkata,

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

“Rasulullah itu tidak ngelantur berbicara dan bukan pembual. Beliau pernah bersabda, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”

Abu Darda’ ra meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda,

أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat adalah akhlak yang baik. Dan Allah itu sangat membenci pembual lagi berkata jorok” (Tirmidzi, hadits shahih).

Keutamaan Akhlak yang baik

Abu Hurairah RA meriwayatkan,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِ يبٌ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ هُوَ ابْنُ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَوْدِيُّ

“Rasulullah SAW ditanya tentang kebanyakan hal yang memasukkan orang ke surga. Beliau menjawab, takwa kepada Allah dan husnul khuluq. Beliau ditanya lagi tentang kebanyakan hal yang memasukkan orang ke dalam neraka dan beliau menjawab, mulut dan kemaluan.” (Tirmidzi, hadits shahih).

Abu Hurairah RA meriwayatkan lagi,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang-orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi, hadits shahih).

Aisyah RA berkata,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin, dengan kebaikan akhlaknya, dapat mencapai derajat orang yang berpuasa dan qiyamul lail.” (HR. Abu Dawud).

Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dan memberikan, melalui kelembutan, sesuatu yang tidak diberikan melalui kekerasan, dan yang tidak diberikan melalui yang lain.” (HR. Muslim).

Aisyah ra berkata, Nabi SAW bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu kecuali menghiasinya dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali memperburuknya.” (HR. Muslim).

Abu Umamah Al-Bahili RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku adalah penjamin sebuah rumah di sekitar taman (surga) bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar, penjamin rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun ia bercanda, juga menjadi penjamin sebuah rumah di surga paling atas bagi orang yang memiliki husnul khuluq.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih).

Jabir RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ

“Yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat denganku tempat duduknya pada hari Kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya. Yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh tempat duduknya di hari Kiamat adalah yang banyak berbicara, yang suka usil, dan orang-orang Mutafaihiq (yang pongah dengan ucapannya).” Mereka bertanya, “Siapakah orang-orang Mutafaihiq itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang sombong.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan).

Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah SAW bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ

“Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang diharamkan masuk neraka atau neraka diharamkan terhadap setiap orang yang gampang dekat, lembut perangai, dan mudah.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan).

BHGVFD

Doa mohon dikaruniai akhlak mulia dan dijauhkan dari akhlak tercela Oleh H.Mustafa Semrani

The-Importance-of-DUA

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya saat melaksanakan sholat tahajud di waktu malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca doa istiftah sebagai berikut:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

MNGBFVDS

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri kepada-Nya dan aku bukanlah dari golongan kaum musryik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, demikianlah aku diperintah dan aku termasuk golongan orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Mahasuci Engkau dan sepenuh pujian kepada-Mu.

HGTRFDE

Ya Allah, Engkau adalah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku telah mengaku dosaku. Maka ampunilah seluruh dosaku, sebab tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.

JHGTFD

Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau.

BGVC

Jauhkanlah aku dari akhlak yang paling buruk, karena tidak ada yang bisa menjauhkan dari akhlak yang paling buruk selain Engkau.

BVFD

Aku penuhi panggilan-Mu dan aku ikuti perintah-Mu. Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu dan keburukan tidak dinisbahkan kepada-Mu.

7652432738_6515d5f958_z

Aku mendapat taufik karena-Mu dan aku bersandar kepada-Mu.

MNGBFV

Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau. Aku meminta ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.” (HR. Muslim no. 771, Abu Daud no. 760, Tirmidzi no. 3421, dan An-Nasai no. 897)

yt65

Apa Kontribusimu Dalam Dakwah? Oleh H.Mustafa Semrani

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

bgvfdbgvfd

Dalam perjalanan dakwah ini, tak jarang kekecewan, kemarahan, ketidaksesuaian menghantui sepanjang perjalanan. Lelah, ingin beristirahat, hingga akhirnya mundur seringkali menjadi opsi pilihan yang dianggap lebih bijak untuk diambil.

Hanya saja, saat lelah itu alangkah baiknya kita introspeksi diri jauh, sangat jauh dan mendalam ke dalam diri kita, “Apa yang telah kita persembahkan untuk dakwah ini? Sudah sejauh apa?”

