sa

7 Manfaat Sedekah

DALAM kehidupan sosial, kita selalu mendapati bahwa fakta setiap orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan imbalan dari kebaikannya. Imabalan itu bisa dalam betuk uang, penghargaan, apresiasi, dukungan, dan sebagainnya.

Begitu pula bila perbuatan itu dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, ia akan mendapatkan balasan, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat al Zalzalah ayat 7- 8;

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasanya) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasanya) nya pula.”

Beberapa waktu yang lalu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa memberi manfaat kepada oranglain merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengantarkan seseorang meraih kesuksesan. Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Succes sampai mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua agar seseorang meraih kesuksesan.

“Maka beruntunglah bagi orang yang Allah menjadikan kunci- kunci kebaikan lewat kedua tangannya, dan celaka bagi orang- orang yang Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan kunci- kunci kejahatan lewat dua tangannya.” (HR. Ibnu Majjah).

Beberapa Manfaat Berbagi

Pertama, mengundang datangnya rezeki. Memberikan berkah pada harta yang ada pada kita, menjauhkan pada bencana, serta menambah keuntungan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Pancinglah rezeki dengan sedekah”.

Kedua, dapat menolak bala. Menjauhkan dari api neraka dan melepaskannya dari kepicikan dunia akhirat. Menjadi naungan di hari kiamat nanti.

Ketiga, bisa menyembuhkan penyakit. Menghilangkan kesalahan dan membersihkan kecemaran serta mensucikan dari dosa.

Keempat, dapat menunda kematian dan memperpanjang umur.

Kelima, sedekah dapat mendatangkan pertolongan yang diperlukan dalam usaha yang dikerjakan.

Keenam, sedekah dapat meruntuhkan segala benteng setan dan mematahkan segala kekurangan mereka.

Ketujuh, sedekah memupuk cinta kasih terhadap sesama.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

sujud_tilawah-300x169

Panduan Sujud Tilawah dan Sujud Syukur

Sujud Tilawah

 

Sujud tilawah adalah sujud yang disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al Qur’an Al Karim.

 

Keutamaan Sujud Tilawah

 

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)

 

Sujud Tilawah itu Sunnah

 

 

Para ulama sepakat (beijma’) bahwa sujud tilawah adalah amalan yang disyari’atkan. Di antara dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar, “Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut jumhur (mayoritas) ulama yaitu Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, Al Laitsi, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Daud dan Ibnu Hazm, juga pendapat sahabat Umar bin Al Khattab, Salman, Ibnu ‘Abbas, ‘Imron bin Hushain, mereka berpendapat bahwa sujud tilawah itu sunnah dan bukan wajib.

Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata, “Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan riwayat ini pada Bab “Siapa yang membaca ayat sajadah, namun tidak bersujud.”

 

Tata Cara Sujud Tilawah

 

 

1- Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.

2- Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.

3- Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram dan juga tidak disyari’atkan untuk salam.

4- Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud.

5- Lebih utama sujud tilawah dimulai dari keadaan berdiri, ketika sujud tilawah ingin dilaksanakan di luar shalat. Inilah pendapat yang dipilih oleh Hanabilah, sebagian ulama belakangan dari Hanafiyah, salah satu pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, dan juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Namun, jika seseorang melakukan sujud tilawah dari keadaan duduk, maka ini tidaklah mengapa. Bahkan Imam Syafi’i dan murid-muridnya mengatakan bahwa tidak ada dalil yang mensyaratkan bahwa sujud tilawah harus dimulai dari berdiri. Mereka mengatakan pula bahwa lebih baik meninggalkannya. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/449)

Bacaan Ketika Sujud Tilawah

 

Bacaan ketika sujud tilawah sama seperti bacaan sujud ketika shalat. Ada beberapa bacaan yang bisa kita baca ketika sujud di antaranya:

Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca: “Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] (HR. Muslim no. 772)
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud: “Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku] (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484)
Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca: “Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)

Adapun bacaan yang biasa dibaca ketika sujud tilawah sebagaimana tersebar di berbagai buku dzikir dan do’a adalah berdasarkan hadits yang masih diperselisihkan keshohihannya.

Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- mengatakan, “Adapun (ketika sujud tilawah), maka aku biasa membaca: Subhaana robbiyal a’laa” (Al Mughni).

Dan di antara bacaan sujud dalam shalat terdapat pula bacaan “Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin”, sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Ali yang diriwayatkan oleh Muslim. Wallahu a’lam.

Sujud Tilawah Ketika Shalat

 

Dianjurkan bagi orang yang membaca ayat sajadah dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah agar melakukan sujud tilawah. Inilah pendapat mayoritas ulama.

Dari Abu Rofi’, dia berkata bahwa dia shalat Isya’ (shalat ‘atamah) bersama Abu Hurairah, lalu beliau membaca “idzas samaa’unsyaqqot”, kemudian beliau sujud. Lalu Abu Rofi’ bertanya pada Abu Hurairah, “Apa ini?” Abu Hurairah pun menjawab, “Aku bersujud di belakang Abul Qosim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ketika sampai pada ayat sajadah dalam surat tersebut.” Abu Rofi’ mengatakan, “Aku tidaklah pernah bersujud ketika membaca surat tersebut sampai aku menemukannya saat ini.” (HR. Bukhari no. 768 dan Muslim no. 578)

 

Ayat Sajadah dalam Al Qur’an

 

 

Al A’rof ayat 206
Ar Ro’du ayat 15
An Nahl ayat 49-50
Al Isro’ ayat 107-109
Maryam ayat 58
Al Hajj ayat 18
Al Hajj ayat 77
Al Furqon ayat 60
An Naml ayat 25-26
As Sajdah ayat 15
Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)
Shaad ayat 24
An Najm ayat 62 (ayat terakhir)
Al Insyiqaq ayat 20-21
Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)

 

Sujud Syukur

 

Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan oleh seseorang ketika mendapatkan nikmat atau ketika selamat dari bencana.

Dalil disyari’atkannya sujud syukur adalah,

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ.

Dari Abu Bakroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau mendapati hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah Ta’ala. (HR. Abu Daud no. 2774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Juga dari hadits Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di mana ketika diberitahu bahwa taubat Ka’ab diterima, beliau pun tersungkur untuk bersujud (yaitu sujud syukur).

Hukum Sujud Syukur

 

Sujud syukur itu disunnahkan ketika ada sebabnya. Inilah pendapat ulama Syafi’iyah dan Hambali.

