bgfre

Munajat hamba pada Rabb Yang Maha Baik Oleh H.MUSTAFA SEMRANI

Surga ini, tak ada yang bisa memasukinya kecuali mereka yang bersih (dari syirik dan dosa-dosa).

Sebagaimana Allah (Yang Mahakuasa) telah berfirman dalam Surat Az-Zumar bahwa para malaikat akan memanggil para penghuni surga, dan mereka akan mengatakan, “Selamat atas kalian, kalian telah menjadi suci, maka masuklah ke dalamnya [syurga] untuk tinggal dan selamanya di sana.”

Dan para ulama telah menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: “Kalian telah menjadi suci artinya perkataan kalian telah menjadi suci, dan tingkah laku kalian telah menjadi suci, dan tindakan kalian telah menjadi suci, dan perbuatan kalian yang tampak telah menjadi suci, maka masuklah ke dalam surga dan kekallah di dalamnya.”

Dan bagi orang-orang beriman di dunia ini, dan mereka yang mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, tetapi dia memiliki keburukan yang dia lakukan, dia akan disucikan, sehingga dia akan menjadi suci di dunia ini, maka Allah akan memberinya ujian dan kesukaran, yang akan menyucikan dia dari dosa-dosanya, sampai dia berjalan di atas bumi, dengan tidak membawa dosa, sehingga dia memasuki surga, dalam keadaan bersih.

Dan akan ada orang yang dihukum di dalam kubur mereka, sehingga dia akan dihimpit oleh kubur, di mana itu akan menghapus dosa-dosanya. Atau dia akan diadili di kubur, atau pada Hari Keputusan. Atau dia akan dibersihkan di api neraka jahannam (والعياذ بالله), sampai dia memasuki surga dalam keadaan suci. Karena ini tidak pernah mungkin, karena tak satu pun dari kita yang akan bisa memasuki surga dalam keadaan mempunyai dosa walau hanya sebesar biji atom.

Namun Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia karena Dia Suci, karena Dia Maha Suci, Maha Kuasa, Dia akan memanggil hamba-Nya pada Hari Kiamat. Dia membuatnya mengakui dosa-dosanya.

“Bukankah kau telah melakukannya dan melakukan ini dan ini? Bukankah kau telah melakukan itu dan itu?”

Maka dia mengatakan, “Ya, wahai Rabb.”

Maka Allah mengatakan, dan ini semua adalah Kesucian dan Kekuasaan-Nya, lihatlah ini, ini dari Kesucian-Nya. Dia membuatnya megakui dosa-dosa kecilnya, tetapi tidak dengan dosa-dosa besarnya.

Maka Allah mengatakan, “Wahai hamba-Ku, bukanah kau telah melakukannya dan melakukannya?”

Maka dia menjawab, “Ya, wahai Rabb.” Dan dia merasakan rasa bersalah atas dosa-dosa besar-Nya dan dia merasa bersalah atas dosa-dosa besar-Nya. Dia mengetahui apa yang telah dia lakukan.

Lalu Allah berkata, “Wahai hamba, bukankan kau telah melakukanya?”

Dia menjawab, “Ya, wahai Rabb.” “Ya, wahai Rabb.” “Ya, wahai Rabb.”

Lalu Allah akan berkata, “PERGILAH, karena Aku telah menyembunyikannya untukmu di dunia, dan Aku telah mengampuninya untukmu hari ini.”

Maka dia pun memasuki surga, dan dia berkata, “Ya Rabb, masih ada dosa-dosa yang tersisa.”

Karena Allah telah mengatakan, “Pergilah, karena Aku telah menyembunyikannya untukmu hari ini, dan Aku akan mengembaikannya padamu menjadi hadiah.”

Hadiah. Mengapa Dia mengubahnya menjadi hadiah?

Karena Allah Maha Suci, karena Allah, Dia Maha Suci, Maha Kuasa. Karena Dia Maha Suci, maka si hamba akan mengatakan, karena dia tengah berharap dosa-dosa besarnya diampuni sekarang, tapi sepintas lalu dia takut dosa-dosanya besarnya tak akan disembunyikan, jadi dia berkata, “Wahai Rabb-ku, aku masih mempunyai dosa-dosa yang tersisa,”

Maka Allah tersenyum padanya, dan selamatlah orang yang Allah tersenyum kepadanya, karena Dia Maha Suci, Allah berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menyembunyikannya untukmu di dunia, dan Aku mengampuninya untukmu hari ini, maka masuklah ke Surga.”

Dia pun memasuki Surga dan mengambil buku catatan amalnya dengan tangan kanannya. Maka dia pergi kepada orang-orang yang berkerumun untuk penghisaban.

Sepintas lalu, dia takut, dosa-dosanya akan ditampakkan, atau dia takut namanya tidak akan disebut. Dia tidak mau seorang pun mengetahui siapa dirinya karena dia mengetahui dosa-dosanya. Dia kemudian akan berkata, “Ini, bacalah buku [catatan amal]ku.”

Ya Allah Yang Maha Suci, Ya Allah Yang Maha Suci, Ya Allah Yang Maha Suci…

Kami memohon pada-Mu akan kasih-Mu,

Dan kami memohon pada-Mu kasih-Mu untuk mereka yang mencintai-Mu,

Dan kami memohon pada-Mu untuk mengasihi setiap tindakan yang membawa kami lebih dekat pada-Mu,

Wahai Allah, Wahai Rabb, Yang Maha Suci…

Luruskan perkataan kami,
Luruskan niat kami,
Luruskan tindakan kami,
Luruskan perbuatan kami,
Luruskan tingkah laku kami,
Sucikanlah istri kami, anak-anak kami,
Luruskan rezki kami,
Perbaikilah ketetapan atas kami, jauh dari sebelumnya.

Wahai Yang Maha Suci, akankah Engkau menghukum kami sementara kami mencintai Engkau?

Wahai Allah Yang Maha Suci, aku memohon pada-Mu, memohon cinta-Mu. Dan kami memohon pada Allah, Yang Maha Kuasa untuk mengampuni kami, dan mengangkat kedudukan kami, agar Dia mengampuni orang tua kami, dan semua orang yang mengatakan; aamiin.