543

Kita berpikir tentang hak kita untuk diperhatikan, dipedulikan tapi tak ada kewajiban yang telah kita lakukan. Merasa paling lelah, paling terluka, paling tersakiti, adalah pembenaran yang biasanya telah kita lakukan. Namun apa yang sudah kita berikan?

Ketika saya bertanya lebih dalam ke dalam diri saya, tiba-tiba saya teringat pertama kali ketika menjerumuskan diri ke dalam jalan ini.

bgfd

Ketika kita memasuki dunia organisasi, apa yang telah kita persembahkan? Tidakkah organisasi dakwah ini menjadi lebih baik? Atau sebaliknya? Semakin buruk, semakin berantakan? Apa yang telah kita lakukan? Sudahkah kita berkontribusi maksimal di dalamnya? atau jangan-jangan untuk taat pada etika saja enggan, suudzon selalu ditinggikan, hadir syuro sekenanya, berkumpul yang dibahas hanya mengenai curhatan pribadi tanpa sama sekali membahas umat, akademik berantakan. Lalu apa yang telah kita persembahkan?

yt5

Ketika kita memilih dalam dunia akademik, berharap kita bisa mengembangan dakwah dalam bidang akademik, namun prestasi apa yang telah kita persembahkan? Hanya sekadar mempertahankan nilai IP kah? Itupun nilai masih standar, hanya nilai 3 atau bisa jadi di bawah itu, lalu apa bedanya dengan mereka yang aktif dalam organisasi? Sudahkah kita membuat sekeliling kita bangga bahwa kita telah mampu berdakwah melalui jalur akademik? Lantas, apa yang telah kita persembahkan?

jnhgtrhg

Ketika kita memilih untuk aktif dalam dunia yang lainnya? Apa yang telah kita persembahkan? apa yang telah kita lakukan untuk kemajuan Islam? Adakah? Atau jangan-jangan tidak ada, atau bahkan tidak terpikirkan. Akhirnya kita tahu, dakwah menjadi sebuah kalimat sempit yang akhirnya membuat orang lain utopis dengan keberadaan dakwah. Naudzubillah mindzalik.

Saya terkenang dengan perkataan seorang ustadz di zaman silam kurang lebih redaksinya seperti ini “Jika di dalam lingkunganmu tidak ditemukan keteladanan, maka jangan-jangan Allah telah menempatkanmu di sana untuk menjadi teladan.”

uyt

“…Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Kita seringkali bertanya, apa kontribusi antum dalam dakwah? Apa yang telah antum berikan untuk dakwah? Lalu bagaimana jika pertanyaan itu kita balik saat ini, kita arahkan seluruh jari mengarah ke diri sendiri. Apa kontribusi ana dalam dakwah? Apa yang telah ana berikan untuk dakwah?

dakwah

Hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan, bukan seberapa penting kita ada di mana, tapi sebanyak apa kontribusi yang telah kita lakukan, yang telah kita persembahkan.

Lalu sudah sampai manakah kontribusi kita saat ini?

Jadikan kehidupan kita menjadi lebih berwarna, dengan banyak memberikan kebermanfaatan untuk sekeliling kita.

01-arrahman

Tafaqquh Fid Din Oleh H.Mustafa Semrani

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (At-Taubah: 122)

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan diberikan pemahaman mendalam pada masalah agama. Sesungguhnya ilmu diraih dengan cara belajar” (HR Bukhari dan Muslim).

gr

Tafaqquh Fid Diin dalam jamaah dakwah adalah suatu keniscayaan. Ayat 122 dari surat At-Taubah ini membicarakan kasus khusus dari pembahasan umum yang disebutkan dalam surat At-Taubah. Salah satu pembahasan umum dalam surat At-Taubah adalah tentang perang, namun walaupun secara umum kondisi umat Islam sedang diarahkan untuk berperang, tetapi ada satu kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali oleh jamaah Islam, yaitu Tafaqquh Fid Diin.