Sebab Adanya Sujud Syukur

 

Sujud syukur itu ada ketika mendapatkan nikmat yang besar. Contohnya adalah ketika seseorang baru dikarunia anak oleh Allah setelah dalam waktu yang lama menanti. Sujud syukur juga disyariatkan ketika selamat dari musibah seperti ketika sembuh dari sakit, menemukan barang yang hilang, atau diri dan hartanya selamat dari kebakaran atau dari tenggelam. Atau boleh jadi pula sujud syukur itu ada ketika seseorang melihat orang yang tertimpa musibah atau melihat ahli maksiat, ia bersyukur karena selamat dari hal-hal tersebut.

Ulama Syafi’iyah dan Hambali menegaskan bahwa sujud syukur disunnahkan ketika mendapatkan nikmat dan selamat dari musibah yang sifatnya khusus pada individu atau dialami oleh kebanyakan kaum muslimin seperti selamat dari musuh atau selamat dari wabah.

Bagaimana Jika Mendapatkan Nikmat yang Sifatnya Terus Menerus?

 

Ulama Syafi’iyah dan ulama Hambali berpendapat, “Tidak disyari’atkan (disunnahkan) untuk sujud syukur karena mendapatkan nikmat yang sifatnya terus menerus yang tidak pernah terputus.”

Karena tentu saja orang yang sehat akan mendapatkan nikmat bernafas, maka tidak perlu ada sujud syukur sehabis shalat. Nikmat tersebut didapati setiap saat selama nyawa masih dikandung badan. Lebih pantasnya sujud syukur dilakukan setiap kali bernafas. Namun tidak mungkin ada yang melakukannya.

Syarat Sujud Syukur

 

Sujud syukur tidak disyaratkan menghadap kiblat, juga tidak disyaratkan dalam keadaan suci karena sujud syukur bukanlah shalat. Namun hal-hal tadi hanyalah disunnahkan saja dan bukan syarat. Demikian pendapat yang dianut oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menyelisihi pendapat ulama madzhab.

Tata Cara Sujud Syukur

 

Tata caranya adalah seperti sujud tilawah. Yaitu dengan sekali sujud. Ketika akan sujud hendaklah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, lalu bertakbir, kemudian melakukan sekali sujud. Saat sujud, bacaan yang dibaca adalah seperti bacaan ketika sujud dalam shalat. Kemudian setelah itu bertakbir kembali dan mengangkat kepala. Setelah sujud tidak ada salam dan tidak ada tasyahud.

Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

berharap_gl

Nikmat Allah (SWT) Yang Hakiki

Mungkin ada sebagian di antara kita yang berangan-angan agar besok dapat hidup mewah dan berkecukupan. Memiliki mobil dan rumah mewah serta uang yang banyak sehingga dapat membeli apa saja yang kita inginkan. Kita pun menyangka bahwa kenikmatan itulah yang akan membuat hidup kita senang dan bahagia. Akan tetapi, benarkah demikian? Sama sekali tidak. Bahkan banyak di antara orang-orang kaya yang merasa hidupnya tidak bahagia. Hatinya merasa sempit, tidak tenang, tenteram, dan damai. Lalu apakah nikmat Allah yang hakiki itu, yang akan membuat hidup kita ini bahagia?

 
Nikmat Allah yang Hakiki

 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Nikmat itu ada dua, nikmat muthlaqoh (mutlak) dan (nikmat) muqoyyadah (nisbi). Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam dan Sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita, agar Allah menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu padanya.”

Dari keterangan singkat Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, maka jelaslah bagi kita tentang, ”Apakah nikmat Allah yang hakiki itu?”. Nikmat Allah yang hakiki itu tidak lain dan tidak bukan adalah ketika Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita sehingga kita dapat mengenal Islam dan Sunnah serta mengamalkannya. Kita dapat mengenal tauhid, kemudian mengamalkannya dan dapat membedakan dari lawannya, yaitu syirik, untuk menjauhinya. Kita dapat mengenal dan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, dan dapat membedakan dan menjauhi lawannya, yaitu bid’ah. Kita pun dapat mengenal dan membedakan, mana yang termasuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan manakah yang maksiat?

Nikmat ini hanya Allah Ta’ala berikan khusus kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya. Dengan nikmat inilah kita dapat meraih surga beserta segala kemewahan di dalamnya. Oleh karena itu, ketika shalat kita selalu berdoa,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

”Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” (QS. Al Fatihah [1]: 6-7).

 
Bersyukur atas Nikmat Ilmu dan Amal Shalih

 

Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk bergembira dan berbahagia dengan karunia dan rahmat-Nya yang telah Dia berikan kepada manusia, berupa ilmu dan amal shalih. Allah juga mengabarkan bahwa keduanya itu lebih baik dari apa yang telah kita kumpulkan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

”Katakanlah,’Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’”. (QS. Yunus [10]: 58)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” dalam ayat di atas adalah Al Qur’an, yang merupakan nikmat dan karunia Allah yang paling besar serta keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan “rahmat-Nya” adalah agama dan keimanan. Dan keduanya itu lebih baik dari apa yang kita kumpulkan berupa perhiasan dunia dan kenikmatannya.

Di dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” adalah Islam, sedangkan yang dimaksud dengan “rahmat-Nya” adalah Al-Qur’an.

Al-Qur’an dan iman (Islam) ini tidak lain dan tidak bukan adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Iman dan Al Qur’an, keduanya adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Keduanya adalah petunjuk dan agama yang benar serta ilmu dan amal yang paling utama.”

Ilmu dan amal shalih inilah yang merupakan sumber kebahagiaan hidup kita. Karena kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan jiwa, kebahagiaan ruh dan hati. Kebahagiaan itu tidak lain adalah kebahagiaan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Itulah kebahagiaan abadi dalam seluruh keadaan kita. Kebahagiaan ilmu-lah yang akan menemani seorang hamba dalam seluruh perjalanan hidupnya di tiga negeri, yaitu negeri dunia, negeri barzakh (alam kubur), dan negeri akhirat.

 
Jalan Menuju Kenikmatan

 

Kenikmatan yang hakiki sebagaimana penjelasan di atas tidaklah mungkin kita raih kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i (ilmu agama). Hanya dengan menuntut ilmu syar’i kita dapat mengenal Islam ini dengan benar kemudian dapat mengamalkannya. Tidak mungkin kita dapat mengenal mana yang tauhid dan mana yang syirik, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah atau mana yang taat dan mana yang maksiat kecuali dengan menuntut ilmu syar’i. Karena pada asalnya, manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh dan tidak mengerti apa-apa. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”. (QS. An-Nahl [16]: 78)

Tidak ada cara lain untuk mengangkat kebodohan ini dari dalam diri kita kecuali dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Karena ilmu tidak akan pernah mendatangi kita, namun kita-lah yang harus mencari dan mendatanginya. Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah berkata, ”Tidak ada suatu amal pun yang sebanding dengan ilmu bagi orang yang benar niatnya”. Orang-orang pun bertanya,”Bagaimana niat yang benar itu?”. Imam Ahmad rahimahullah menjawab,”Seseorang berniat untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari selainnya.”