Semoga shalawat serta salam tercurah pada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

sa

Panduan Ringkas Zakat Fithri Oleh H.Mustafa Semrani

Definisi Zakat Fithri

Zakat fithri adalah zakat yang wajib dibayarkan kaum muslimin karena mereka melakukan fithr, yaitu makan kembali setelah selama sebulan penuh berpuasa. Istilah ini diambil dari kata fithr yang artinya berbuka atau makan, bukan dari kata fithrah yang artinya asal penciptaan atau kesucian.

Sesuai namanya, zakat fitri dibayarkan di akhir bulan Ramadhan sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang besar sehingga kaum muslimin mampu melaksanakan shaum Ramadhan selama sebulan penuh (HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984 dari Ibnu Umar). Selain zakat fitri, nama lainnya adalah shadaqah Ramadhan atau zakat Ramadhan (HR. Muslim no. 984 dari Ibnu Umar).

Hukum Zakat Fithri

Hukum mengeluarkan zakat fithri adalah wajib atas setiap muslim dan muslimah. Berdasar hadits,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ .

Dari Ibnu Umar ra berkata: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri satu sha’ kurma atau gandum atas budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa dari ummat Islam. Beliau memerintahkan agar zakat fitri dibayarkan sebelum mereka keluar untuk sholat ‘iid.” (HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984)

Imam Ibnu Mundzir berkata, “Seluruh ulama yang kami ketahui telah bersepakat atas wajibnya zakat fithri.”

Syarat Wajib Zakat Fithri

Zakat fithri wajib dibayarkan oleh setiap orang yang telah memenuhi syarat-syarat berikut ini:

Beragama Islam, berdasar hadis Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA di atas.
Memiliki kemampuan, yaitu memiliki makanan yang mencukupi dirinya dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya (anak, istri, orang tua, dan budak) selama hari I’ed (satu hari satu malam setelah selesainya Ramadhan).Barangsiapa memiliki makanan sehari semalam untuk dirinya dan orang yang berada dalam tanggung jawabnya, maka ia dianggap orang yang mampu sehingga terkena kewajiban zakat fithri. Inilah pendapat yang benar dan diikuti oleh mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafi’I, dan Hambali). Hal ini berdasar hadits dari Sahl bin Hanzhaliyah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ ” – وَ فِي لَفْظٍ : مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ – فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا يُغْنِيهِ ؟ قَالَ : قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ – وَ فِي لَفْظٍ : أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبْعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ .

“Barangsiapa meminta-minta padahal ia memiliki harta yang mencukupinya, maka sesungguhnya ia sedang memperbanyak permintaan bara api neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, berapakah harta yang dianggap mencukupi itu?” Beliau menjawab, “Sejumlah makanan yang cukup untuk makan pagi dan makan sore.” Dalam lafal lainnya, “Harta yang membuatnya bisa kenyang selama sehari semalam.” (HR. Abu Daud no. 1629, Ibnu Khuzaimah no. 2198, dan Al-Baihaqi no. 12366 dengan sanad hasan)

Kadar jenis zakat fithri

Besarnya zakat fitrah adalah satu sha’ per orang, yaitu empat kali tangkupan dua telapak tangan orang dewasa. Satu sha’ menurut ukuran sekarang adalah sekitar 2,5 kg atau 3,5 liter. Berdasar hadits,

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِظٍّ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata: “Kami mengeluarkan zakat fithri pada zaman Rasulullah SAW berupa satu sha’ makanan, atau satu sha’ tepung gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ anggur kering, atau satu sha’ susu bubuk (keju atau mentega).” (HR. Bukhari no. 1505 dan Muslim no. 985)

Jenis Zakat Fithri

Hadits di atas menyebutkan zakat fithri dikeluarkan dalam bentuk lima jenis makanan pokok, yaitu makanan (biji gandum: burr atau qamh), kurma, tepung gandum (sya’ir), anggur kering, dan susu bubuk.

Untuk daerah atau negara yang makanan pokoknya selain lima makanan di atas, mazhab Hambali membatasi zakat fithri dalam bentuk lima makanan pokok tersebut semata, dan tidak memperbolehkan zakat dalam bentuk jenis makanan lain. Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat madzhab Maliki dan Syafi’I, yaitu boleh membayar zakat dengan makanan pokok lain yang mereka konsumsi sehari-hari; beras, jagung, sagu, dan lain sebagainya. Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat karena beberapa alasan:

Lima makanan yang disebutkan dalam nash hadits tersebut adalah makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari oleh kaum muslimin di jazirah Arab pada zaman itu. Maka perintah zakat disesuaikan dengan jenis makanan pokok yang dikonsumsi oleh umat Islam. Jika kaum muslimin di tempat lain mengkonsumsi makanan pokok yang lain, tentu mereka tidak dibebani untuk mengeluarkan zakat fithri dalam bentuk makanan yang tidak mereka konsumsi.
Zakat fithri adalah kewajiban yang berkaitan dengan badan (makan kembali setelah sebulan penuh melakukan shaum Ramadhan), seperti halnya kewajiban kafarah. Berbeda halnya dengan zakat mal yang berkaitan dengan harta. Oleh karenanya ketentuan zakat fithrah adalah seperti ketentuan kafarah, makanan yang dikeluarkan adalah sesuai makanan yang dikonsumsi sehari-hari, berdasar firman Allah; “…maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (QS. Al-Maidah (5): 89)

Zakat fithri wajib dibayarkan dalam bentuk makanan pokok yang biasa dikonsumsi sehari-hari dan tidak boleh dibayarkan dalam bentuk uang, karena Nabi SAW dan para sahabat membayarkannya dengan makanan pokok. Bukan dengan uang yang biasa mereka pakai seperti uang dinar maupun dirham. Padahal di zaman tersebut uang dinar dan dirham beredar luas. Seandainya zakat fithri boleh dibayarkan dalam bentuk uang, tentulah Nabi SAW telah menyebutkannya dalam hadits mengingat pentingnya permasalahan tersebut. Tidak adanya penyebutan izin tersebut dalam hadits, padahal seluruh faktor pendukungnya ada, merupakan bukti tidak bolehnya membayar zakat fithri dalam bentuk uang.