224057_106380372783504_5599285_n

Ayat tersebut mengisyaratkan betapa urgennya tafaqquh fid diin. Walaupun jamaah dakwah sudah memasuki fase pengelolaan negara dan salah satu aktivitasnya adalah memerangi musuh, tetapi harus ada sekelompok orang-orang beriman yang tetap mendalami agama untuk mengajar umat Islam lainnya. Sedangkan hadits di atas mengisyaratkan keutamaan orang-orang yang belajar dan bertafaqquh fid diin. Mereka adalah golongan orang-orang yang mendapat kebaikan dari Allah.

bgfre

Dalam gerakan Islam modern, Imam Hasan Al Banna telah meletakkan dakwahnya pada 20 prinsip pemahaman yang kokoh dan harus diperhatikan oleh setiap anggotanya. 20 Prinsip ini merupakan rambu-rambu pemahaman yang sangat penting dikuasai oleh kader dakwah, jika mereka ingin tetap berada di jalan yang benar. Jika kita melihat pada prinsip pertama yang membicarakan tentang syumuliyatul Islam. Maka kita mendapatkan kesimpulan bahwa setiap gerakan dakwah, ormas Islam, lembaga keislaman dan umat Islam secara keseluruhan harus mengacu pada syumuliyatul Islam ini.

reew32

Imam Hasan Al Banna sangat indah mengurai tentang syumuliyatul Islam, beliau berkata, ‘Islam adalah sistem hidup yang sempurna mencakup semua aspek kehidupan. Islam adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat. Akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Pemikiran dan undang-undang atau ilmu dan peradilan. Materi dan kekayaan atau usaha dan penghasilan. Jihad dan dakwah atau tentara dan ideologi, sebagaimana Islam adalah aqidah yang bersih dan ibadah yang benar.

bvcx3.jpg

Sekarang kita mendapatkan masalah yang besar di tengah umat Islam, yaitu masalah pemahaman tentang keislaman. Kita mendapatkan bahwa sebagian besar umat dan ormas Islam masih memiliki pemahaman yang parsial tentang Islam. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan serbuan pemikiran (Al-Gazwu Al-Fikri) bangsa-bangsa barat, sehingga dari pemahaman yang parsial tersebut, sebagiannya terkena virus pemahaman yang sekuler. Mereka memisahkan antara agama dan kehidupan, agama hanya dimasukkan dalam kegiatan ritual, seremonial dan sosial sedangkan kehidupan secara umum jauh dari nilai-nilai agama. Dan sebagian umat Islam dan lembaga Islam lainnya ada yang memiliki pemahaman yang lebih parah dari itu, yaitu sesat dan menyimpang. Realitas ini harus menjadi tantangan bagi kader dakwah untuk terus berdakwah dengan membawa pemahaman keislaman yang benar dan menyeluruh.

gre

Secara umum tingkat kesalahan pemahaman, penyimpangan dan kesesatan pada ajaran Islam bertingkat-tingkat. Bahkan, ada yang sudah keluar dari ajaran Islam, seperti Ahmadiyah. Ada juga yang sesat dan jauh dari ajaran Islam, seperti Syiah.

gfrerew

Terdapat kelompok yang sangat mudah melakukan teror dan pembunuhan, bahkan terhadap kaum muslimin sekalipun. Sedangkan yang lain ada yang merasa dirinya mendapat wahyu dari malaikat Jibril kemudian mengajak banyak pengikut. Sebagian yang lain menganggap bahwa umat Islam yang bukan kelompoknya adalah najis, sehingga ketika masuk masjid, harus dicuci. Gerakan Islam lain ada yang hanya sibuk berwacana tentang penegakan khilafah Islam namun tidak peduli dengan realita politik kontemporer. Jamaah Islam tertentu menganggap jamaahnya paling benar, dan menuduh yang lain ahlu bid’ah dan sesat dan banyak lagi. Oleh karena itu, di sinilah letak pentingnya tafaqquh fid diin, karena sebagaimana diungkapkan dalam pepatah, orang yang tidak memiliki sesuatu, maka tidak akan dapat memberikan sesuatu.