Ketika Allah memberikan hidayah kepada kita untuk bersemangat dan konsisten dalam menuntut ilmu syar’i dengan rajin membaca buku agama atau kitab-kitab para ulama atau rajin menghadiri majelis-majelis ilmu (pengajian) di masjid-masjid atau pun di tempat lainnya, maka ini adalah tanda bahwa Allah benar-benar menghendaki kebaikan untuk kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”

 
Nikmat Harta = Nikmat yang Nisbi

 

Dan sebaliknya, perlu kita ketahui bersama bahwa nikmat harta yang Allah Ta’ala berikan kepada kita bukanlah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Karena nikmat berupa harta tersebut juga Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hambaNya yang musyrik dan kafir. Bahkan bisa jadi orang-orang kafir itu lebih banyak hartanya daripada kita. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebut nikmat harta ini sebagai suatu kenikmatan yang sifatnya nisbi semata, tidak mutlak. Demikian pula nikmat-nikmat lain seperti badan yang sehat, kedudukan yang tinggi di dunia, banyaknya anak dan istri yang cantik.

Bahkan bisa jadi kenikmatan berupa harta ini adalah bentuk istidroj (tipuan atau hukuman) dari Allah sehingga manusia semakin tersesat dan semakin menjauh dari jalan-Nya yang lurus. Atau bisa jadi merupakan bentuk ujian dari Allah kepada manusia.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Ketika nikmat yang sifatnya nisbi merupakan suatu bentuk istidroj bagi orang kafir yang dapat menjerumuskannya ke dalam hukuman dan adzab, maka nikmat itu seolah-olah bukanlah suatu kenikmatan. Nikmat itu justru merupakan ujian sebagaimana istilah yang Allah berikan di dalam kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا

’Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata,’Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata,’Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidak!’ (QS. Al Fajr [89]: 15-17)

Maksudnya, tidaklah setiap yang dimuliakan dan diberi nikmat oleh Allah di dunia berarti Allah benar-benar memberikan nikmat kepadanya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi manusia. Dan tidaklah setiap yang Allah sempitkan rizkinya, dengan memberinya rizki sekadar kebutuhannya dan tidak dilebihkan, berarti Allah menghinakannya. Tetapi Allah menguji hambaNya dengan kenikmatan sebagaimana Allah juga menguji hambaNya dengan kesulitan.”

Oleh karena itu, marilah kita meng-introspeksi diri kita masing-masing. Setiap hari kita banyak berbuat maksiat dan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, namun sedikit sekali kita melakukan amal shalih. Akan tetapi, Allah Ta’ala justru membuka lebar-lebar pintu rizki kita sehingga kita dapat hidup berkecukupan. Saudaraku, tidakkah kita khawatir bahwa ini adalah bentuk istidroj (tipuan) dari Allah Ta’ala sehingga kita semakin durhaka kepada-Nya dengan harta yang kita miliki? Atau tidakkah kita khawatir bahwa ini adalah ujian dari Allah kepada kita, sehingga Allah mengetahui mana di antara hamba-Nya yang bersyukur dan mana yang kufur? Atau apakah kita justru akan tertipu sehingga kita merasa aman dari adzab Allah dan terus-menerus berbuat maksiat karena menyangka bahwa Allah mencintai kita dengan dilancarkan rizkinya?

 

Wallahul musta’an.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

ibadah5

3 Amalan Harian Muslim Sejati

Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim… Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.

index

Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya…

jhgtrytr

Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya…, Allahumma amin.

[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya…” (QS. al-Ahzab: 41). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. al-Munafiqun: 9). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

des

[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.” (HR. al-Hakim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita tabaraka wa ta’ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, ‘Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

bgvfdbgvfd

[3] Mohon ampunlah kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” (QS. al-Anfal: 33). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).

Saudaraku,… perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian… Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya…

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

nbvc

Ketika Umat Islam Berkuasa

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. An-Nur: 55)

Janji Allah Pasti Benar

Ayat di atas menyebutkan bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang beriman dengan beberapa janji, dan janji Allah pasti benar adanya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”(Qs. Ali Imran: 9)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. (Qs. Fathir: 5)

Iman dan Amal Sholeh yang diterima Allah

Allah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh. Apa kriteria iman dan amal shaleh yang diterima Allah dan berhak mendapatkan janji Allah? Jawabannya terdapat di dalam firman-Nya:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Mulk : 2 )

Berkata al-Fudhail bin Iyadh:

أَحْسَنُ عَمَلاً أَخْلَصَهُ وَأَصْوَبَهُ ، الْعَمَلُ لَا يُقْبَلُ حَتَى يَكُوْنَ خَالِصاً صَوَاباً ، فَالْخَالِصُ إِذَا كَانَ لِلهِ وَالصَّوَابُ إِذَا كَانَ عَلَى السُّنّةِ

“Yang paling bagus amalnya, maksudnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Suatu amal tidaklah akan diterima sampai mempunyai dua sifat; murni dan benar. Murni yaitu jika amal itu dilakukan hanya karena Allah semata, sedang benar adalah jika amal tersebut berdasarkan sunnah.“ (lihat Muhammad Syarbini di dalam tafsir as-Siraj al-Munir: 4/244)

Tiga Janji Allah kepada Orang Beriman

Allah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh dengan tiga hal, yaitu :

Pertama: Akan berkuasa di muka bumi (Istikhlaf fi al-Ardhi)

Allah menjanjikan orang-orang beriman bahwa mereka akan benar-benar berkuasa di muka bumi ini sebagaimana orang-orang sebelum mereka berkuasa. Ini sesuai dengan firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Qs. al-Baqarah: 30)

Begitu juga dengan firman-Nya:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”. (Qs. al-Baqarah: 124)

Begitu juga dengan firman-Nya :

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik..”. (Qs. Yusuf: 55-56)

Ini dikuatkan juga dengan firman-Nya :

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. (Qs. Shod: 26)

Ini juga dikuatkan dengan firman-Nya:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

”Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (Qs. Shood: 35)

Ayat–ayat di atas menunjukkan kebenaran janji-janji Allah, karena sejarah telah membuktikan hal tersebut, maka sebagai orang yang beriman tidak boleh ragu-ragu dengan janji Allah tersebut.

Kedua: Agama Islam akan kuat

Hal Ini menunjukkan bahwa kekuasan akan menopang tegaknya agama. Berkata Ustman bin Affan:

إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن

“Sesungguhnya Allah bisa mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan al-Qur’an “

Allah memuji dan akan menolong penguasa yang menegakkan agama, sebagaimana firman-Nya :

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (Qs. al-Hajj: 40-41)

Ketiga: Memberikan rasa aman

Kalau agama tegak, maka stabilitas keamanan akan terwujud. Sebagaimana firman-Nya :

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini . Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Qs. Quraisy: 1-5)

Ayat di atas menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan dua hal yang pokok di dalam hidup ini, yaitu mereka membutuhkan makanan untuk menghilangkan rasa lapar, dan yang kedua mereka membutuhkan rasa aman sehingga hidup mereka tidak ketakutan. Ini bisa terwujud jika Negara dipimpin oleh orang yang menegakkan tauhid dan memerintahkan rakyatnya untuk menyembah Allah.

Kapan janji Allah terwujud?

Ketika umat Islam benar-benar menyembah Allah, takut kepada ancamanan dan siksa-Nya, sehingga benar-benar mereka tunduk kepada-Nya dan taat kepada perintah-Nya, mengikuti ajaran Rasul-nya, serta bersama orang-orang beriman dan orang-orang shalih lainnya, saat itulah janji Allah akan terwujud, Allah berfirman:

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

“Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku”. (Qs. Ibrahim: 14)

Allah juga berfirman:

كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي

“Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. “ (Qs. al- Mujadilah: 21)

Allah juga berfirman :

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” (Qs. Ghafir: 51)

Allah juga berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Qs. al-Anbiya’: 105)

Allah juga berfirman:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,(yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (Qs. as-Shoffat: 171-173)

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang-orang yang takut kepada-Nya, Amien.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

bahagia-dunia-akhirat

Orang yang Berbahagia adalah Orang-orang Beriman

Kebahagiaan adalah sebuah keadaan di mana hati manusia merasakan kedamaian dan ketentraman. Keadaan tersebut tidak bergantung pada wujud kebendaan atau raga manusia, melainkan bergantung pada suasana dan keadaan ruhani mereka masing-masing. Semenjak kebahagiaan selalu terletak di dalam hati, maka keterbatasan raga seperti apapun yang dimiliki oleh manusia pada dasarnya tak akan pernah menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka. Kita mungkin sering mendapati pemandangan di mana orang-orang yang cacat fisik ternyata bisa tersenyum menikmati hidup mereka tanpa perlu mengeluhkan nasib atau kekurangan pada tubuhnya. Mereka tampak bisa berbahagia meskipun kenyataannya mereka mengalami kesulitan jasmani. Dan itu semua tak lain adalah karena mereka telah terbiasa mengelola suasana batin mereka di samping kenyataan fisik yang mereka alami tersebut. Justru salah satu hal yang dapat merampas kebahagiaan mereka tersebut adalah ketika mereka membanding-bandingkankan nasib mereka dengan orang lain, atau berangan-angan untuk bertukar nasib dengan mereka yang utuh anggota badannya.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa salah satu sebab yang dapat ditempuh oleh manusia untuk dapat meraih kebahagiaan, yaitu adalah dengan menghilangkan belenggu yang mengikat dan mengekang hati mereka. Belenggu tersebut adalah segala bentuk suasana batin yang berupa keresahan dan ketidaknyamanan, yang mana bentuk usaha dalam menghilangkannya adalah dengan belajar meredam emosi negatif dalam diri kita, misalnya meredam kemarahan ketika kita sangat berhak untuk marah; ataupun ketika kita sebenarnya berhak untuk mengembalikan gangguan yang telah ditujukan kepada kita, maka kita justru berusaha untuk menepisnya atau merelakannya saja; dan seterusnya. Karena pada dasarnya, kemarahan dan segala bentuk emosi lain yang semacam itu adalah merupakan bentuk-bentuk belenggu yang banyak merampas kemerdekaan hati kita sendiri, sehingga dengan berusaha untuk melepaskan belenggu-belenggu tersebut, maka kita pun akan merasa semakin bebas dan tenang. Begitu juga sebaliknya, ketika kita membiarkan belenggu tersebut melilit hati kita, maka kita justru akan banyak terkekang dan lebih sering mengalami keresahan.

Namun bagaimanapun, melepaskan belenggu emosi tersebut bukan berarti akan mengharuskan kita untuk menghilangkan potensinya sama sekali. Tentu setiap manusia tidak mungkin menghapus potensi kemarahan dalam dirinya, karena potensi semacam itu adalah justru merupakan bentuk anugerah. Kemarahan adalah emosi yang sangat wajar dan manusiawi. Dan pada dasarnya, setiap manusia juga memiliki beragam jenis emosi yang sama, namun komposisinya saja yang mungkin berbeda. Jadi, sebenarnya potensi hati yang berupa kemarahan, kebencian, kekecewaan, dan potensi-potensi lain yang semacam itu, adalah justru bentuk anugerah yang harus dikelola dengan seimbang dan sesuai dengan takarannya, dan bukan untuk dihilangkan atau dihapus, agarjustru tarik-ulur antara beragam emosi tersebut dapat menciptakan keseimbangan perasaan dan sikap dalam diri kita. Tentu kita akan harus marah ketika agama Allah SWT dinistakan, benci dengan penistaan tersebut, dan kecewa jika yang menistakan tidak bertaubat.

Demikianlah. Dan salah satu bentuk usaha dalam mengelola potensi-potensi emosi tersebut agar tidak berlebihan dalam sisi negatifnya, dan agar sesuai pada tempat dan ukurannya,maka kita bisa mengatur sudut pandang kita dalam menilai suatu keadaan. Dengan sudut pandang yang positif, maka suatu keadaan yang tampak negatif sekalipun akan bisa saja berubah menjadi positif. Begitu juga sebaliknya, sebuah keadaan yang sebenarnya positif justru akan dapat berubah menjadi negatif, hanya karena masalah sudut pandang juga. Maka dari itu, sebenarnya kita akan dapat merasakan banyak kenyamanan jika kita dianugerahi kemudahan untuk banyak berfikir positif dalam segala bentuk keadaan kita. Sehingga, ketika misalnya kita sedang mengeringkan pakaian di jemuran, maka kita tak akan perlu mengeluhkan hujan yang ternyata turun tiba-tiba, karena ketika itu kita melihat keadaan tersebut dengan sudut pandang yang positif, yaitu melihat kebahagiaan para petani dan pemilik kebun yang justru telah menantikan hujan tersebut sebelumnya. Dan dengan merelakan kebahagiaan para petani dan pemilik kebun tersebut, maka basahnya pakaian kita pun tak akan menjadi permasalahan yang perlu dikeluhkan, karena kita sadar bahwa manfaat beragam tanaman di sawah dan kebun tentu akan lebih banyak dirasakan oleh semua orang daripada sejumlah pakaian di jemuran kita, dan bahkan kita sendiri pun juga akan ikut merasakan hasil sawah dan kebun tersebut nantinya.

Demikianlah makna sudut pandang positif yang mana akan selalu dapat membuat kita berbahagia dalam segala keadaan. Namun, kaidah kebahagiaan semacam itu ternyata tidak hanya dapat diraih oleh kita orang-orang yang beriman saja, melainkan oleh siapapun yang memiliki hati dan menginginkan kebahagiaan di dunia ini. Kita tentu sering mendapati kenyataan bahwa orang-orang non-Muslim pun ternyata juga bisa berbahagia dengan keadaan mereka di dunia ini. Mereka juga merasa damai ketika mampu menguasai beban dalam hatinya, senang ketika telah berhasil menolong orang lain, bersemangat dalam berbuat baik untuk manusia dan kemanusiaan. Mereka bahkan juga benar-benar menangis tulus ketika berdoa dan sembahyang, meskipun Tuhan yang mereka seru bukanlah Allah SWT semata. Mereka juga terharu ketika melihat bencana alam atau musibah, murka ketika menyaksikan tindak kejahatan, ingin menolong ketika ada yang teraniaya, dan beragam kebaikan hati lainnya yang dapat dimiliki oleh manusia. Namun demikianlah kapasitas ruhani manusia yang berupa hati, yaitu tempat bagi kebahagiaan dan perasaan-perasaan lainnya, yang dapat dimiliki oleh orang-orang yang tak beriman sekalipun.

Adapun bagi kita orang-orang yang beriman, maka makna kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah sekedar perasaan damai dan tentram di dunia ini saja, melainkan terlebih ketika kita diberi anugerah kebenaran oleh Allah SWT yang mana akan menjadi sebab keselamatan dan kedamaian kita di akhirat kelak. Anugerah kebenaran inilah yang tidak dimiliki oleh orang-orang kafir non-Muslim. Dialah anugerah Allah SWT yang berupa hidayah iman dan Islam. Memang, kita mengakui bahwa orang-orang non-Muslim pun juga banyak yang telah beramal kebaikan, namun tentu antara kebaikan dan kebenaran itu tak akan bisa disamakan. Kebaikan akan bisa dimiliki oleh siapa saja yang mengusahakannya, sedangkan kebenaran, yaitu kebenaran dalam arti yang mutlak, maka ia hanya akan dimiliki oleh ummat yang mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya saja. Kebenaran inilah yang merupakan anugerah tertinggi dan sumber kebahagiaan puncak yang tak mungkin terbeli meskipun dengan dua kali lipat nilai dunia dan seisinya.

Dengan dianugerahi hidayah iman dan Islam, usaha manusia dalam beramal kebaikan pun tidak hanya akan dibalas dengan kebaikan di dunia ini saja, melainkan juga dibalas di akhirat yang lebih abadi kelak. Allah SWT telah menjanjikan hal tersebut di dalam al-Qur’an, di mana Dia memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwa barangsiapa bertaqwa kepada-Nya dan senantiasa berusaha untuk berbuat baik serta bersabar dalam ketaatan kepada-Nya, maka pahala bagi mereka adalah kebahagiaan hidup di dunia ini dan juga di akhirat nantinya. Di dalam al-Qur’an disebutkan yang artinya:

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu. (Balasan) bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini adalah kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.’” (Az-Zumar: 10)

“Karena itulah Allah memberikan kepada mereka pahala (kebaikan) di dunia (ini) dan pahala yang baik di akhirat (kelak). Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Aali ‘Imraan: 148)

“Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan, (maka) akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Asy-Syuuraa: 23)

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka; Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang telah mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”(Al-Baqarah: 201-202)

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang bersabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, (sesungguhnya) Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”(Al-Ahzaab: 35)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia; Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang bersabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-An’aam: 160)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir (terdapat) seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Al-Baqarah: 261)

Demikianlah beberapa ayat pembangkit semangat agar kita cenderung untuk senantiasa berusaha berbuat kebaikan, sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan kita masing-masing. Meskipun kita belum tentu termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut, namun setidaknya kita bisa menggali semangat dari nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya, bahwa dengan berusaha untuk senantiasa menempuh kebaikan, maka niscaya kita pun akan dimudahkan dalam segala kebaikan yang kita harapkan di dunia ini dan di akhirat kelak, insyaa’Allah. Dan itulah kebahagiaan orang-orang yang beriman.

Oleh karena itu, seharusnyalah kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa janji-janji Allah SWT itu pasti akan terwujud dan ditepati. Karena sejauh kita meragukan janji-janji-Nya, maka akan sejauh itu pulalah jarak kita dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika kita membaca atau mendengarkan sebuah janji kebaikan di dalam al-Qur’an, meskipun hanya dari satu ayat saja, namun benar-benar kita tancapkan dengan kuat di dalam hati, maka pasti kita tidak akan pernah kecewa dengan meyakininya, karena pasti tiada yang lebih benar perkataannya dari perkataan Allah SWT. Dan yang sebenarnya banyak menjadi keresahan dalam hidup kita adalah ketika kita menyimpan keraguan terhadap janji-janji Allah SWT tersebut.

Dan selain janji-janji Allah SWT yang telah disampaikan tersebut, Allah SWT juga telah berjanji bahwa ummat Islam yang pernah berselisih selama di dunia ini, kelak di dalam surga akan dikumpulkan dalam keadaan bersih dari belenggu hati, yang mana telah banyak menciptakan jarak di antara mereka. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai, dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.’ Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan oleh apa yang dahulu telah kalian kerjakan.’” (Al-A’raaf: 43)

Demikianlah kebahagiaan orang-orang yang beriman, yaitu ketika mereka dikumpulkan di dalam surga setelah memperoleh ridha-Nya. Memang, kita tak pernah bisa memastikan posisi kita di akhirat kelak, namun yang telah pasti adalah janji Allah SWT bahwa barangsiapa berusaha untuk mengejar ridha-Nya, mengharapkan pertemuan dengan-Nya kelak di akhirat, maka sesungguhnya Allah SWT telah mempersiapkan balasan terbaik bagi hamba tersebut.

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (Al-Israa’: 19)

“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-‘Ankabuut: 5)

Demikianlah Allah SWT menjanjikan kebaikan bagi orang-orang yang beriman. Jika saja ummat Islam di tanah air kita dikehendaki oleh Allah SWT, dan semoga demikian, untuk dapat bersatu dalam semangat mengejar ridha-Nya, dengan cara menerapkan syari’at Islam sebagai dasar hukum negara, yang dengannya agama mereka, jiwa mereka, akal mereka, keturunan mereka, serta harta mereka akan dapat terjaga dan terpelihara, maka niscaya tak akan ada lagi saling menghina dan menyakiti antara sesama saudara seiman. Bahkan dalam berdakwah menyeru orang non-Muslim pun juga tak akan ada penghinaan ataupun pemaksaan secara fisik, melainkan dengan cara yang baik sesuai sunnah Rasulullah SAW, karena yang sebenarnya diserukan adalah hidayah iman, sedangkan iman itu letaknya di dalam hati, dan bukan pada fisik manusia. Dan tentunya untuk dapat membuka hati, tentunya tidak mungkin dengan cara menghina dan mencela, apalagi dengan kekerasan fisik. Kekerasan fisik hanyalah diperbolehkan ketika memang kita telah diperangi secara fisik juga.

Jika syari’at Islam diterapkan, maka negara akan memisahkan dengan tegas antara agama Islam dengan agama Ahmadiyah yang menabikan imamnya, yang mana selama ini sering menjadi permasalahan yang menimbulkan kekerasan fisik; begitu juga dengan agama Syi’ah yang berlebihan mengkultuskan Ali RA dan para imamnya, yang hingga mengkafirkan para sahabat Rasulullah SAW, dan juga aliran-aliran menyimpang lainnya. Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, dan bukan yang menyelisihi dua sumber kebenaran tersebut. Dan di samping itu, negara juga akan harus menutup tempat-tempat maksiat yang telah banyak menjadi sumber kerusakan moral di masyarakat, namun juga harus menyediakan lapangan pekerjaan yang layak sebagai penggantinya. Dan masih banyak lagi perkara-perkara lain yang akan dapat diperbaiki dengan syari’at Islam.

Dan mungkin, untuk keadaan saat ini, usaha yang tampaknya bisa ditempuh untuk dapat menuju ke arah itu adalah dengan bersatunya partai-partai yang memperjuangkan Islam, agar ummat Islam yang beragam latar belakangnya dapat diarahkan kepada usaha penerapan syari’at Islam sebagai dasar hukum negara. Dan jika hal tersebut benar-benar terwujud, dan semoga dapat terwujud, maka itulah bentuk kebahagiaan orang-orang yang beriman di dunia ini, di mana semuanya bersatu dalam ketaatan kepada hukum Allah SWT. Dan kelak di akhirat mereka akan dianugerahi kebahagiaan yang lebih baik lagi, dengan kehendak Allah SWT.

Sesungguhnya, kemampuan untuk beramal kebaikan ataupun menghindari keburukan hanyalah rahmat dari Allah SWT semata, dan bukan dihasilkan oleh kemampuan manusia itu sendiri. Segala bentuk keberhasilan manusia dalam urusannya ataupun keselamatan mereka dari kesulitan hidup, pada hakikatnya hanyalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, dan bukan tanda-tanda kekuasaan mereka sendiri, karena semua manusia hanyalah makhluq yang sama-sama lemah dan tak berdaya tanpa pertolongan Allah SWT. Tiada manusia yang sanggup memasukkan dirinya sendiri ke dalam surga, ataupun menyelamatkan dirinya sendiri dari neraka, melainkan semuanya hanyalah melalui rahmat Allah SWT. Jika sebuah usaha kebaikan saja belum tentu diridhai oleh Allah SWT, maka setidaknya kita tidak sampai berniat untuk berbuat jahat, yang sudah pasti tidak diridhai-Nya. Dan jika ternyata kita telah terlanjur berbuat salah tanpa sadar sebelumnya, maka sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Semoga kita termasuk orang-orang beriman yang dianugerahi kebahagiaan yang sejati, di dunia ini dan terlebih di akhirat kelak. Dan hanya dari dan milik Allah SWT sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

fdsa

Why Two Women Witnesses? : Misconceptions about Women in Islam

A question that repeatedly arises is that concerning the ‘position of women in Islaam’. Muslim scholars have been able with great success – despite the onslaught of distortion and mis-representation – to demonstrate the true position of Muslim women; especially of women’s liberation in the advent of Islaam. The Islaamic ruling on issues such as inheritance, the right to earn, the right to own property etc. have reinforced this position and have been prescribed by Allaah – the One True God – long before western nations even thought of such concepts!

nm

The issue of two women witnesses in place of one man is the concern of the present treatise. As will become clear to the sincere and objective reader, the intellectual status of a Muslim woman is neither marred nor degraded by the commandment that if two Muslim male witnesses are not available then one Muslim male and two Muslim females should be invited to witness. Rather, this injunction is in perfect harmony with the nature and psychology of the woman as will become evident through quotations from psychologists, psychiatrists and medical research.

jmnklkl

The passage of the Qur’aan (Baqarah 2:282) in which the above-mentioned requirement is made has usury, capital and debtor difficulties as its theme. Allaah grants guidelines in matters relating to monetary obligations. Then business transactions are dealt with. In this section, the requirement to commit all transactions into writing is stated most emphatically (Reduce them to writing…). The section after this describes the responsibility of the scribe, or in modern parlance, the person responsible for drawing up the agreement. The following section describes the responsibility and the obligation of the person incurring the liability. The section after this explains how if the party that is liable cannot effectively draw up the contract – out of being deficient or weak mentally, or being unable to dictate – then his or her guardian should help draw out the contract and choose two suitable witnesses to observe. It must be understood that this situation arises if it is not possible for the liable party to draw out the contract by him/herself. The condition to put things into writing is still supreme.

VCXZ

The next section then explains that two men should be called to witness and if two men are not available (And if there are not two men…) then a man and two women. The legislation then continues and reminds most emphatically that one should not be complacent about putting ALL agreements into writing – no matter whether these agreements are major or minor as this is more JUST in the sight of Allaah and more reliable as evidence. The passage of the Qur’aan further explains that for practical reasons it may not always be possible to commit on-the-spot agreements into writing. In this case, it is also recommended that it be witnessed. The section which follows then lays down the guidelines which should be followed in the event that no witnesses are present.

gfdefgb

The purpose in giving the above outline is to draw attention to the fact the question of women witnesses relates, in this instance, to commercial agreements and is not a STATEMENT ON THEIR STATUS.

Let’s look at the section under investigation in more detail. Allaah said:

And get two witnesses of your own men, and if there are not two men then a man and two women such as you choose for witnesses – so that if one of them errs, the other can remind her… [Baqarah 2:182]

A number of questions (as well as eyebrows!) are raised when this section of the passage is read. The questions often posed include:

* Do women have weaker memories than men?
* Why should two women be needed in the place of one man?
* Are women inferior to men?

One must remember that Prophet Muhammad (sallallaahu alayhi wasallam) was neither a physiologist, a psychiatrist and nor a surgeon. He was an illiterate and could neither read nor write. He passed on the revelation exactly as he received it. Allaah, the Creator, with His infinite wisdom gave the directives best suited to humankind. He is the Creator, therefore, He knows man better than a man himself.

bgfgf

In this scientific age we can explore the significance of this legislation. A great deal has been discovered since the early days of Islaam. And each day of advancement brings about a better understanding of the the last and final revelation from the Creator, Allaah to the creation, humankind.

As women, we are aware of the cyclical psychological strains that a woman has to encounter every month. The symptoms during early pregnancy, ante-natal and post-natal depressions, the phenomenon of menopause, the physiological and psychological problems due to infertility and last but not least the psychological problems faced after miscarriage.

19958_101275836570536_100000643598927_35305_4314283_n

It is under these situations that women can experience extraordinary psychological strains giving rise to depression, lack of concentration, slow-mindedness and SHORT TERM MEMORY LOSS. Let us examine these episodes in a bit more detail and with medical references from the scientific world. PMT is an umbrella term for more than 140 different symptoms and there is a lot of evidence that it causes a lot of unhappiness in many women, and consequently, to their families.

Psychiatry in Practice, April 1983 issue states: “Forty percent of women suffer from pre-menstrual syndrome in some form and one in if our women have their lives severely disrupted by it. Dr Jill Williams, general practitioner from Bury, gives guidelines on how to recognise patients at risk and suggests a suitable treatment.”

MJNHTR

In the same issue, George Beaumont reporting on the workshop held at the Royal College of Obstreticians and Gynaecologists in London on pre-menstrual syndrome, says: “Some authorities would argue that 80 percent of women have some degree of breast and abdominal discomfort which is pre-menstrual but that only about 10 percent complain to their doctors – and then only because of severe tenderness of the breasts and mental depression… Other authorities have suggested that pre-menstrual syndrome is a new problem, regular ovulation for 20 years or more being a phenomenon caused by ‘civilisation’, ‘medical progress’, and an altered concept of the role of women.”

vfdscds

In its examination of the occurrence of physical and psychological change during the period just prior to the onset of menstruation we read in Psychological Medicine: “Many studies have reported an increased likelihood of various negative affects during the pre-menstrual period. In this affective category are many emotional designations including irritability, depression, tension, anxiety, sadness, insecurity, lethargy, loneliness, tearfulness, fatigue, restlessness and changes of mood. In the majority of studies, investigators have found it difficult to distinguish between various negative affects, and only a few have allowed themselves to be excessively concerned with the differences which might or might not exist between affective symptoms.”

vfdsa

In the same article dealing with Pre-menstrual Behavioural Changes we read: “A significant relationship between the pre-menstrual phase of the cycle and a variety of specific and defined forms of behaviour has been reported in a number of studies. For the purpose of their review, these forms of behaviour have been grouped under the headings of aggressive behaviour, illness behaviour and accidents, performance on examination and other tests and sporting performance.” The lengthy review portrays how female behaviour is affected in these situations.

vfcdsacds

In ‘The Pre-menstrual Syndrome’, C. Shreeves writes: “Reduced powers of concentration and memory are familiar aspects of the pre-menstrual syndrome and can only be remedied by treating the underlying complaint.” This does not mean, of course, that women are mentally deficient absolutely. It just means that their mental faculties can become affected at certain times in the biological cycle. Shreeves also writes: “As many as 80 percent of women are aware of some degree of pre-menstrual changes, 40 percent are substantially disturbed by them, and between 10 and 20 percent are seriously disabled as a result of the syndrome.”

vfcdsa

Furthermore, women face the problem of ante-natal and post-natal depression, both of which cause extreme cycles of depression in some cases. Again, these recurring symptoms naturally affect the mind, giving rise to drowsiness and dopey memory.

On the subject of pregnancy in Psychiatry in Practice, October-November 1986, we learn that: “In an experiment ‘Cox’ found that 16 percent of a sample of 263 pregnant women were suffering from clinically significant psychiatric problems. Eight percent had a depressive neurosis and 1.9 percent had phobic neurosis. This study showed that the proportion of pregnant women with psychiatric problems was greater than that found in the control group but the difference only tended towards significance.”

vdcsa

Regarding the symptoms during the post-natal cycle Dr. Ruth Sagovsky writes: “The third category of puerperal psychiatric problems is post-natal depression. It is generally agreed that between10 to 15 percent of women become clinically depressed after childbirth. These mothers experience a variety of symptoms but anxiety, especially over the baby, irritability, and excessive fatigue are common. Appetite is usually decreased and often there are considerable sleep difficulties. The mothers lose interest in the things they enjoyed prior to the baby’s birth, and find that their concentration is impaired. They often feel irrational guilt, and blame themselves for being ‘bad’ wives and mothers. Fifty percent of these women are not identified as having a depressive illness. Unfortunately, many of them do not understand what ails them and blame their husbands, their babies or themselves until the relationships are strained to an alarming degree.”

vcxds

“… Making the diagnosis of post-natal depression is not always easy. Quite often the depression is beginning to become a serious problem around three months postpartum when frequent contact with the health visitor is diminishing. The mother may not present with depressed mood. If she comes to the health centre presenting the baby as the patient, the true nature of the problem can be missed. When the mother is continually anxious about the baby in spite of reassurance, then the primary health care worker needs to be aware of the possibility of depression. Sometimes these mothers present with marital difficulties, and it is easy to muddle cause and effect, viewing the accompanying low mood as part of the marital problem. Sometimes, only when the husband is seen as well does it become obvious that it is a post-natal depressive illness which has led to the deterioration in the marriage.”

sdfvbsdfvb

Again there is a need to study the effects of the menopause about which very little is known even to this day. This phase in a woman’s life can start at any time from the mid-thirties to the mid-fifties and can last for as long as 15 years.

Writing about the pre-menopausal years, C.B. Ballinger states: “Several of the community surveys indicate a small but significant increase in psychiatric symptoms in women during the five years prior to the cessation of menstrual periods… The most obvious clinical feature of this transitional phase of menstrual function is the alteration in menstrual pattern, the menstrual cycle becoming shorter with age, and variability in cycle length become very prominent just prior to the cessation of menstruation. Menorrhagia is a common complaint at this time, and is associated with higher than normal levels of psychiatric disturbance.”

sdfvbsdf

On the phenomenon of menopause in an article in Newsweek International, May 25th 1992, Dr. Jennifer al-Knopf, Director of the Sex and Marital Therapy Programme of Northwestern University writes: “…Women never know what their body is doing to them… some reporting debilitating symptoms from hot flashes to night sweat, sleeplessness, irritability, mood swings, short term memory loss, migraine, headaches, urinary inconsistence and weight gain. Most such problems can be traced to the drop-off in the female hormones oestrogen and progesterone, both of which govern the ovarian cycle. But every woman starts with a different level of hormones and loses them at different rates. The unpredictability is one of the most upsetting aspects. Women never know what their body is going to do to them…”

sdfv

Then there are the psychiatric aspects of infertility and miscarriage. On the subject of infertility, Dr. Ruth Sagovsky writes: “Depression, anger and guilt are common reactions to bereavement. In infertility there is the added pain of there being nobody to grieve for. Families and friends may contribute to the feeling of isolation by passing insensitive comments. The gynaecologist and GPs have to try to help these couples against a backdrop of considerable distress.”

On the subject of miscarriage the above article continues: “Miscarriage is rarely mentioned when considering abortion. However, miscarriage can at times have profound psychological sequelae and it is important that those women affected receive the support they need. Approximately one-fifth of all pregnancies end in spontaneous abortion and the effects are poorly recognised. If however, the miscarriage occurs in the context of infertility, the emotional reaction may be severe. The level of grief will depend on the meaning of pregnancy to the couple.”

ret

Regarding the symptoms during the post-natal cycle Dr. Ruth Sagovsky writes: “The third category of puerperal psychiatric problems is post-natal depression. It is generally agreed that between10 to 15 percent of women become clinically depressed after childbirth. These mothers experience a variety of symptoms but anxiety, especially over the baby, irritability, and excessive fatigue are common. Appetite is usually decreased and often there are considerable sleep difficulties. The mothers lose interest in the things they enjoyed prior to the baby’s birth, and find that their concentration is impaired. They often feel irrational guilt, and blame themselves for being ‘bad’ wives and mothers. Fifty percent of these women are not identified as having a depressive illness. Unfortunately, many of them do not understand what ails them and blame their husbands, their babies or themselves until the relationships are strained to an alarming degree.”

hgtrehtregtre

“… Making the diagnosis of post-natal depression is not always easy. Quite often the depression is beginning to become a serious problem around three months postpartum when frequent contact with the health visitor is diminishing. The mother may not present with depressed mood. If she comes to the health centre presenting the baby as the patient, the true nature of the problem can be missed. When the mother is continually anxious about the baby in spite of reassurance, then the primary health care worker needs to be aware of the possibility of depression. Sometimes these mothers present with marital difficulties, and it is easy to muddle cause and effect, viewing the accompanying low mood as part of the marital problem. Sometimes, only when the husband is seen as well does it become obvious that it is a post-natal depressive illness which has led to the deterioration in the marriage.”

fdsadsa

Again there is a need to study the effects of the menopause about which very little is known even to this day. This phase in a woman’s life can start at any time from the mid-thirties to the mid-fifties and can last for as long as 15 years.

Writing about the pre-menopausal years, C.B. Ballinger states: “Several of the community surveys indicate a small but significant increase in psychiatric symptoms in women during the five years prior to the cessation of menstrual periods… The most obvious clinical feature of this transitional phase of menstrual function is the alteration in menstrual pattern, the menstrual cycle becoming shorter with age, and variability in cycle length become very prominent just prior to the cessation of menstruation. Menorrhagia is a common complaint at this time, and is associated with higher than normal levels of psychiatric disturbance.”

567u6543

On the phenomenon of menopause in an article in Newsweek International, May 25th 1992, Dr. Jennifer al-Knopf, Director of the Sex and Marital Therapy Programme of Northwestern University writes: “…Women never know what their body is doing to them… some reporting debilitating symptoms from hot flashes to night sweat, sleeplessness, irritability, mood swings, short term memory loss, migraine, headaches, urinary inconsistence and weight gain. Most such problems can be traced to the drop-off in the female hormones oestrogen and progesterone, both of which govern the ovarian cycle. But every woman starts with a different level of hormones and loses them at different rates. The unpredictability is one of the most upsetting aspects. Women never know what their body is going to do to them…”

Then there are the psychiatric aspects of infertility and miscarriage. On the subject of infertility, Dr. Ruth Sagovsky writes: “Depression, anger and guilt are common reactions to bereavement. In infertility there is the added pain of there being nobody to grieve for. Families and friends may contribute to the feeling of isolation by passing insensitive comments. The gynaecologist and GPs have to try to help these couples against a backdrop of considerable distress.”

4uiuy7654

On the subject of miscarriage the above article continues: “Miscarriage is rarely mentioned when considering abortion. However, miscarriage can at times have profound psychological sequelae and it is important that those women affected receive the support they need. Approximately one-fifth of all pregnancies end in spontaneous abortion and the effects are poorly recognised. If however, the miscarriage occurs in the context of infertility, the emotional reaction may be severe. The level of grief will depend on the meaning of pregnancy to the couple.”

Also, the fact that women are known to be more sensitive and emotional than men must not be overlooked. It is well known, for example, that under identical circumstances women suffer much greater anxiety than men. Numerous medical references on this aspect of female behaviour can be given but to quote as a specimen, we read in ‘Sex Differences in Mental Health’ that: “Surveys have found different correlates of anxiety and neuroticism in the two sexes. Women and men do not become equally upset by the same things, and being upset does not have the same effect in men as in women. Ekehammer (1974; Ekehammer, Magnusson and Ricklander, 1974) using data from 116 sixteen-year-olds, did a factor analysis on self-reported anxiety. Of the eighteen different responses indicating anxiety (sweating palms, faster heart rate, and so on) females reported experiencing twelve of them significantly more often than males. Of the anxiety-producing situations studied, females reported experiencing significantly more anxiety than males reported in fourteen of them.”

4rth

It is in light of the above findings of psychologist, psychiatrists and researchers that the saying of Allaah, the Exalted:

And get two witnesses of your own men, and if there are not two men then a man and two women such as you choose for witnesses – SO THAT IF ONE OF THEM ERRS, THE OTHER CAN REMIND HER… [Baqarah 2:182]

can be understood. One must also bear in mind that forgetfulness can be an asset. A woman has to be put up with children presenting all kinds of emotional problems and a woman is certainly known to be more resilient than man. The aim of presenting these research findings on a number of aspects related with the theme is to indicate that a woman by her biological constitution faces such problems. It does not however make her inferior to man but it does illustrate that she is different. Viewed in this way, it can only lead one to the conclusion that Allaah knows His creation the best and has prescribed precise laws in keeping with the nature of humankind.

Allaah, the Creator is – as always – All-Knowing and man (or the disbeliever in Allaah and the final, perfected, revealed way of life, Islaam) is – as usual – either ignorant and arrogant.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI