r43r43

Doa berangkat ke masjid Oleh H.Mustafa Semrani

Masjid adalah rumah Allah Ta’ala. Masjid adalah salah satu tempat yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Di masjidlah kaum muslimin menunaikan shalat wajib lima waktu dan shalat Jum’at secara berjama’ah. Di masjidlah kaum muslimin menunaikan shalat sunnah tarawih dan witir secara berjama’ah. Di masjidlah kaum muslimin menimba ilmu agama dan menghadiri majlis taklim. Di masjidlah kaum muslimin merasakan kesetaraan derajat dan persaudaraan yang sesungguhnya.The-Importance-of-DUA

Masjid adalah tempat ibadah, ilmu dan petunjuk hidup. Maka kepergiaan seorang muslim ke masjid hendaknya juga dilandasi oleh niatan untuk mencari cahaya petunjuk. Dalam hadits tentang kisah bermalamnya Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu ‘anha yang juga merupakan istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, dijelaskan bahwa saat berangkat ke masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam biasa membaca doa berikut ini:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku dan pada lisanku, jadikanlah cahaya dalam pendengaranku, jadikanlah cahaya pada penglihatanku, jadikanlah cahaya dari arah belakangku dan dari arah depanku, jadikanlah cahaya dari arah atasku dan dari arah bawahku, dan berilah aku cahaya!”
(HR. Bukhari no. 6316 dan Muslim no. 763, dengan lafal Muslim)istiqamah_thumb

 

Melbourne terror suspect shot dead after repeatedly stabbing police

Victoria Police believe the terror suspect shot dead in yesterday’s Melbourne police station attack had planned to behead officers and post the images online, Fairfax Media reports.

The teen, identified as Narre Warren teenager Numan Haider, used a small knife to attack two police officers and was reportedly found to be carrying a second knife and an Islamic State flag when later searched.fghjk

Mr Haider’s Facebook page reveals photographs of himself holding an Islamic flag with abusive posts directed at the AFP and ASIO.

“Lets not put the focus on other things. The main message I’m sending with these statuses and photos is to the dogs AFP and ASIO who are declaring war on Islam and Muslims,” he wrote.

Victoria Police has confirmed they first came into contact with Mr Haider three months ago.

It has also emerged that the alleged attacker had his passport revoked a week ago after authorities identified his alleged terror activities had “escalated recently”.

The Narre Warren man was invited to meet the two officers at the Endeavour Hills police station on Heatherton Road in order to discuss recent “disturbing behaviour”.

After travelling to the station alone, a confrontation between the man and the Joint Counter Terrorism Team officers erupted at about 7.45pm.

 

He was not being placed under arrest and attended of his own free will, Victoria Police Assistant Commissioner Luke Cornelius said.

Mr Cornelius said the 18-year-old had pulled out an “edged weapon” and attacked the officers.

Chief Commissioner Ken Lay revealed the Victoria Police officer had his wrists slashed in the alleged attack, while the AFP officer sustained stab wounds to his neck, stomach and head.

The AFP officer underwent emergency surgery at The Alfred Hospital overnight and is expected to undergo more surgery today.

The Victoria Police officer was taken to Dandenong Hospital and will go into surgery later today.

Both officers are in a serious but stable condition.

Witnesses told Fairfax Media the accused had been shouting insults about Prime Minister Tony Abbott and the federal government in the moments leading up to his death.

The prime minister released a video message from the US, where he is attending a UN Security Council meeting, saying he had spoken with the wives of the two injured officers.

“I have been briefed on a nasty incident in Melbourne overnight,” Mr Abbott said.

September 24, 2014: Prime Minister Tony Abbott has released a statement addressing the fatal shooting of a teenaged Melbourne terror suspect.

“The suspect did mount a fierce attack on both officers, one of them was very seriously hurt.

“The other officer fired on the suspect who is now dead.”

Mr Abbott also said the officers had acted “professionally” in the line of duty.

“Obviously this indicates there are people in our community who are capable of very extreme acts,” he said.

“It also indicates that the police will be constantly vigilant to protect us against people who will do us harm.”

After the shooting a police bomb-disposal unit was called to the scene, inspecting the man’s car and the police station.

While the man had not made bomb threats against police, an AFP spokesman said police would go to “exceptional lengths” to ensure the scene was safe.

However, police said it appeared to be an isolated incident and the man had acted alone.

It is estimated about 60 Australians are fighting overseas for terror groups in Iraq and Syria, with an estimated support network of about 100 more Australians living at home.

Last week, hundreds of Australian police executed 30 search warrants to dismantle an alleged ISIL plot to abduct and behead everyday citizens.

Australia’s terror alert level has been raised this month after intelligence agencies captured chatter pointing to a domestic attack.