Waktu pembayaran zakat fithri

Awal mulai wajibnya membayar zakat fithri menurut mayoritas ulama (madzhab Syafi’i, madzhab Hambali, dan pendapat sebagian ulama madzhab Maliki) adalah tenggelamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan. Berdasar pendapat ini, jika seseorang meninggal pada waktu setelah maghrib pada malam ‘ied, maka ahli waris mayit atau wali mayit tetap wajib mengeluarkan zakat fithri si mayit, karena ia sempat hidup sampai waktu wajibnya zakat fithri.
Awal mulai wajibnya membayar zakat fithri menurut madzhab Hanafi dan pendapat sebagian ulama madzhab Maliki adalah saat terbitnya fajar hari ‘ied. Berdasar pendapat ini, jika seorang muslim meninggal sebelum datangnya waktu shubuh hari ied, maka ahli waris mayit atau wali mayit tidak wajib mengeluarkan zakat fithri si mayit.
Zakat fithri wajib dibayarkan sebelum dilaksanakannya shalat ied. Jika dibayarkan setelah pelaksanaan shalat ied, maka tidak dianggap sebagai zakat fithri, melainkan dianggap sebagai sedekah biasa.

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ الَّلغْوِ وَ الرَّفَثِ وَ طُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الزَّكَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri sebagai pembersih bagi orang yang shaum dari perkataan yang tidak berguna dan perkataan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ied, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah shalat ied, ia menjadi sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827 dengan sanad hasan)

Jika seorang muslim sampai waktu dilaksanakannya shalat ied belum sempat membayarkan zakat fithri, maka ia memiliki dua kewajiban. Kewajiban kepada Allah SWT adalah bertaubat dan beristighfar. Adapun kewajiban kepada manusia adalah dengan mengeluarkan zakat fithri. Para ulama sepakat bahwa zakat fithri adalah hak sesama manusia, sehingga kewajibannya tidak gugur meski waktunya telah terlewat.
Pembayaran zakat fithri boleh didahulukan satu, dua, atau beberapa hari sebelum hari ied. Hal itu karena maslahat yang lebih besar; panitia zakat bisa mengkoordinasikan penerimaan dan pembagian zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya sebelum shalat ied dengan lancar, sehingga semua pihak (pembayar zakat, panitia zakat, dan penerima zakat) bisa menunaikan shalat ied dengan tenang.

Mustahiq zakat fithri

Para ulama berbeda pendapat tentang alokasi penyaluran zakat fithri:

Madzhab Maliki berpendapat zakat fithri hanya boleh dibagikan kepada golongan fakir dan miskin semata. Berdasar hadits dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri sebagai pembersih bagi orang yang shaum dari perkataan yang tidak berguna dan perkataan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827 dengan sanad hasan)
Mayoritas ulama (madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali) berpendapat zakat fithri bisa dibagikan kepada delapan golongan yang berhak menerima zakat mal, bukan hanya golongan fakir dan miskin semata. Pendapat inilah yang lebih benar dan kuat. Alasannya, penyebutan sebagian golongan penerima zakat (fakir dan miskin) dalam hadits Ibnu Abbas bukan berarti membatasi penerima zakat dalam dua golongan tersebut saja. Hal ini sebagaimana penyebutan golongan fakir-miskin sebagai penerima zakat mal dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal:

أَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ إِلَى فُقَرَائِهِمْ

“Maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat dalam harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19)

Meski yang disebutkan sebagai penerima zakat mal dalam hadits tersebut hanya golongan fakir dan miskin, bukan berarti golongan yang lain tidak berhak menerimanya. Karena berdasar ayat Al-Qur’an, penerima zakat mal bukan hanya dua golongan itu, melainkan delapan golongan. Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Muallaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah (9): 60)

Hikmah zakat fithri

Zakat fithri memiliki banyak hikmah yang agung, di antaranya adalah:

Sebagai ibadah yang melengkapi kurang sempurnanya pelaksanaan shaum Ramadhan. Terkadang selama shaum, seorang muslim mengeluarkan perkataan yang tidak senonoh atau melakukan perbuatan yang tidak terpuji, maka zakat fithri menghapus dosanya sehingga menyempurnakan pahala shaum Ramadhan.
Sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas karunia shaum Ramadhan selama sebulan penuh dan kini kembali diizinkan makan, minum, dan melakukan hubungan suami-istri di siang hari.
Sebagai bentuk kepedulian kepada golongan fakir, miskin, dan orang yang membutuhkan. Mereka diajak bergembira merayakan hari idul fithri sebagaimana umumnya kaum muslimin merayakannya dengan gembira.

Wallahu a’lam bish-shawab

H.Mustafa Semrani

H.Mustafa Semrani

istiqamah_thumb

Menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat Oleh H.MUSTAFA SEMRANI

salam_ramadhan

Dari Abu Hurairah, sesunggunya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan shalat (pada malam-malam) Ramadhan dengan iman dan mengharapkan keridhaan-Nya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

ramadhan3

Penjelasan:

Pada malam-malam bulan Ramadhan kita dianjurkan melakukan shalat pada malam harinya. Inilah yang disebut dengan qiyamu lailatul Ramadhan. Pada malam bukan bulan Ramadhan shalat malam ini disebut Tahajjud atau shalatul Lail.

r4e32r4e32

Barangsiapa melakukan qiyamu lailatur Ramadhan sebulan penuh, maka Allah menjanjikan kepadanya segala dosanya akan diampuni. Karenanya, manfaatkanlah kesempatan ini agar kita memperoleh ampunan dari Allah.

H.Mustafa Semrani

H.Mustafa Semrani

Marhaban Ramadan Wallpaper__yvt2

Perkara-Perkara Yang Berhubungan Dengan Puasa Ramadhan Oleh H.Mustafa Semrani

r4e3

1. Sahur dan keutamaannya.

Dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda,

تَسَحَرُوْا فَاِنَ فِى السَحُوْرِ بَرَكةً

“Sahurlah kalian, karena dalam makan sahur terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kandungan Hadits:

Sunat makan sahur dan sahur banyak pahalanya.
Berkah dalam sahur adalah menunaikan perintah agama, menguatkan ibadah, bertambah semangat dan faedah lainnya.