43

Sementara di kalangan internal gerakan dakwah, kader semakin bertambah, tanggung jawab semakin banyak dan peran semakin luas, maka kegiatan tafaqquh diin harus sejalan dengan perkembangan dakwah. Jika tidak, maka akan membahayakan dakwah itu sendiri, karena jamaah dakwah ini hanya dihuni oleh sejumlah anggota yang tidak matang dalam tarbiyah, penguasaan tsaqafah Islam yang minim dan tidak dapat melaksanakan tugas-tugas dakwah.

34rf

Ketika para pemuda, para aktivis Islam dan para dai tidak mau melakukan tafaqquh fid diin, sedangkan para ulama secara bertahap meninggal, maka hilanglah pewarisan ilmu-ilmu Islam dan yang terjadi munculnya pemimpin yang bodoh yang menyesatkan umat. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ مِنْ النَّاسِ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ فَيَرْفَعُ الْعِلْمَ مَعَهُمْ وَيُبْقِي فِي النَّاسِ رُءُوسًا جُهَّالًا يُفْتُونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ

Dari Urwan bih Zubair berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dari manusia secara mendadak, tetapi dengan mewafatkan ulama, maka ilmu terangkat bersama wafatnya ulama. Dan tersisa di kalangan manusia pemimpin yang bodoh, berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan” (HR Muslim)

vcdxsdsa

Sedangkan di luar sana, suasananya semakin tidak kondusif, para tokoh-tokoh yang menyimpang, sesat dan anti Islam sudah bergerak maju menguasai panggung-panggung media, pendidikan, ekonomi, politik dan kekuasaan. Gerakan pemurtadan dan sekulerisasi begitu sangat membahayakan harus segera dibendung oleh gerakan dakwah dan gerakan penyelamatan umat.

dsadsa

Sehingga tafaqquh fid diin sudah merupakan keniscayaan yang mendesak dan segera untuk diwujudkan secara terencana dan baik. Pada tataran praktis, proses tafaqquh fid diin di era modern sekarang, ditempuh melalui pendidikan formal. Dan dapat dilakukan dengan dua cara; pertama, yaitu melakukan tarbiyah dan dakwah secara masif dan terus-menerus di lembaga-lembaga pendidikan yang ada, baik pada tingkat dasar, menengah maupun tinggi. Kedua, jamaah dakwah harus memiliki lembaga pendidikan formal baik sekolah maupun pesantren, baik pendidikan formal tingkat dasar dan menengah maupun tingkat tinggi. Dan semua lembaga pendidikan formal tersebut harus memadai dan mencukupi sesuai dengan kebutuhan dakwah dan umat.

rrrrr

 

Pada tingkat dasar, kompetensinya adalah dasar-dasar Ilmu Islam, seperti Al-Quran baik tahsin, tahfizh maupun tafsir, bahasa Arab dan dasar-dasar ilmu Syariah. Sedangkan pada tingkat menengah masih melanjutkan penguasaan Al-Quran, bahasa Arab dan ilmu-ilmu Syariah. Sedangkan pada tinggi yaitu di perguruan tinggi, maka tafaqquh fid diin, dilanjutkan pada penguasaan spesialisasi ilmu-ilmu Islam, seperti Al-Quran dan ulumnya, Hadits dan ulumnya, Syariah Islam, Pendidikan Islam, Ekonomi Islam, Manajemen Islam, Bahasa Arab dan Bahasa Internasional, Komunikasi dan Dakwah, Politik Islam, Sosial Islam, Sains dan Teknologi yang berbasis Islam, kedokteran Islam dll.

gfre

Di samping proyek tafaqquh fid diin, maka proyek tarbiyah, dakwah dan nasyrul fikrah kepada umat secara umum juga harus dilakukan secara terus-menerus dan masif, sehingga opini Islam, tadayyun sya’bi (semangat masa melaksanakan agama) dan shibghah Islamiyah (pewarnaan nilai Islam) semakin menguat dalam tubuh umat Islam.

ff

Pada akhirnya tafaqquh fid diin merupakan sarana yang sangat mendasar dan penting bagi proses pembangunan peradaban Islam menuju kemuliaan Islam dan umat Islam di muka bumi. Sebagaimana firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mujadalah: 11).

Wallahu a’lam.