 

cropped-bhgvfd.jpg

Rahmat Allah meliputi segala sesuatu Oleh H.Mustafa

Alangkah bahagianya menjadi seorang muslim mukmin karena seluruh hidupnya dalam naungan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Sedikitnya, ada tiga ayat Al-Qur’an yang menginfokan bahwa Allah mewajibkan dirinya merahmati hamba-hamba pilihan-Nya. Yaitu Qs Al-Ana’am [6]: 12 dan 54:

Allah berfirman:

… كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ …

“… Allah telah mewajibkan diri-Nya untuk berbelas-kasihan kepada makhluk-Nya…” [Al-Ana'am, 6: 12]

… كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ …

“… Tuhan kalian telah mewajibkan diri-Nya untuk memberikan rahmat kepada kalian…” [Al-Ana'am, 6: 54]

Dan pada Qs Al-A’raaf [7]: 156-157:

Allah berfirman:

… وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (156) الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ …

“… dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Aku akan menetapkan rahmat itu bagi mereka yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada ayat-ayat Kami.” Kami turunkan rahmat kepada para pengikut Muhammad, Rasul Allah, Nabi yang buta huruf…” [Al-A'raaf, 7: 156-157]

Oleh karena itu, mari kita menjadi mukmin yang dijamin mendapat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

r43r43

cropped-bhgvfd.jpg

Keindahan pada permulaan surat-surat Al-Qur’an Oleh H.Mustafa Semrani

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Kemu’jizatan Al-Qur’an tidak berakhir dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Kemu’jizatan Al-Qur’an tetap bisa dirasakan, dipelajari, digali dan diambil faedahnya oleh umat Islam sampai hari kiamat kelak.

Al-Qur’an memiliki berbagai aspek kemukjizatan. Susunan huruf, kata, kalimat dan ayat-ayat Al-Qur’an mengandung kemukjizatan bahasa dan sastra yang diakui oleh para sastrawan. Kesempurnaan dan keserasian aturan, hukum, perintah, larangan, undang-undang, adab dan nilai-nilai yang dikandung Al-Qur’an merupakan sebuah mukjizat tersendiri. Demikian pula pemberdayaan akal, panca indera dan ilmu pengetahuan yang dikandung oleh Al-Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang akan membawa umat manusia kepada kemajuan ilmu pengetahuan. Banyak aspek kemukjizatan lainnya yang digali oleh para ulama Islam dari Al-Qur’an.

Salah satu kemukjizatan yang disimpulkan ulama dari Al-Qur’an adalah keindahan dan keserasian susunan ayat-ayat dan surat-suratnya. Di antara contohnya adalah apa yang diuraikan oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi (wafat tahun 911 H) dalam kitabnya Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, tentang betapa Allah Ta’ala memulai permulaan surat-surat dalam Al-Qur’an dengan beraneka macam cara yang sangat indah dan menakjubkan.

Salah satu cara Allah Ta’ala memulai permulaan surat-surat dalam Al-Qur’an adalah dengan kalimat pujian bagi dzat Allah Ta’ala. Pujian kepada Allah Ta’ala tersebut diungkapkan dengan dua cara:
Pertama, mensucikan Allah Ta’ala dengan menetapkan sifat-sifat pujian bagi Allah

Cara ini bisa ditemukan dalam dua lafal, yaitu lafal tahmid dan lafal tabaaraka. Di dalam Al-Qur’an terdapat lima surat yang diawali dengan lafal tahmid bagi Allah Ta’ala dan dua surat yang diawali dengan lafal tabaaraka bagi Allah. Kelima surat yang diawali dengan tahmid tersebut adalah:

Surat 1:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah [1]: 1)

Catatan:

Para ulama Islam sepakat menyatakan bahwa surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Namun mereka berbeda pendapat mengenai ayat pertama dan ayat terakhir dari surat Al-Fatihah.

Imam Abu Hanifah dan Malik berpendapat basmalah [bismillahir rahmaanir rahiim] tidak termasuk bagian dari surat Al-Fatihah. Menurut mereka ayat pertama dari surat Al-Fatihah adalah alhamdulillah rabbil ‘alamin. Adapun ayat ketujuh dari surat Al-Fatihah adalah ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laa adh-dhaaliin. Pendapat ini didasarkan kepada hadits-hadits shahih, antara lain adalah:

عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَكُنْتُ أُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي فَقَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ { اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } ثُمَّ قَالَ لِي لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

Dari Abu Sa’id bin Mu’alla radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya sedang melaksanakan shalat di dalam masjid, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memanggilku, maka aku tidak menjawab panggilan beliau. Setelah shalat, saya mendatangi beliau dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, saya tadi sedang shalat sehingga saya tidak memenuhi panggilan Anda.’ Maka beliau bertanya: “Bukankah Allah telah berfirman ‘Penuhilah panggilan Allah dan rasul-Nya jika Dia memanggil kalian kepada perkara yang memberikan kehidupan kepada kalian?’ [QS. Al-Anfal [8]: 24]

Beliau kemudian bersabda kepadaku: “Sungguh saya akan mengajarkan kepadamu satu surat yang merupakan surat paling agung di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari dalam masjid ini.” Beliau lantas mengandeng tanganku. Ketika beliau hendak keluar dari masjid, saya pun bertanya kepada beliau: ‘Wahai Rasululullah, bukankah Anda tadi bersabda sungguh saya akan mengajarkan kepadamu satu surat yang merupakan surat paling agung di dalam Al-Qur’an?’

Maka beliau menjawab: “Itu adalah alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin [surat Al-Fatihah], yaitu tujuh ayat yang diulang-ulang [as-sab'u al-matsani] dan [surat] Al-Qur’an yang agung yang dikaruniakan kepadaku.” (HR. Bukhari no. 4474, Abu Daud no. 1457, Nasai no. 913, Ibnu Majah no. 3785 dan Ahmad no. 17905)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an [surat Al-Fatihah] niscaya shalatnya cedera [tidak sah] yaitu tidak sempurna.” Beliau mengulang sabdanya tersebut tiga kali.

Ada orang bertanya kepada Abu Hurairah: “Bagaimana jika kami shalat sebagai ma’mum di belakang imam?”

Abu Hurairah berkata: “Bacalah Ummul Qur’an di dalam dirimu sendiri, karena saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku membagi shalat [yaitu surat Al-Fatihah] menjadi dua, bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.

Jika seorang hamba membaca al-hamdu lillahi rabbil ‘alamiin, maka Allah menjawab: “Hamba-Ku memuji-Ku.”

Jika seorang hamba membaca ar-rahmaanir rahiim, maka Allah menjawab: “Hamba-Ku menyanjung-Ku.”

Jika seorang hamba membaca maaliki yaumid diin, maka Allah menjawab: “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” [Dalam riwayat yang lain: Hamba-Ku menyerahkan urusannya kepada-Ku]

Jika seorang hamba membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, maka Allah menjawab: “Ini untuk-Ku dan untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Jika seorang hamba membaca ihdina ash-shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laa adh-dhaaliin, maka Allah menjawab: “Ini untuk untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim no. 395, Abu Daud no. 821, Tirmidzi no. 2953, Nasai no. 909, Ibnu Majah no. 3784 dan Ahmad no. 7289)

Adapun imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dan Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam berpendapat bahwa ayat pertama dari surat Al-Fatihah adalah bismillahir rahmaanir rahiim, sedangkan ayat terakhir dari surat Al-Fatihah adalah shirathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laa adh-dhaaliin. Pendapat ini didasarkan kepada beberapa hadits shahih, antara lain:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَاسُئِلَتْ عَنْ قِرَاءَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً{ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa ia ditanya tentang cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca, maka ia menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menghentikan bacaannya pada tiap-tiap ayat. Beliau membaca bismillahir rahmaanir rahiim [lalu berhenti, kemudian membaca], al-hamdu lillahi rabbil ‘alamiin, [lalu berhenti, kemudian membaca] ar-rahmaanir rahiim, [lalu berhenti, kemudian membaca] maaliki yaumid diin.” (HR. Abu Daud no. 401, Tirmidzi no. 2927, dan Ahmad no. 26692)

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ{ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ

Dari Qatadah berkata: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang bagaimana cara bacaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, maka Anas menjawab: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca dengan memanjangkan bacaaan [pada bagian-bagian mad], lalu Anas membaca bismillahir rahmaanir rahiim, denganmemanjangkan bacaaan bismillah, memanjangkan bacaan ar-rahmaan, dan memanjangkan bacaan ar-rahiim.” (HR. Bukhari no. 5046 dan Al-Hakim no. 852)

Pembahasan selengkapnya tentang ayat pertama surat Al-Fatihah bisa dilihat dalam kitab-kitab tafsir.

Surat 2:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka. (QS. Al-An’am [6]: 1)

Surat 3:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. (QS. Al-Kahfi [18]: 1)

Surat 4:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآَخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. (QS. Saba’ [34]: 1)

Surat 5:

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang memiliki) dua sayap, tiga sayap dan empat sayap. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Fathir [35]: 1)

Adapun dua surat yang diawali dengan lafal tabaaraka untuk Allah Ta’ala adalah:

Surat 6:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam [maksudnya jin dan manusia]. (QS. Al-Furqan [25]: 1)

Surat 7:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Mulk [67]: 1)
Kedua, mensucikan Allah Ta’ala dengan meniadakan sifat-sifat aib dan kekurangan dari Allah Ta’ala

Cara ini dipergunakan dalam tujuh buah surat yang diawali dengan tasbih kepada Allah Ta’ala.

Surat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi negeri sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Isra’ [17]: 1)

Surat 2:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Bertasbih kepada Allah semua yang berada di langit dan yang berada di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hadid [57]: 1)

Surat 3:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Bertasbih kepada Allah semua yang berada di langit dan yang berada di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr [59]: 1)

Surat 4:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Bertasbih kepada Allah semua yang berada di langit dan yang berada di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. As-Shaf [61]: 1)

Surat 5:

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, yang Maha Suci, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Jumu’ah [62]: 1)

Surat 6:

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. At-Taghabun [64]: 1)

Surat 7:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi! (QS. Al-A’la [87]: 1)

Tajul Qurra’ imam Abul Qasim Burhanuddin Mahmud bin Hamzah Al-Kirmani (wafat tahun 505 H) dalam kitabnya Al-Burhan fi Taujih Mutasyabih Al-Qur’an menjelaskan keindahan lain dari ketujuh surat yang diawali dengan lafal tasbih di atas.

Lafal tasbih dalam awal surat Al-Isra’ hadir dalam bentuk isim mashdar [kata benda dasar atau asal semua bentuk pecahan kata]. Lafal tasbih dalam awal surat Al-Hadid dan Al-Hasyr hadir dalam bentuk fi’il madhi [kata kerja bentuk lampau]. Lafal tasbih dalam awal surat Al-Jumu’ah dan At-Taghabun hadir dalam bentuk fi’il mudhari’ [kata kerja bentuk sekarang dan akan datang]. Sedangkan lafal tasbih dalam awal surat Al-Isra’ hadir dalam bentuk fi’il amr [kata kerja perintah].

Subhanallah, beragam cara dan gaya Allah hadirkan untuk mengawali beberapa surat Al-Qur’an di atas dengan pujian kepada-Nya. Maha Suci dan Maha Indah Allah Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

bgvfed

Wanita Karir Tetap Shalihah Oleh H.Mustafa Semrani

VCXZ

Wanita adalah insan yang sangat terhormat di dalam Islam. Bahkan kemulian seorang wanita itu dua tingkat derajat dibandingkan dengan lelaki. Hanya dalam masalah tanggungjawab saja dilebihkan kepada lelaki di dunia ini. Namun masalah di akhirat mareka sama dan sederajat.

Selain itu, wanita juga dikhususkan didalam nama surat di al-Qur’an, yaitu surat an-Nisa. Bahkan penyebutan nama wanita diulang-ulang di dalamnya. Selain itu, di dalam al-Qur’an juga disebut nama Maryam sebagai salah satu surat juga. Ini membuktikan wanita sangat mulia.

gfdegf

Wanita Karir yang Shalihah

Karir adalah sebuah kata dari bahasa Belanda; carriere yang bermakna perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan seseorang. Ini juga bisa berarti jenjang dalam sebuah pekerjaan tertentu.

Karir merupakan istilah yang didefinisikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai perkembangan dan kemajuan baik pada kehidupan, pekerjaan atau jabatan seseorang. Biasanya pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang mendapatkan imbalan berupa gaji maupun uang.

images

Wanita karir adalah wanita yang mempunyai pekerjaan sendiri yang dengan pekerjaannya ia menghasilkan uang atau pendapatan.

Namun berbicara tentang wanita karir secara umum, itu menghasilkan perdebatan dan perbedaan pendapat pada ulama dan cendikiawan Islam. Sebagian mereka membolehkan wanita berkarir dan bekerja dimana saja. Baik di dalam rumah atau di luar rumah. Sedangkan sebagian yang lain tidak membolehkan mereka berkarir atau bekerja di luar rumah.

gfdefgb

“Wanita adalah aurat, jika dia keluar (rumah), syaitan akan memimpinnya.” (HR Tirmidzi). Berdasarkan hadits ini, maka wanita tidak dibolehkan keluar dari rumah tanpa ada muhrim yang menemaninya. Dan ini menjadikan hujjah bahwa wanita tersebut tidak boleh berkarir di luar rumah.

Ada juga sebagian ulama memaknai hadits di atas adalah wanita tidak boleh membuka auratnya saat keluar rumah. Dan selain ditemani oleh muhrimnya juga harus memakai pakaian yang lebar dan jilbab yang menutupi sampai kepada pinggangnya.

gfdedew

Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i no. 5129, Abu Daud no. 4173, Tirmidzi no. 2786 dan Ahmad 4: 414. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir).

Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”. (HR. Abdur Razaq no 8118).gfde

Melihat Hadits-hadits di atas, pembahasan lebih kepada wanita yang keluar rumah atau memakai wewangian saat keluar rumah. Sedangkan masalah wanita karir ada dua pembahasan. Yaitu wanita yang berkarir di luar rumah dan wanita yang berkarir di dalam rumah. Kalau ia mampu menciptakan pekerjaannya sendiri di rumah dan diizinkan oleh suaminya, maka wanita tersebut boleh berkarir. Seperti membuat kue, menjahit, menyulam dan pekerjaan lainnya yang bisa dilakukan di rumahnya.

Maka Islam tidak melarang wanita berkarir secara spontan, namun wanita itu boleh berkarir selama karirnya sesuai dengan Islam dan ia masih dikatakan wanita yang shalihah. Karir yang tidak menjadi tuhmah dan fitnah bagi diri, keluarga, dan agamanya.

fdfde

Apabila kita memperbolehkan wanita bekerja, maka wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu:

1. Hendaklah pekerjaannya itu disyariatkan. Artinya, pekerjaan itu tidak haram atau bisa mendatangkan sesuatu yang haram. Seperti wanita yang bekerja untuk melayani lelaki bujang. Atau wanita menjadi sekretaris khusus bagi seorang direktur yang karena alasan kegiatan mereka sering berkhalwat (berduaan), atau menjadi penari yang merangsang nafsu hanya demi mengeruk keuntungan duniawi, atau bekerja di bar-bar untuk menghidangkan minum-minuman keras –padahal Rasulullah saw telah melaknat orang yang menuangkannya, membawanya, dan menjualnya. Atau menjadi pramugari di kapal terbang dengan menghidangkan minum-minuman yang memabukkan, bepergian jauh tanpa disertai mahram, bermalam di negeri asing sendirian, atau melakukan aktivitas-aktivitas lain yang diharamkan oleh Islam, baik yang khusus untuk wanita maupun khusus untuk laki-laki, ataupun untuk keduanya.

bvfd

2. Memenuhi adab wanita muslimah ketika keluar rumah. Baik dalam berpakaian, berjalan, berbicara, dan melakukan gerak-gerik.

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya …’” (QS. An-Nur: 31).

“… Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan …” (QS. an-Nur: 31).

“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Ahzab 32).

bgfgf

3. Janganlah pekerjaan atau tugasnya itu mengabaikan kewajiban-kewajiban lain yang tidak boleh diabaikan. Seperti kewajiban terhadap suaminya atau anak-anaknya yang merupakan kewajiban pertama dan tugas utamanya.

bgvfde

Walau kita sebagai wanita karir, semoga karir yang kita tekuni di dunia ini adalah karir yang diridhai oleh Allah. Bukan semata mencari kekayaan, jabatan, dan sensasi. Karena hidup di dunia ini hanya sesaat. Setelah kita mati, maka kita akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkannya di hadapan mahkamah Allah swt yang Mahahakim.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

bgfre

Munajat hamba pada Rabb Yang Maha Baik Oleh H.MUSTAFA SEMRANI

Surga ini, tak ada yang bisa memasukinya kecuali mereka yang bersih (dari syirik dan dosa-dosa).

Sebagaimana Allah (Yang Mahakuasa) telah berfirman dalam Surat Az-Zumar bahwa para malaikat akan memanggil para penghuni surga, dan mereka akan mengatakan, “Selamat atas kalian, kalian telah menjadi suci, maka masuklah ke dalamnya [syurga] untuk tinggal dan selamanya di sana.”

Dan para ulama telah menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: “Kalian telah menjadi suci artinya perkataan kalian telah menjadi suci, dan tingkah laku kalian telah menjadi suci, dan tindakan kalian telah menjadi suci, dan perbuatan kalian yang tampak telah menjadi suci, maka masuklah ke dalam surga dan kekallah di dalamnya.”

Dan bagi orang-orang beriman di dunia ini, dan mereka yang mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, tetapi dia memiliki keburukan yang dia lakukan, dia akan disucikan, sehingga dia akan menjadi suci di dunia ini, maka Allah akan memberinya ujian dan kesukaran, yang akan menyucikan dia dari dosa-dosanya, sampai dia berjalan di atas bumi, dengan tidak membawa dosa, sehingga dia memasuki surga, dalam keadaan bersih.

Dan akan ada orang yang dihukum di dalam kubur mereka, sehingga dia akan dihimpit oleh kubur, di mana itu akan menghapus dosa-dosanya. Atau dia akan diadili di kubur, atau pada Hari Keputusan. Atau dia akan dibersihkan di api neraka jahannam (والعياذ بالله), sampai dia memasuki surga dalam keadaan suci. Karena ini tidak pernah mungkin, karena tak satu pun dari kita yang akan bisa memasuki surga dalam keadaan mempunyai dosa walau hanya sebesar biji atom.

Namun Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia karena Dia Suci, karena Dia Maha Suci, Maha Kuasa, Dia akan memanggil hamba-Nya pada Hari Kiamat. Dia membuatnya mengakui dosa-dosanya.

“Bukankah kau telah melakukannya dan melakukan ini dan ini? Bukankah kau telah melakukan itu dan itu?”

Maka dia mengatakan, “Ya, wahai Rabb.”

Maka Allah mengatakan, dan ini semua adalah Kesucian dan Kekuasaan-Nya, lihatlah ini, ini dari Kesucian-Nya. Dia membuatnya megakui dosa-dosa kecilnya, tetapi tidak dengan dosa-dosa besarnya.

Maka Allah mengatakan, “Wahai hamba-Ku, bukanah kau telah melakukannya dan melakukannya?”

Maka dia menjawab, “Ya, wahai Rabb.” Dan dia merasakan rasa bersalah atas dosa-dosa besar-Nya dan dia merasa bersalah atas dosa-dosa besar-Nya. Dia mengetahui apa yang telah dia lakukan.

Lalu Allah berkata, “Wahai hamba, bukankan kau telah melakukanya?”

Dia menjawab, “Ya, wahai Rabb.” “Ya, wahai Rabb.” “Ya, wahai Rabb.”

Lalu Allah akan berkata, “PERGILAH, karena Aku telah menyembunyikannya untukmu di dunia, dan Aku telah mengampuninya untukmu hari ini.”

Maka dia pun memasuki surga, dan dia berkata, “Ya Rabb, masih ada dosa-dosa yang tersisa.”

Karena Allah telah mengatakan, “Pergilah, karena Aku telah menyembunyikannya untukmu hari ini, dan Aku akan mengembaikannya padamu menjadi hadiah.”

Hadiah. Mengapa Dia mengubahnya menjadi hadiah?

Karena Allah Maha Suci, karena Allah, Dia Maha Suci, Maha Kuasa. Karena Dia Maha Suci, maka si hamba akan mengatakan, karena dia tengah berharap dosa-dosa besarnya diampuni sekarang, tapi sepintas lalu dia takut dosa-dosanya besarnya tak akan disembunyikan, jadi dia berkata, “Wahai Rabb-ku, aku masih mempunyai dosa-dosa yang tersisa,”

Maka Allah tersenyum padanya, dan selamatlah orang yang Allah tersenyum kepadanya, karena Dia Maha Suci, Allah berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menyembunyikannya untukmu di dunia, dan Aku mengampuninya untukmu hari ini, maka masuklah ke Surga.”

Dia pun memasuki Surga dan mengambil buku catatan amalnya dengan tangan kanannya. Maka dia pergi kepada orang-orang yang berkerumun untuk penghisaban.

Sepintas lalu, dia takut, dosa-dosanya akan ditampakkan, atau dia takut namanya tidak akan disebut. Dia tidak mau seorang pun mengetahui siapa dirinya karena dia mengetahui dosa-dosanya. Dia kemudian akan berkata, “Ini, bacalah buku [catatan amal]ku.”

Ya Allah Yang Maha Suci, Ya Allah Yang Maha Suci, Ya Allah Yang Maha Suci…

Kami memohon pada-Mu akan kasih-Mu,

Dan kami memohon pada-Mu kasih-Mu untuk mereka yang mencintai-Mu,

Dan kami memohon pada-Mu untuk mengasihi setiap tindakan yang membawa kami lebih dekat pada-Mu,

Wahai Allah, Wahai Rabb, Yang Maha Suci…

Luruskan perkataan kami,
Luruskan niat kami,
Luruskan tindakan kami,
Luruskan perbuatan kami,
Luruskan tingkah laku kami,
Sucikanlah istri kami, anak-anak kami,
Luruskan rezki kami,
Perbaikilah ketetapan atas kami, jauh dari sebelumnya.

Wahai Yang Maha Suci, akankah Engkau menghukum kami sementara kami mencintai Engkau?

Wahai Allah Yang Maha Suci, aku memohon pada-Mu, memohon cinta-Mu. Dan kami memohon pada Allah, Yang Maha Kuasa untuk mengampuni kami, dan mengangkat kedudukan kami, agar Dia mengampuni orang tua kami, dan semua orang yang mengatakan; aamiin.

Semoga shalawat serta salam tercurah pada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

sa

Panduan Ringkas Zakat Fithri Oleh H.Mustafa Semrani

Definisi Zakat Fithri

Zakat fithri adalah zakat yang wajib dibayarkan kaum muslimin karena mereka melakukan fithr, yaitu makan kembali setelah selama sebulan penuh berpuasa. Istilah ini diambil dari kata fithr yang artinya berbuka atau makan, bukan dari kata fithrah yang artinya asal penciptaan atau kesucian.

Sesuai namanya, zakat fitri dibayarkan di akhir bulan Ramadhan sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang besar sehingga kaum muslimin mampu melaksanakan shaum Ramadhan selama sebulan penuh (HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984 dari Ibnu Umar). Selain zakat fitri, nama lainnya adalah shadaqah Ramadhan atau zakat Ramadhan (HR. Muslim no. 984 dari Ibnu Umar).

Hukum Zakat Fithri

Hukum mengeluarkan zakat fithri adalah wajib atas setiap muslim dan muslimah. Berdasar hadits,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ .

Dari Ibnu Umar ra berkata: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri satu sha’ kurma atau gandum atas budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa dari ummat Islam. Beliau memerintahkan agar zakat fitri dibayarkan sebelum mereka keluar untuk sholat ‘iid.” (HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984)

Imam Ibnu Mundzir berkata, “Seluruh ulama yang kami ketahui telah bersepakat atas wajibnya zakat fithri.”

Syarat Wajib Zakat Fithri

Zakat fithri wajib dibayarkan oleh setiap orang yang telah memenuhi syarat-syarat berikut ini:

Beragama Islam, berdasar hadis Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA di atas.
Memiliki kemampuan, yaitu memiliki makanan yang mencukupi dirinya dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya (anak, istri, orang tua, dan budak) selama hari I’ed (satu hari satu malam setelah selesainya Ramadhan).Barangsiapa memiliki makanan sehari semalam untuk dirinya dan orang yang berada dalam tanggung jawabnya, maka ia dianggap orang yang mampu sehingga terkena kewajiban zakat fithri. Inilah pendapat yang benar dan diikuti oleh mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafi’I, dan Hambali). Hal ini berdasar hadits dari Sahl bin Hanzhaliyah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ ” – وَ فِي لَفْظٍ : مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ – فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا يُغْنِيهِ ؟ قَالَ : قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ – وَ فِي لَفْظٍ : أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبْعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ .

“Barangsiapa meminta-minta padahal ia memiliki harta yang mencukupinya, maka sesungguhnya ia sedang memperbanyak permintaan bara api neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, berapakah harta yang dianggap mencukupi itu?” Beliau menjawab, “Sejumlah makanan yang cukup untuk makan pagi dan makan sore.” Dalam lafal lainnya, “Harta yang membuatnya bisa kenyang selama sehari semalam.” (HR. Abu Daud no. 1629, Ibnu Khuzaimah no. 2198, dan Al-Baihaqi no. 12366 dengan sanad hasan)

Kadar jenis zakat fithri

Besarnya zakat fitrah adalah satu sha’ per orang, yaitu empat kali tangkupan dua telapak tangan orang dewasa. Satu sha’ menurut ukuran sekarang adalah sekitar 2,5 kg atau 3,5 liter. Berdasar hadits,

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِظٍّ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata: “Kami mengeluarkan zakat fithri pada zaman Rasulullah SAW berupa satu sha’ makanan, atau satu sha’ tepung gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ anggur kering, atau satu sha’ susu bubuk (keju atau mentega).” (HR. Bukhari no. 1505 dan Muslim no. 985)

Jenis Zakat Fithri

Hadits di atas menyebutkan zakat fithri dikeluarkan dalam bentuk lima jenis makanan pokok, yaitu makanan (biji gandum: burr atau qamh), kurma, tepung gandum (sya’ir), anggur kering, dan susu bubuk.

Untuk daerah atau negara yang makanan pokoknya selain lima makanan di atas, mazhab Hambali membatasi zakat fithri dalam bentuk lima makanan pokok tersebut semata, dan tidak memperbolehkan zakat dalam bentuk jenis makanan lain. Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat madzhab Maliki dan Syafi’I, yaitu boleh membayar zakat dengan makanan pokok lain yang mereka konsumsi sehari-hari; beras, jagung, sagu, dan lain sebagainya. Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat karena beberapa alasan:

Lima makanan yang disebutkan dalam nash hadits tersebut adalah makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari oleh kaum muslimin di jazirah Arab pada zaman itu. Maka perintah zakat disesuaikan dengan jenis makanan pokok yang dikonsumsi oleh umat Islam. Jika kaum muslimin di tempat lain mengkonsumsi makanan pokok yang lain, tentu mereka tidak dibebani untuk mengeluarkan zakat fithri dalam bentuk makanan yang tidak mereka konsumsi.
Zakat fithri adalah kewajiban yang berkaitan dengan badan (makan kembali setelah sebulan penuh melakukan shaum Ramadhan), seperti halnya kewajiban kafarah. Berbeda halnya dengan zakat mal yang berkaitan dengan harta. Oleh karenanya ketentuan zakat fithrah adalah seperti ketentuan kafarah, makanan yang dikeluarkan adalah sesuai makanan yang dikonsumsi sehari-hari, berdasar firman Allah; “…maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (QS. Al-Maidah (5): 89)

Zakat fithri wajib dibayarkan dalam bentuk makanan pokok yang biasa dikonsumsi sehari-hari dan tidak boleh dibayarkan dalam bentuk uang, karena Nabi SAW dan para sahabat membayarkannya dengan makanan pokok. Bukan dengan uang yang biasa mereka pakai seperti uang dinar maupun dirham. Padahal di zaman tersebut uang dinar dan dirham beredar luas. Seandainya zakat fithri boleh dibayarkan dalam bentuk uang, tentulah Nabi SAW telah menyebutkannya dalam hadits mengingat pentingnya permasalahan tersebut. Tidak adanya penyebutan izin tersebut dalam hadits, padahal seluruh faktor pendukungnya ada, merupakan bukti tidak bolehnya membayar zakat fithri dalam bentuk uang.

Waktu pembayaran zakat fithri

Awal mulai wajibnya membayar zakat fithri menurut mayoritas ulama (madzhab Syafi’i, madzhab Hambali, dan pendapat sebagian ulama madzhab Maliki) adalah tenggelamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan. Berdasar pendapat ini, jika seseorang meninggal pada waktu setelah maghrib pada malam ‘ied, maka ahli waris mayit atau wali mayit tetap wajib mengeluarkan zakat fithri si mayit, karena ia sempat hidup sampai waktu wajibnya zakat fithri.
Awal mulai wajibnya membayar zakat fithri menurut madzhab Hanafi dan pendapat sebagian ulama madzhab Maliki adalah saat terbitnya fajar hari ‘ied. Berdasar pendapat ini, jika seorang muslim meninggal sebelum datangnya waktu shubuh hari ied, maka ahli waris mayit atau wali mayit tidak wajib mengeluarkan zakat fithri si mayit.
Zakat fithri wajib dibayarkan sebelum dilaksanakannya shalat ied. Jika dibayarkan setelah pelaksanaan shalat ied, maka tidak dianggap sebagai zakat fithri, melainkan dianggap sebagai sedekah biasa.

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ الَّلغْوِ وَ الرَّفَثِ وَ طُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الزَّكَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri sebagai pembersih bagi orang yang shaum dari perkataan yang tidak berguna dan perkataan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ied, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah shalat ied, ia menjadi sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827 dengan sanad hasan)

Jika seorang muslim sampai waktu dilaksanakannya shalat ied belum sempat membayarkan zakat fithri, maka ia memiliki dua kewajiban. Kewajiban kepada Allah SWT adalah bertaubat dan beristighfar. Adapun kewajiban kepada manusia adalah dengan mengeluarkan zakat fithri. Para ulama sepakat bahwa zakat fithri adalah hak sesama manusia, sehingga kewajibannya tidak gugur meski waktunya telah terlewat.
Pembayaran zakat fithri boleh didahulukan satu, dua, atau beberapa hari sebelum hari ied. Hal itu karena maslahat yang lebih besar; panitia zakat bisa mengkoordinasikan penerimaan dan pembagian zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya sebelum shalat ied dengan lancar, sehingga semua pihak (pembayar zakat, panitia zakat, dan penerima zakat) bisa menunaikan shalat ied dengan tenang.

Mustahiq zakat fithri

Para ulama berbeda pendapat tentang alokasi penyaluran zakat fithri:

Madzhab Maliki berpendapat zakat fithri hanya boleh dibagikan kepada golongan fakir dan miskin semata. Berdasar hadits dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri sebagai pembersih bagi orang yang shaum dari perkataan yang tidak berguna dan perkataan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827 dengan sanad hasan)
Mayoritas ulama (madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali) berpendapat zakat fithri bisa dibagikan kepada delapan golongan yang berhak menerima zakat mal, bukan hanya golongan fakir dan miskin semata. Pendapat inilah yang lebih benar dan kuat. Alasannya, penyebutan sebagian golongan penerima zakat (fakir dan miskin) dalam hadits Ibnu Abbas bukan berarti membatasi penerima zakat dalam dua golongan tersebut saja. Hal ini sebagaimana penyebutan golongan fakir-miskin sebagai penerima zakat mal dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal:

أَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ إِلَى فُقَرَائِهِمْ

“Maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat dalam harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19)

Meski yang disebutkan sebagai penerima zakat mal dalam hadits tersebut hanya golongan fakir dan miskin, bukan berarti golongan yang lain tidak berhak menerimanya. Karena berdasar ayat Al-Qur’an, penerima zakat mal bukan hanya dua golongan itu, melainkan delapan golongan. Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Muallaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah (9): 60)

Hikmah zakat fithri

Zakat fithri memiliki banyak hikmah yang agung, di antaranya adalah:

Sebagai ibadah yang melengkapi kurang sempurnanya pelaksanaan shaum Ramadhan. Terkadang selama shaum, seorang muslim mengeluarkan perkataan yang tidak senonoh atau melakukan perbuatan yang tidak terpuji, maka zakat fithri menghapus dosanya sehingga menyempurnakan pahala shaum Ramadhan.
Sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas karunia shaum Ramadhan selama sebulan penuh dan kini kembali diizinkan makan, minum, dan melakukan hubungan suami-istri di siang hari.
Sebagai bentuk kepedulian kepada golongan fakir, miskin, dan orang yang membutuhkan. Mereka diajak bergembira merayakan hari idul fithri sebagaimana umumnya kaum muslimin merayakannya dengan gembira.

Wallahu a’lam bish-shawab

H.Mustafa Semrani

H.Mustafa Semrani