YGTRFED

2. Berbuka puasa dan keutamaan menyegerakannya.

Dari Sahl bin Sa’ad Ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda,

لَا يَزَالُ النَاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَلُوا الفِطْرَ

“Manusia senantiasa dalam kebajikan, selama mereka segera berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda,

قَالَ اللُه عَزَّ وَجَلَّ : “أَحبَّ عِبَادِى أِلَىَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا”

“Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hamba yang paling Aku cintai ialah yang paling cepat berbuka.” (HR. At Tirmidzi)

Kandungan Hadits:

Sunat segera berbuka bagi orang yang berpuasa jika yakin matahari tenggelam dengan melihat secara langsung atau berita orang yang terpercaya.
Makruh keterlaluan dalam beragama.
Boleh mengakhiri berbuka karena ada perlu. Namun segera berbuka lebih di cintai Allah.

VD

3. Sunnah berbuka puasa dengan kurma dan air.

Dari Sulaiman bin Amir Adh Dhabbiy Ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda:

أِذَا أفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفطِرُ عَلَى مَاءٍ فَاِنَّهُ طَهُوْرٌ

“Ababila salah seorang dari kamu berbuka, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak menemukan, berbukalah dengan air, karna sesungguhnya air itu suci.” (HR. Imam lima dan dianggap sahih oleh ibnu Huzaimah, Ibnu Hibbab dan Hakim)

Kandungan Hadits:

Sunat berbuka dengan kurma. Jika tidak ada, sunat berbuka dengan air.
Bebuka dengan air lebih baik daripada air, sebab banyak faedah penting bagi perut dan mata menurut medis.

Marhaban Ramadan Wallpaper__yvt2

4. Larangan berbohong dan berbuat kebodohan ketika berpuasa.

Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda,

وَمَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ فَلَيْسَ اِللهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan bohong dan mengerjakan perbuatan bohong dan kebodohan, maka bagi Allah tidak ada kebutuhan dalam ia meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud. Lafal hadist menurut Abu Dawud)

Kandungan Hadits:

Dusta dan berbuat jahil kepada orang puasa sangat haram.
Barangsiapa melakukan maksiat-maksiat tersebut, dikhawatirkan puasanya tidak di terima.

The-Importance-of-DUA

5. Mencium Istri ketika berpuasa.

Dari Aisyah Ra, ia berkata:

كَانَ النَّبِيِّ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِم وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِم وَلَكِنَّهُ كَانَ أَمْلَكَكُمْ اِلأِرْبِهِ

“Nabi Saw pernah mencium dan bercumbu (dengan istri) dalam keadaan berpuasa. Tetapi beliau orang yang paling kuat menahan nafsu daripada kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim. Lafal hadist menurut muslim. Ia menambahkan dalam riwayat lain: “Demikian itu pada bulan Ramadhan”)

Kandungan Hadits:

Lelaki yang berpuasa boleh mencium dan bersentuhan dengan isrinya jika tidak mengkhawatirkan nafsu bangkit.
Sunat tidak mencium dan tidak bersentuhan bagi orang puasa jika mengkhawatirkan nafsu bangkit.
Boleh menceritakan hal-hal yang memalukan demi menjelaskan kebenaran.

index

6. Melakukan bekam (hijamah) ketika berpuasa.

Dari Ibnu Abbas Ra,

أَنْ النَّبِيِّ إِحْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ وَ إِحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ

“Bahwasanya Nabi Saw berbekam, padahal beliau dalam keadaan ihram dan beliau berbekam dalam keadaan berpuasa.” (HR. Bukhari)

Dari Syaddad bin Aus Ra,

النَّبِيِّ أَتَى عَلَى رَجُلٍ بِاْلبَقِيْعِ وَهُوَ يَحْتَجِمُ فِى رَمَضَانَ فَقَالَ : “أفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ”

“Bahwasanya Nabi Saw pernah melewati seorang lelaki yang berbekam di bulan Ramadhan di Baqi’. Maka beliau bersabda: “Berbukalah orang yang berbekam dan yang di bekam.” (HR. Imam lima kecuali Tirmidzi dan disahihkan oleh Ahmad, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban)

Dari Anas bin Malik Ra, ia berkata,

أَوَّلُ مَا كُرهَتِ الْحِجَامَةُ لِلصَّائِم أَنَّ جَعْفَرَ بْنَ أَبِى طَالِبٍ إِحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ فَمَرَّ بِهِ النَّبِيِّ ص م فَقَالَ : ” أفْطَرَ هَذَانِ” ثُمَّ رَخَّصَ النَّبِيُّ ص م بَعْدَ فِى الْحِجَامَةِ لِلصَّائِم وَكَانَ أَنَسٌ يَحْتَجِمْ وَهُوَ صَائِمٌ

”Pertama kali dimakruhkan berbekam bagi orang yang berpuasa adalah Ja’far bin Abu thalib. Ia berbekam dalam keadaan berpuasa dan Nabi Saw, melewatinya. Maka beliau bersabda: “Dua orang ini berbuka puasanya.” Kemudian Nabi Saw memberi kemurahan berbekam bagi orang yang berpuasa sesudah itu. Dan Anas pernah berbekam dalam keadaan berpuasa.” (HR. Daruquthni dan ia menguatkanya)

Kandungan Hadits:

Berbekam tidak membatalkan puasa menurut mayoritas ulama berdasarkan hadist Ibnu Abbas yang menasakh hadist Syaddad bin Aus ra. Sebagaimana ditunjukkan oleh hadist Anas. Di samping itu, Ibnu Abbas menemani Nabi Saw saat haji wada’ tahun 10 Hijriah, karena itu, hadistnya Mutakhir. Sementara Syaddad menemani Nabi pada tahun penaklukan Mekkah tahun 8 Hijriah, jadi hadistnya lebih dahulu.
Yang terbaik adalah menjauhi bekam pada saat berpuasa. Demikian menurut Imam Syafi’i.

juytr

7. Memakai celak mata ketika berpuasa.

Dari Aisyah Ra,

أَنَّ النَّبِيَّ ص م إِكْتَحَلَ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ صَائِمٌ

“Bahwasanya Nabi Saw memekai celak mata dalam bulan Ramadhan dan beliau sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad lemah. Tirmidzi berkata: “Tidak ada hadist sahih sedikitpun dalam bab ini”).

Kandungan Hadits:

Memakai celak tidak membatalkan puasa Ramadhan.

BHGFDSA

8. Hukum makan dan minum karena lupa ketika berpuasa.

Dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ نَسِىَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوَمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Barangsiapa yang lupa, ia sedang berpuasa, kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi ia makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

وَلِلْحَاكِمْ “مَنْ أفْطَرَ فِى رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاء عَلَيْهِ وَلَا كَفَّارَةَ” وَهُوَ صَحِيْحٌ.

Menurut Hakim disebutkan: “Barangsiapa yang berbuka dalam bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak wajib mengqadla dan membayar kifarat baginya.” Hadist ini sahih.

Kandungan Hadits:

Makan, minum, senggama yang di lakukan karena lupa tidak membatalkan puasa dan tidak mewajibkan qadha.
Puasa tidak batal karena lupa, baik puasa fardhu maupun sunat.

allah_04_by_manipakistani-d5cj1mk

9. Muntah ketika berpuasa.

Dari Abu Hurairah Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ اْلقَيْئُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيهِ وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ القَضَاءُ

“Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka ia tidak wajib mengqadha. Dan barangsiapa yang sengaja muntah, maka ia wajib mengqadha.” (HR. Imam lima. Ahmad mengaggap ma’lul sedangkan Daruquhtni menguatkan).

Kandungan Hadits:

Muntah, bekam dan mimpi basah tidak membatalkan. Sedangkan sengaja ingin muntah dan ingin keluar muntah membatalkan puasa.

BGVFDS

10. Kafarat orang yang jima’ suami-istri disiang hari bulan Ramadhan.

Dari Abu Hurairah Ra ia berkata,

جَاءَ رَجُلُ إِلَى النَّبِيِّ ص م فَقَالَ : هَلَكْتُ يَا رَسُولُ اللهِ؟ قَالَ : “وَمَا أَهْلَكَ” قَالَ : وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى فِى رَمَضَانَ فَقَالَ : “هَلْ تَجِدُ مَا تَقْتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ : لَا قَالَ : “فَهَل تَسْـتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ ” قَالَ : لَا قَالَ : “فَهَل تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا؟ ” قَالَ : لَا ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِي النَّبِيِّ ص م بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٍ فَقَالَ : “تَصَدَّقْ بِهَذَا” فَقَالَ : أَعَلَى أَفْقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيْنَ لَا بَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيِّ ص م حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ : “إِذْهَبْ فَأُطْعِمْهُ أَهْلَكَ” { رَوَاهُ السَّبْعَةُ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم}

“Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Saw, dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah celaka.” Nabi Saw, bertanya: “Apakah yang mencelakakanmu?” Ia menjawab: “Aku telah bersetubuh dengan istriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya: “Dapatkah engkau memerdekakan seorang budak?” Ia menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya: “Mampukah engkau puasa dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya: “Dapatkah engkau memberi makan kepada 60 orang miskin?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian Nabi duduk lalu diberi satu keranjang besar berisi tamar (kurma). Lalu beliau bersabda: “Sedekahkan ini!” Lelaki itu bertanya: “Apakah kepada orang yang lebih fakir daripada aku? Tiada di antara dua gunung Madinah penghuni rumah yang lebih memerlukan kurma itu daripada aku.” Maka Nabi Saw tertawa sehingga kelihatan gigi taringnya. Lalu beliau bersabda: “Pergilah, berikanlah itu kepada keluargamu.” (HR. Imam tujuh dan lafal hadist menurut riwayat Muslim).

Kandungan Hadits:

Wajib kifarat atas orang yang bersenggama pada siang hari Ramadhan, baik dia kaya atau miskin.
Kifarat lelaki yang menyenggama istrinya pada siang hari Ramadhan adalah memerdekakan budak mukmin atau berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enamm puluh miskin. Kifarat ini bersifat tertib.
Kifarat tersebut harus tertib dan urut. Tidak boleh berpindah ke hal kedua jika mampu melakukan yang pertama.
Boleh memakan makanan kifarat bagi orang yang wajib kifarat jika miskin.
Pihak wanita juga harus membayar kifarat jika dia suka sama suka. Jika di paksa, dia tidak wajib kifarat. Sebab Allah mengampuni orang yang lupa, orang yang di paksa dan orang yang khilaf.
Suanat bersikap lemah lembut kepada pelajar.
Boleh memberitahukan apa yang di lakukan lelaki dengan istrinya jika diperlukan.
Di benarkan ucapan mukallaf mengenai sesuatu yang tidak bisa diketahui, kecuali dari omongannya.

BGVDCS

11. Berpuasa bagi yang junub.

Dari Aisyah dan Ummi Salamah Ra,

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصِبْحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُوْمُ { مُتَفَقٌ عَلَيْهِ وَزَادَ مُسْلِم فِى حَدِيثِ أُمُّ سَلَمَةَ “وَلَا يَقْضِي”}

“Bahwasanya Nabi Saw bangun pagi dalam keadaan junub karena bersetubuh. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim. Muslim menambahkan dalam hadist Ummi Salamah:” Beliau tidak mengqdha puasa”).

Kandungan Hadits:

Sah puasa orang yang pagi hari junub karena senggama atau lainnya.
Boleh senggama pada malam-malam Ramadhan.

Wallahu’alam Bish Showab…

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

ramadhan-wall2

Rahasia Puasa Oleh H.MUSTAFA SEMRANI

Ketahuilah bahwa dalam puasa ada sesuatu yang khusus yang tidak ditemukan selain dalam puasa. Puasa mendekatkan hubungan kita kepada Allah SWT, sebagaimana telah Dia katakan:

“Puasa adalah untukku dan aku akan membalasnya.” [Shahih Bukhari dan Muslim]

Hubungan ini sudah cukup menunjukkan tingginya status berpuasa. Seperti halnya, Ka’bah dimuliakan karena dia untuk mendekatkan diri kepadaNya. Sebagaimana pernyataanNya:

“…dan sucikanlah rumahKu…” (QS Al Hajj, 22: 26)

Sungguh, puasa hanya memiliki nilai yang baik dalam dua konsep signifikan:

Pertama: Puasa itu adalah perbuatan rahasia dan tersembunyi selanjutnya tidak ada seorang pun dari mahkluk yang bisa melihatnya. Dengan demikian riya’ tidak bisa masuk ke dalamnya.

Kedua: Puasa adalah sebuah alat untuk menaklukan musuh-musuh Allah. Ini karena jalan yang ditempuh musuh-musuh Allah (untuk menyesatkan anak Adam) adalah dengan hawa nafsu. Makan dan minum itu menguatkan hawa nafsu.

Ada banyak riwayat yang mengindikasikan kebaikan puasa, dan semua telah dikenal dengan baik.

Sunnah-sunnah Puasa

Sahur dan mengakhirkannya adalah lebih baik, menyegerakan untuk berbuka puasa dan mengawalinya dengan memakan kurma.

Kedermawanan dalam memberikan juga sunnah pada saat Ramadhan sebagaimana melakukan perbuatan baik dan meningkatkan kebaikan. Ini sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah SAW.

Kemudian disunnahkan mempelajari Al-Qur’an dan melakukan I’tikaf pada saat Ramadhan terutama pada 10 hari terakhir, sebagaimana kita meningkatkan pelaksanaan (perbuatan baik) di dalamnya.

Dalam dua Shahih, ‘Aisyah berkata:

“Pada saat 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah akan mengencangkan ikat pinggangnya (izaar), menghabiskan malam dalam beribadah, dan membangunkan keluarganya (untuk Shalat).” [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ulama telah menjelaskan dalam dua pandangan berkaitan dengan pengertian dari “mengencangkan ikat pinggangnya (izaar)”:

Pertama: Itu berarti menjauhkan diri dari wanita.

Kedua: itu adalah sebuah ungkapan yang menandakan motivasi yang kuat dari Rosulullah SAW untuk tekun dan kontinyu melaksanakan perbuatan baik.

Mereka juga mengatakan bahwa alasan untuk perbuatannya Rosulullah SAW dalam 10 malam terakhir dalam Ramadhan adalah karena beliau SAW mencari Lailatul Qadar.

Sebuah penjelasan rahasia dan karateristik puasa

Ada tiga tingkatan berpuasa: puasa umum, puasa khusus, dan puasa yang lebih khusus.

Sebagaimana untuk puasa umum, maka itu adalah menahan diri terhadap lapar, haus dan kemaluan dari memenuhi keinginan mereka.

Puasa khusus adalah menahan diri terhadap pandangan, lidah, tangan, kaki, mendengar dan mata, sebagaimana menghentikan badannya untuk melakukan perbuatan dosa.

Kemudian puasa lebih khusus, itu adalah mengosongkan diri dari kerinduannya kepada kepentingan-kepentingan dunia dan memikirkan mana yang menjauhkan seseorang dari Allah.

Dari karateristik spesifikasi yang terakhir adalah bahwa seseorang menundukkan pandangannya dan menjaga lisannya dari perkataan kotor yang terlarang, tidak disukai atau yang tidak bermanfaat, sebagaimana megendalikan ketenangan terhadap anggota tubuhnya.

Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Al Bukhari:

“Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan buruk dan melakukannya, Allah memerlukan dirinya untuk meninggalkan makanan dan minumannya.”

[Shahih Al Bukhari, Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majaah]

Karateristik lain dalan puasa khusus adalah bahwa seseorang tidak mengisi perutnya terlalu banyak dengan makanan pada saat malam. Sungguh, dia makan yang terukur, untuk kebutuhan, anak Adam tidak mengisi sebuah kapal lebih banyak dari pada perutnya.

Jika dia makan untuk memenuhinya pada saat bagian pertama malam, dia tidak akan berhasil memanfaatkan dirinya untuk beramal di sisa malam yang lain. Sebagaimana jika dia makan untuk memenuhi sahur, dia tidak akan berhasil memanfaatkan dirinya sampai sore (jika terlalu kenyang). Ini karena terlalu banyak makan mengakibatkan malas dan kelesuan. Selanjutnya, sasaran dari puasa adalah melenyapkan sifat berlebihan seseorang dalam makan, karena itu yang dimaksudkan dengan puasa, adalah bahwa rasa lapar seseorang kemudian menjadi sebuah keinginan dalam bentuk amal soleh.

Puasa Sunnah

Sebagaimana puasa Sunnah, maka ketahuilah bahwa pilihan untuk berpuasa dilakukan pada hari-hari tertentu. Sebagian dari puasa ini terjadi setiap tahun seperti berpuasa enam hari pada bulan Syawal setelah Ramadhan, puasa hari Arafah, puasa Aasyuraa, dan puasa hari kesepuluh Dzul Hijjah dan Muharram.

Sebagian dari puasa-puasa Sunnah terjadi di setiap bulan, seperti awal bulan, di tengah bulan, dan pada akhir bulan. Kemudian siapa saja yang berpuasa pada bagian pertama bulan, di tengah, ataupun di akhir bulan maka dia telah melaksanakan perbuatan baik.

Sebagian puasa dilakukan setiap minggu dan itu adalah setiap senin dan kamis.

Puasa Sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Daud A.S. Dia akan melaksanakan puasa satu hari dan satu hari berbuka. Ini mencapai tiga sasaran berikut ini:

Jiwa yang diberikan bagiannya pada hari berbuka puasa. Dan pada hari berpuasa, itu benar-benar beribadah penuh.

Pada hari berbuka adalah hari bersyukur dan pada hari berpuasa adalah hari untuk bersabar. Iman terbagi menjadi dua bagian – syukur dan sabar. [Catatan: hadits dengan pernyataan yang sama tidak shahih, lihat Adh Dha’ifah: 625]

Itu adalah usaha yang sulit bagi tubuh. Ini karena setiap waktu jiwa mendapatkan suatu kondisi tertentu, yang mentransfer dirinya ke dalamnya.

Sebagaimana untuk puasa setiap hari, kemudian telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, hadits dari Abu Qatadah, bahwa Umar R.A. bertanya kepada Rasulullah SAW:

‘Bagaimana jika seseorang berpuasa setiap hari?’ Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Dia tidak berpuasa tidak juga dia batalkan puasanya – atau – dia tidak berpuasa dan dia tidak membatalkan puasanya.” [HR Muslim]

Ini berkaitan dengan seseorang yang berpuasa terus menerus, bahkan pada saat dimana dilarang untuk berpuasa.

Karekteristik dari puasa yang paling khusus

Ketahuilah bahwa seseorang yang telah diberikan ilmu mengetahui tujuan di balik berpuasa. Selanjutnya dia membebankan dirinya pada tingkat dimana dia tidak akan bisa melakukan yang lebih bermanfaat daripada itu.

Ibnu Mas’ud berkata: ‘Pada saat aku berpuasa, aku bertambah lemas dalam shalatku. Aku lebih menyukai shalat daripada puasa (sunnah).’

Sebagian dari Shahabat menjadi lemah bacaan Qur’an-nya pada saat sedang berpuasa. Selanjutnya, mereka lebih membatalkan puasa mereka (yaitu dengan mengurangi puasa sunnah), sampai mereka bisa mengimbangi dengan membaca Al-Qur’an. Setiap orang banyak mengetahui tentang kondisi dan bagaimana memperbaikinya.

Wallahu’alam bis showab!

H.Mustafa Semrani

H.Mustafa Semrani

 

GFDS

Puasa Itu Memang untuk Orang-Orang Beriman Oleh H.Mustafa Semrani

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa“. (Al-Baqarah: 183)

Ramadhan adalah ” الشهر كله “, bulan segala kebaikan: bulan ampunan, bulan tarbiyah (pembinaan), bulan dzikir dan doa, bulan Al-Qur’an, bulan kesabaran, bulan dakwah dan jihad. Masih banyak lagi makna-makna lain bulan Ramadhan yang memberikan tambahan kebaikan dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan dunia dan akhirat kaum beriman.

Seluruh kebaikan dan keutamaan itu, dalam bahasa Rasulullah, diistilahkan dengan ‘syahrun mubarak‘. Ini seperti yang tersebut dalam sebuah haditsnya, “Akan datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan mubarak. Allah mewajibkan di dalamnya berpuasa. Pada bulan itu dibukakan untuk kalian pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, setan-setan dibelenggu, serta pada salah satu malamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Barangsiapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikan di bulan itu, maka ia telah terhalang selamanya.” (Ahmad dan Nasa’i)

Mubarak dalam konteks Ramadhan artinya ‘ziyadatul khairat‘, bertambahnya pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi para pemburu kebaikan dan semakin sempitnya ruang dan peluang dosa dan kemaksiatan di sepanjang bulan tersebut. Sungguh satu kesempatan yang tiada duanya dalam setahun perjalanan kehidupan manusia.

Ayat di atas yang mengawali pembicaraan tentang puasa Ramadhan jika dicermati secara redaksional mengisyaratkan beberapa hal, di antaranya: pertama, hanya ayat puasa yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’. Sungguh bukti kedekatan dan sentuhan Allah terhadap hambaNya yang beriman dengan mewajibkan mereka berpuasa, tentu tidak lain adalah untuk meningkatkan derajat mereka menuju pribadi yang bertakwa ‘La’allakum tattaqun‘.

Ibnu Mas’ud ra merumuskan sebuah kaidah dalam memahami ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’, “Jika kalian mendengar atau membaca ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘hai orang-orang yang beriman‘, maka perhatikanlah dengan seksama; karena setelah seruan itu tidak lain adalah sebuah kebaikan yang Allah perintahkan, atau sebuah keburukan yang Allah larang.” Keduanya, perintah dan larangan, diperuntukkan untuk kebaikan orang-orang yang beriman. Memang hanya orang yang beriman yang mampu berpuasa dengan baik dan benar.

Kedua, bentuk perintah puasa dalam ayat di atas merupakan bentuk perintah tidak langsung dengan redaksi yang pasif: ‘telah diwajibkan atas kalian berpuasa‘. Berbeda dengan perintah ibadah yang lainnya yang menggunakan perintah langsung, misalnya shalat dan zakat: ‘Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat‘. Demikian juga haji: ‘Dan sempurnakanlah haji dan umrah kalian karena Allah‘. Redaksi sedemikian ini memang untuk menguji sensitifitas orang-orang yang beriman bahwa bentuk perintah apapun dan dengan redaksi bagaimanapun pada prinsipnya merupakan sebuah perintah yang harus dijalankan dengan penuh rasa ‘iman‘ tanpa ada bantahan sedikitpun, kecuali pada tataran teknis aplikasinya.

Ketiga, motivasi utama dalam menjalankan perintah beribadah dari Allah sesungguhnya adalah atas dasar iman -lihat yang kalimat ‘Hai orang-orang yang beriman‘– bukan karena besar dan banyaknya pahala yang disediakan. Sebab, pahala itu rahasia dan hak prerogatif Allah yang tentunya sesuai dengan tingkat kesukaran dan kepayahan ibadah tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Pahala itu ditentukan oleh tingkat kesukaran dan kepayahan seseorang menjalankan ibadah tersebut.”

Dalam konteks ini, hadits yang seharusnya memotivasi orang yang beriman dalam berpuasa yang paling tinggi adalah karena balasan ampunan ‘maghfirah‘ yang disediakan oleh Allah swt. Bukan balasan yang sifatnya rinci seperti yang terjadi pada hadits-hadits lemah atau palsu seputar puasa, karena tidak ada yang lebih tinggi dari ampunan Allah baik dalam konteks shiyam (puasa) maupun qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda tentang shiyam, “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (Muttafaqun Alaih). Dengan redaksi yang sama, Rasulullah bersabda juga tentang qiyam di bulan Ramadhan, “Barangsiapa yang shalat malam (qiyam) di bulan Ramadhan karena iman dan semata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Muttafaqun Alaih). Demikian juga doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah di bulan puasa adalah “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” Ampunan Allahlah yang menjadi kunci dan syarat utama seseorang dimasukkan ke dalam surga.

Yang juga menarik untuk ditadabburi adalah ibadah puasa merupakan ibadah kolektif para umat terdahulu sebelum Islam; ‘sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian‘. Hal ini menunjukkan bahwa secara historis, puasa merupakan sarana peningkatan kualitas iman seseorang di hadapan Allah yang telah berlangsung sekian lama dalam seluruh ajaran agama samawi-Nya. Puasalah yang telah mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan sisi kebaikan umat terdahulu yang kemudian dikekalkan syariat ini bagi umat akhir zaman. Prof. Mutawalli Sya’rawi menyimpulkan bahwa syariat puasa telah lama menjadi ‘rukun ta’abbudi‘ pondasi penghambaan kepada Allah dan merupakan instrumen utama dalam pembinaan umat terdahulu. Dalam bahasa Rasulullah saw. seperti termaktub dalam haditsnya, “Puasa adalah benteng. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa pada hari tersebut, maka janganlah ia berkata kotor atau berbuat jahat. Jika ada seseorang yang mencaci atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan (dengan sadar): ‘Aku sedang berpuasa’.” (Bukhari Muslim)

Ungkapan ‘agar kalian menjadi orang yang bertakwa‘ pada petikan terakhir ayat pertama dari ayat puasa merupakan harapan sekaligus jaminan Allah bagi ‘orang-orang yang beriman‘ dalam seluruh aspek dan dimensinya secara totalitas. Sebab, mereka akan beralih meningkat menuju level berikutnya, yaitu pribadi yang muttaqin yang tiada balasan lain bagi mereka melainkan surga Allah tanpa ‘syarat‘ karena mereka telah berhasil melalui ujian-ujian perintah dan larangan ketika mereka berada pada level mukmin. Allah swt. berfirman tentang orang-orang yang bertakwa, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam surga dan kenikmatan.” (Ath-Thur: 17). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di taman-taman surga dan di mata air-mata air.” (Adz-Dzariyat: 15). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di tempat yang aman, yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air.” (Ad-Dukhan: 51-52)

Itulah hakikat kewajiban puasa yang tersebut pada ayat pertama dari ayatush shiyam: perintah puasa adalah ditujukan untuk orang yang beriman. Berpuasa hanya akan mampu dijalankan dengan baik dan benar oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Motivasi menjalankan amaliah Ramadhan juga karena iman. Orang-orang beriman yang sukses akan diangkat oleh Allah menuju derajat yang paling tinggi di hadapan-Nya, yaitu muttaqin. Semoga kita termasuk yang akan mendapatkan predikat muttaqin setelah sukses menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisaban.

H.Mustafa Semrani

H.Mustafa Semrani

trew

Sunnah-sunnah ketika berbuka puasa OLEH H.MUSTAFA SEMRANI

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah azza wa jalla yang telah menyampaikan kita di bulan ramadhan yang penuh rahmat dan keberkahan ini. Mudah-mudahan kita senantiasa beramal dengan penuh keikhlasan hati dan dengan meng-ittiba’ petunjuk Rasulullah saw didalamnya,insyaa Allah…

Berkaitan dengan aktifitas ramadhan yang sedang kita jalankan saat ini, berikut beberapa sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw ketika berbuka puasa:
1. Ta’jil

 

Yaitu menyegerakan berbuka puasa sebelum menunaikan sholat maghrib.

Dari Sahl bin Sa’ad ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيٍرٍ مَا عَجَلُّوْا الفِطْرَ

artinya, “Senantiasa manusia (umat Islam) dalam keadaan baik selama ia menta’jilkan (menyegerakan) berbuka.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dari Anas ra ia berkata,

يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَ تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُتْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.

artinya, “Rasulullah berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma basah yang baru masak) sebelum sholat maghrib, bila tidak ada (beliau) berbuka dengan beberapa butir tamar (kurma kering), kalau tidak ada (beliau) minum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud)

Begitu juga dengan hadits Qudsi dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ: أَحَبَّ عِبَادِى إِلَىَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرَا.

artinya, “Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Hamba yang paling Aku cintai adalah yang paling sepat berbuka.”(HR. At-Tirmidzi)
2. Berbuka puasa dengan kurma.

 

Dari Anas ra ia berkata,

يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَ تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُتْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.

artinya, “Rasulullah berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma basah yang baru masak) sebelum sholat maghrib, bila tidak ada (beliau) berbuka dengan beberapa butir tamar (kurma kering), kalau tidak ada (beliau) minum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud)

Dari Sulaiman bin ‘Amir ad-Dhobbiy ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

إِذَا إِفْطرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ لَمْ يَجِدْ

artinya, “Apabila salah seorang dari kamu berbuka, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak menemukan, berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu pembersih.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)
3. Berdo’a ketika berbuka dengan do’a yang shahih.

 

Dari Abdullah bin ‘Amr al ‘Ash berkata bahwa Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya bagi orang berpuasa, pada waktu berbuka tersedia do’a yang makbul, diantaranya dengan membaca:

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْتَغْفِرْلِيْ.

artinya, “Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu.”(HR. Ibnu Majah)

Kemudian diriwayatkan dari Ibnu Umar ra ia berkata bahwa Rasulullah saw bila telah berbuka puasa, beliau membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْشَاءَ اللهُ.

artinya, “Telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat, dan pahala telah tetap, insyaa Allah.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Dan apabila seseorang yang berpuasa mendapatkan makanan berbuka dari orang lain, maka disunnahkan kepadanya untuk berdo’a:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُوْنَ وَ أَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَ صَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلاَئِكَةُ.

artinya, “Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang berpuasa, makananmu telah dikonsumsi oleh orang-orang yang bertaqwa, dan malaikat telah memanjaatkan do’a untukmu.” (HR. Abu Dawud)
4. Tidak berlebihan ketika berbuka.

 

Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya untuk tidak memenuhi hawa-nafsunya terhadap makanan yang dikonsumsinya. Beditupun saat menghadapi waktu berbuka puasa karena beliau saw bersabda,

مَا مَلأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسَبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ فَاعِلاً فَثُلُثُ لِطَعَامِهِ وَثُلُثُ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

artinya, “Tidak ada tempat paling buruk yang dipenuhi isinya oleh manusia, kecuali perutnya, karena sebenarnya cukup baginya beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Kalaupun ia ingin makan, hendaknya ia atur dengan cara sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i dan At-Tirmidzi)

Demikian beberapa sunnah Rasulullah saw berkenaan dengan amalan ketika waktu berbuka puasa tiba. Mudah-mudahan bermanfaat wa barakallahu fikum.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI