54455

Bacaan Shalat Yang Variatif & Hikmahnya

Dalam gerakan-gerakan shalat, kita mengenal bacaan yang berbeda-beda. Terdapat beberapa riwayat yang sama-sama shahih, masing-masing menerangkan doa yang berbeda untuk satu gerakan shalat. Sebagai contoh doa dalam sujud, ada beberapa riwayat yang menerangkan bacaan-bacaan yang berbeda ketika sujud.

sujud_tilawah-300x169

Dalam riwayat muslim; hadis Abu Hudzaifah radhiyallahu’anhu diterangkan bacaan sujud adalah,

سُبْحَانَ رَبِّـيَ الْأَعْلَى

/Subhaana Robbiyal A’la/ 3x
Maha suci Allah, Rabb yang Maha tinggi

Kemudian dalam riwayat lainnya; hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu diterangkan doa yang berbeda;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

/Allahummagh fir Lii Dzanbii Kullah, Diqqohu wa Jillah, wa Awwalahu wa Aakhiroh, wa ‘Alaaniyatahu wa sirroh/
Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, yang sekecil-kecilnya dan yang sebesar-besarnya, yang pertama dan yang terakhir,  yang terang-terangan dan yang tersembunyi

Dan masih ada riwayat-riwayat lain yang menerangkan doa sujud. Ini hanya sebagai misal saja.

nkmm

Lalu apa gerangan hikmah dari bacaan-bacaan  yang berbeda-beda ini?

Dalam Shifatus Sholah (hal. 172), Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, bahwa hikmahnya adalah agar seorang saat menjalankan shalat, selalu berada dalam konsentrasi dan upaya mencapai kekhusyukan. Sehingga bacaan-bacaan dalam shalat itu tidak hanya sebatas kebiasaan. Seorang bila bacaan sujudnya itu itu saja, maka tidak menutup kemungkinan dia akan jatuh dalam keadaan dimana membaca doa tersebut hanya sebatas kebiasaan, tanpa lagi tersadar untuk menghayati maknanya.

hgfdsbgfd

Berbeda halnya, bila terkadang Anda membaca doa lain; yang juga diajarkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam sholatnya. Maka saat itu Anda akan merasakan adanya usaha untuk menghayati makna yang terkandung dalam doa dan berusaha untuk menghadirkan konsentrasi. Sehingga Anda akan terbantu untuk mencapai kyusu’ dalam sholat.

hgfds

Barangkali ini bagian dari jawaban keluhan sebagian orang, mengenai sulitnya mencapai khusyuk dalam sholat. Bisa jadi dikarenakan bacaan doa yang tidak dinamis; hanya itu-itu saja. Sehingga yang ia rasakan dari doanya sebatas kebiasaan, kurang tersentuh makna dan kandungannya. Hati dan pikiran tidak ada usaha untuk menghayati dan konsentrasi.

bgfds

Disamping itu, orang yang berusaha mengamalkan (semampunya) seluruh doa yang diajarkan Nabi dalam setiap gerakan sholat, orang seperti ini lebih sempurna dalam hal mengikuti sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam, ketimbang mereka yang hanya membaca satu jenis doa saja. Karena mengingat Nabi dahulu membacanya berbeda-beda.

bvcd

Hikmah lainnya, Allahu a’lam; yang juga dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘ Utsaimin, karena obyek yang dituju dalam perintah ibadah kepada Allah adalah, manusia (mencakup di dalamnya jin). Dan sudah suatu hal yang maklum bahwa tabi’at manusia mudah merasakan bosan dengan kebiasaan yang tidak dinamis.

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Bukankah Allah (Yang telah menciptakan) mengetahui semua tentang ciptaanNya?! Allah mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Maha luas ilmuNya” (QS. Al Mulk: 14).

8765

Oleh karenanya, Allah ‘azzawajalla melalui RasulNya yang mulia; mengajarkan kepada hambaNya ibadah dalam berbagai macam variasi ibadah. Sebagai bentuk rahmad dan kasih sayang Allah kepada para hambaNya.

Allahua’lam bis showab..

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

hgtrej,.,jhgt

Tadarus Alquran

.,m

Menyibukkan diri dengan membaca Alquran al-Karim termasuk ibadah yang paling utama dan merupakan salah satu sarana yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya. Sebab Alquran adalah kalamullah dan merupakan asas Islam yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia; dengan syari’at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna. Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” (Qs. Fâthir [35]: 29).

kiuyt65rtj

Alquran juga akan memberi syafaat bagi orang yang membacanya. Rasulullah Saw bersabda:

“Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata, ‘Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Dan Alquran berkata, ‘Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan’.”

kjuytrewghmjhgf

Rasulullah Saw seringkali menyuru para sahabat untuk membaca Alquran di depan Beliau. Imam Bukhâri dan Muslim meriwayatkan bahwasannya Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ibn Mas’ud, dimana pada saat itu Rasulullah sedang di atas mimbar, “Bacakanlah kepadaku Alquran!” Ibn Mas’ud berkata, “Pantaskah aku membacakan untukmu, sedangkan Alquran diturunkan kepadamu?” Rasulullah Saw menjawab, “Sungguh aku senang mendengarnya dari orang lain.” Lalu Ibn Mas’ud pun membacakan surat an-Nisâ’hingga ayat yang berbunyi:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu ).” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 41).

hgtre

Beliau bersabda, “Cukup…Cukup!” Ketika aku menoleh, kata Ibn Mas’ud, aku melihat air mata beliau bercucuran.

Dari Ibn ‘Abbas ra berkata, “Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Alquran. Jibril menemui setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Alquran. Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”

gfde

Marilah kita perhatikan hadits-hadits nabi yang menceritakan tentang keutamaan membaca Alquran, serta tentang segala kebaikan yang sangat banyak kandungannya. Rasulullah Saw bersada:

“Bacalah Alquran karena sesungguhnya Alquran itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafaat kepada orang yang membacanya.”

kjhuytre

“Orang yang membaca Alquran dan ia mahir maka nanti akan bersama-sama dengan para malaikat yang mulia lagi taat. Sedang orang yang mebaca Alquran dan ia merasa susah di dalam membacanya tetapi ia selalu berusaha maka ia mendapat dua pahala.”

kjhuyte

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran itu adalah seperti utrujah yang mana baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca Alquran itu seperti buah korma yang mana tidak berbau tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran itu seperti bunga yang mana baunya harum tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran itu seperti hanzhalah yang mana tidak berbau dan rasanya pahit.”

fdsa

“Tidak ada iri hati itu diperbolehkan kecuali dalam dua hal yaitu: seseorang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca dan memahami Alquran kemudian ia membaca dan mengamalkannya baik pada waktu malam maupun siang; dan seseorang yang dikarunia harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya dalam kebaikan baik pada waktu malam maupun siang.”

gfredw

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Alquran) maka ia mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatkan, ‘Alif lâm mîm’ satu huruf tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

ertf

Dalam hal membaca Alquran, Rasulullah Saw telah mencontohkan kepada kita untuk membaca dengan tartil, dan tidak terburu-buru, dalam rangka melaksanakan firman Allah Swt:

“Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (Qs. al-Muzzammil [73]: 4).

Rasulullah Saw juga bersabda:

“Kelak (di akhirat) akan dikatakan kepada Shahibul Qur’an (orang yang senantiasa bersama-sama dengan Alquran, penj.), ‘Bacalah, naiklah terus dan bacalah dengan perlahan-lahan (tartil) sebagaimana engkau telah membaca Alquran dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca. ”

bnjmk,

Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Alquran al-Karim, Rasulullah Saw bersabda:

“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya.” [HR. Muslim].

ramadan_by_lind40-238x238

“Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) sambil membaca Alquran dan saling bertadarus bersama-sama, niscaya akan turun ketenangan atas mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para malaikat akan melindungi mereka dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya.”

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

ghjhjkl

Hijab

Jika diperhatikan belakangan ini semakin banyak muslimah yang memutuskan untuk berhijab, Alhamdulillah. Entah karena alasan fashion atau panggilan iman untuk menyempurnakan aqidah keislaman. Setidaknya dalam perspektif yang positif, fenomena berbondong-bondongnya para muslimah dalam berhijab ini perlu disyukuri. Mengapa ? Karena secara kuantitatif hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang tercerahkan dengan cahaya Islam. Bagaimana tidak, dalam proses pemantapan hati dalam mengenakan hijab tentu para Muslimah menghadapi banyak hal yang tentunya tidak pernah lekang dari peran serta Allah di sana. Dengan kata lain, kita harus mengimani bahwa Allah-lah yang menurunkan hidayah kepada mereka dengan berbagai alasan yang muncul. Baik karena memang ingin menjalankan syariah Islam dengan sempurna, karena pergaulan, fashion, diminta oleh orangtua/suami, peraturan institusi pendidikan dan yang lainnya; imanilah bahwa Allah yang telah menggerakkan hati mereka dan kemudian diikuti dengan usaha untuk mendekat kepada-Nya. Seperti yang telah Allah firmankan dalam Alquran (QS. Al-Kahfi: 17) “…..Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

Jadi dari sini jelas bahwa apapun alasan seseorang berhijab, satu hal yang harus disyukuri adalah bahwa secara fitrah kita telah diberikan hidayah oleh Allah sebagai bentuk kasih sayang kepada hamba-Nya. Selanjutnya tinggal bagaimana kita menyikapi perubahan tersebut dengan ihsan.

Kedua, dengan adanya fenomena di atas sebenarnya menjadikan hijab sebagai pendorong kreativitas dan produktivitas masyarakat terutama Muslimah dalam banyak aspek. Misalnya, mulai tumbuh suburnya usaha-usaha dalam bidang busana Muslimah, munculnya komunitas-komunitas hijabers, bahkan hingga kekreatifan para aktivis lembaga Islam di kampus atau masyarakat yang juga mulai fokus pada hal ini seperti mengadakan acara hijab class dan tutorial hijab yang cukup banyak menyedot perhatian. Pada dasarnya kondisi ini menjadi suatu hal yang wajar dan berdampak positif jika tetap pada batasan-batasan yang ada. Sebagaimana definisi hijab yang diungkapkan oleh Al-Zabidy dalam kitabnya Taj al-‘Urus bahwa al-Hijab adalah segala sesuatu yang menghalangi antara dua belah pihak. Artinya ada sebuah benda yang menghalangi penglihatan kita terhadap orang lain. Dalam hal ini hijab diartikan sebagai sebuah benda yang menghalangi terlihatnya tubuh seseorang dari orang lain.

Sebuah nasehat bijak telah Allah sampaikan, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS.Al-A’raf: 31). Begitulah Allah yang maha berkuasa atas segala sesuatu, membahasakan dengan halus apa yang Dia sukai dan tidak sukai sebagai cara-Nya mendidik umat manusia ke jalan yang diridhai-Nya. Sifat Alquran yang universal serta berlaku sepanjang zaman tentu berlaku pula pada fenomena hijab di Indonesia, ia menjadi tuntunan bagi kita untuk senantiasa berperilaku sesuai aturan yang sempurna. Salah satunya dengan tidak berlebih-lebihan.

Berbicara tentang trend berhijab pada muslimah, terdapat satu hal yang perlu diberikan catatan khusus yaitu tentang sikap terhadap mode. Dewasa ini di satu sisi banyak orang yang terstimulasi kreativitas serta produktivitasnya, dengan demikian konsekuensi logisnya adalah menimbulkan sikap konsumerisme yang cukup meningkat tajam pula. Akhirnya, para muslimah tidak jarang yang ramai dan sibuk dengan koleksi-koleksi warna dan mode hijab terbaru demi “mengkampanyekan” yang namanya keindahan dan keselarasan di mana tergambar dari balutan kain yang dikenakan daripada usaha perbaikan diri pasca mengenakan hijab. Beberapa ada yang ingin selalu tampil dengan balutan kain yang elegan, warna baju dan kerudung yang berpadu dengan indah; serasi dengan tas dan sepatu, serta lengkap dengan aksesoris yang menyatu. Mengejar yang namanya mode yang terus berkembang, menyelesaikan koleksi seluruh warna dan corak kembang, kemudian mengikuti trend mulai gamis hingga kerudung turban. Sehingga sikap berlebih-lebihan atau tabarruj menjadi suatu hal yang perlu dikontrol. Alhamdulillah fenomena maraknya muslimah yang berhijab diikuti pula dengan munculnya banyak komunitas hijabers. Harapannya komunitas ini dapat menjadi wadah yang tepat untuk muslimah berhijab dalam rangka saling menguatkan dan memberikan dukungan agar tetap istiqamah berhijab. Begitu pula dengan lembaga keislaman di kampus misalkan, dapat memanfaatkan momen ini menjadi sarana syiar sebaik-sebaiknya. Mengajak, menyebarkan cahaya Islam dan meluruskan niat, serta menggiring opini semangat dalam melakukan perbaikan diri sebagai bentuk kesyukuran atas hidayah yang sudah Allah sematkan dalam jiwa-jiwa kita. Karena sungguh wahai muslimah, memiliki posisi yang istimewa di hadapan Allah tanpa perlu ber-repot-repot memoles diri untuk memuaskan mata manusia saja. Karenanya “Dunia adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang shalihah”. (HR. An Nasa’i dan Ahmad).

Dan kemudian “Ketika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mematuhi suaminya, maka dia akan masuk surga dari beberapa pintu yang diinginkan.” (HR. Al – Bukhari, Al- Muwaththa’, dan Musnad Imam Ahmad). Masya Allah, luar biasa bukan Muslimah? Bahkan Allah tidak meminta banyak dan menjanjikan surga bagi kita asalkan memang kita tidak mengesampingkan hak-hak Allah. Lagi-lagi berbicara tentang hijab, jika kita maknai dengan mendalam tentu banyak sekali hal yang bisa kita gali dan lakukan untuk menjaga kehormatan dalam rangka beribadah kepada Allah.

Hijab dalam artian penghalang atau batas, menjadikannya penghalang antara fitrah manusia dengan kemaksiatan dan hawa nafsu yang berasal dari syetan, menjadikannya penghalang dari godaan orang-orang iseng, menjadikannya penghalang dari rasa malas untuk mengaktualisasikan diri, menjadikannya batas dalam menjaga mata; hati; dan pikiran serta tentu menjadi batas segala hal yang berlebihan untuk kembali pada aturan Allah yang maha sempurna.

Selain itu, di balik fenomena tentang hijab di lingkungan kita sebenarnya banyak hal yang berkaitan dengannya. Terutama berhubungan langsung dengan manusia yang notabene adalah makhluk sosial yang berinteraksi dengan masyarakat luas. Beberapa kejadian juga mungkin kita temukan bahwa tidak semua muslimah melalui jalan yang mudah dalam usahanya untuk berhijab. Ada yang justru tidak mendapatkan izin dari orangtua, pelarangan pemakaian hijab/jilbab di tempat kerja dan sekolah, diskriminasi di wilayah yang minoritas muslim, sulit diterima dalam pergaulan, perjuangan mempertahankan hijab hingga merelakan nyawa yang dengannya tidak jarang dapat melawan rasa enggan untuk terus memberikan inspirasi kebaikan serta kemanfaatan untuk banyak orang. Sehingga kita banyak belajar untuk senantiasa istiqamah mempertahankan hijab serta bersyukur dengan kemudahan yang kita rasakan. Atau bahkan secara ekstrem pada kehidupan nyata ada pula muslimah yang mulanya berhijab namun akhirnya menanggalkan hijabnya dengan alasan-alasan tertentu. Beberapa hal di atas bukanlah berdasarkan data yang ilmiah, namun berdasarkan observasi di lingkungan sekitar yang dirasa cukup representatif menggambarkan fenomena hijab di kalangan masyarakat. Bahwa meskipun ada beberapa hal yang kurang ideal, namun banyak sekali sebenarnya kiprah luar biasa para muslimah yang patut kita contoh dengan keistiqamahannya dalam menjaga diri seperti Alm Usth Yoyoh Yusroh yang dapat mendidik ke-13 putra-putrinya menjadi hafidz/ah serta aktif dalam kegiatan sosial politik, dalam bidang seni budaya kita juga bisa melihat Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, dan Dian Pelangi yang banyak menginspirasi melalui karya buku, film dan mode pakaian, serta banyak yang lainnya.

Sehingga, fenomena ini menjadi sebuah bahan refleksi bagi kita untuk senantiasa menjaga hidayah Allah yang sudah terpatri dalam jiwa kita. Sungguh tak dapat dibayangkan jika Dia mencabut hidayah dari diri kita. Karena seorang wanita shalihah, ia yang mampu menjaga kehormatan dirinya dan akan menjadi ibu peradaban bagi suatu generasi maka membicarakan dan merefleksikannya sama saja dengan membicarakan satu fase kehidupan.

“Wanita adalah setengah dari masyarakat yang melahirkan setengah lainnya sehingga seolah-olah mereka adalah seluruh masyarakat.” (Ibn Qayyim Al Jauziyah)

 

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

sa

7 Manfaat Sedekah

DALAM kehidupan sosial, kita selalu mendapati bahwa fakta setiap orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan imbalan dari kebaikannya. Imabalan itu bisa dalam betuk uang, penghargaan, apresiasi, dukungan, dan sebagainnya.

Begitu pula bila perbuatan itu dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, ia akan mendapatkan balasan, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat al Zalzalah ayat 7- 8;

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasanya) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasanya) nya pula.”

Beberapa waktu yang lalu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa memberi manfaat kepada oranglain merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengantarkan seseorang meraih kesuksesan. Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Succes sampai mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua agar seseorang meraih kesuksesan.

“Maka beruntunglah bagi orang yang Allah menjadikan kunci- kunci kebaikan lewat kedua tangannya, dan celaka bagi orang- orang yang Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan kunci- kunci kejahatan lewat dua tangannya.” (HR. Ibnu Majjah).

Beberapa Manfaat Berbagi

Pertama, mengundang datangnya rezeki. Memberikan berkah pada harta yang ada pada kita, menjauhkan pada bencana, serta menambah keuntungan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Pancinglah rezeki dengan sedekah”.

Kedua, dapat menolak bala. Menjauhkan dari api neraka dan melepaskannya dari kepicikan dunia akhirat. Menjadi naungan di hari kiamat nanti.

Ketiga, bisa menyembuhkan penyakit. Menghilangkan kesalahan dan membersihkan kecemaran serta mensucikan dari dosa.

Keempat, dapat menunda kematian dan memperpanjang umur.

Kelima, sedekah dapat mendatangkan pertolongan yang diperlukan dalam usaha yang dikerjakan.

Keenam, sedekah dapat meruntuhkan segala benteng setan dan mematahkan segala kekurangan mereka.

Ketujuh, sedekah memupuk cinta kasih terhadap sesama.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

sujud_tilawah-300x169

Panduan Sujud Tilawah dan Sujud Syukur

Sujud Tilawah

 

Sujud tilawah adalah sujud yang disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al Qur’an Al Karim.

 

Keutamaan Sujud Tilawah

 

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)

 

Sujud Tilawah itu Sunnah

 

 

Para ulama sepakat (beijma’) bahwa sujud tilawah adalah amalan yang disyari’atkan. Di antara dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar, “Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut jumhur (mayoritas) ulama yaitu Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, Al Laitsi, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Daud dan Ibnu Hazm, juga pendapat sahabat Umar bin Al Khattab, Salman, Ibnu ‘Abbas, ‘Imron bin Hushain, mereka berpendapat bahwa sujud tilawah itu sunnah dan bukan wajib.

Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata, “Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan riwayat ini pada Bab “Siapa yang membaca ayat sajadah, namun tidak bersujud.”

 

Tata Cara Sujud Tilawah

 

 

1- Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.

2- Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.

3- Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram dan juga tidak disyari’atkan untuk salam.

4- Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud.

5- Lebih utama sujud tilawah dimulai dari keadaan berdiri, ketika sujud tilawah ingin dilaksanakan di luar shalat. Inilah pendapat yang dipilih oleh Hanabilah, sebagian ulama belakangan dari Hanafiyah, salah satu pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, dan juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Namun, jika seseorang melakukan sujud tilawah dari keadaan duduk, maka ini tidaklah mengapa. Bahkan Imam Syafi’i dan murid-muridnya mengatakan bahwa tidak ada dalil yang mensyaratkan bahwa sujud tilawah harus dimulai dari berdiri. Mereka mengatakan pula bahwa lebih baik meninggalkannya. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/449)

Bacaan Ketika Sujud Tilawah

 

Bacaan ketika sujud tilawah sama seperti bacaan sujud ketika shalat. Ada beberapa bacaan yang bisa kita baca ketika sujud di antaranya:

Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca: “Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] (HR. Muslim no. 772)
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud: “Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku] (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484)
Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca: “Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)

Adapun bacaan yang biasa dibaca ketika sujud tilawah sebagaimana tersebar di berbagai buku dzikir dan do’a adalah berdasarkan hadits yang masih diperselisihkan keshohihannya.

Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- mengatakan, “Adapun (ketika sujud tilawah), maka aku biasa membaca: Subhaana robbiyal a’laa” (Al Mughni).

Dan di antara bacaan sujud dalam shalat terdapat pula bacaan “Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin”, sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Ali yang diriwayatkan oleh Muslim. Wallahu a’lam.

Sujud Tilawah Ketika Shalat

 

Dianjurkan bagi orang yang membaca ayat sajadah dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah agar melakukan sujud tilawah. Inilah pendapat mayoritas ulama.

Dari Abu Rofi’, dia berkata bahwa dia shalat Isya’ (shalat ‘atamah) bersama Abu Hurairah, lalu beliau membaca “idzas samaa’unsyaqqot”, kemudian beliau sujud. Lalu Abu Rofi’ bertanya pada Abu Hurairah, “Apa ini?” Abu Hurairah pun menjawab, “Aku bersujud di belakang Abul Qosim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ketika sampai pada ayat sajadah dalam surat tersebut.” Abu Rofi’ mengatakan, “Aku tidaklah pernah bersujud ketika membaca surat tersebut sampai aku menemukannya saat ini.” (HR. Bukhari no. 768 dan Muslim no. 578)

 

Ayat Sajadah dalam Al Qur’an

 

 

Al A’rof ayat 206
Ar Ro’du ayat 15
An Nahl ayat 49-50
Al Isro’ ayat 107-109
Maryam ayat 58
Al Hajj ayat 18
Al Hajj ayat 77
Al Furqon ayat 60
An Naml ayat 25-26
As Sajdah ayat 15
Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)
Shaad ayat 24
An Najm ayat 62 (ayat terakhir)
Al Insyiqaq ayat 20-21
Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)

 

Sujud Syukur

 

Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan oleh seseorang ketika mendapatkan nikmat atau ketika selamat dari bencana.

Dalil disyari’atkannya sujud syukur adalah,

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ.

Dari Abu Bakroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau mendapati hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah Ta’ala. (HR. Abu Daud no. 2774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Juga dari hadits Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di mana ketika diberitahu bahwa taubat Ka’ab diterima, beliau pun tersungkur untuk bersujud (yaitu sujud syukur).

Hukum Sujud Syukur

 

Sujud syukur itu disunnahkan ketika ada sebabnya. Inilah pendapat ulama Syafi’iyah dan Hambali.

Sebab Adanya Sujud Syukur

 

Sujud syukur itu ada ketika mendapatkan nikmat yang besar. Contohnya adalah ketika seseorang baru dikarunia anak oleh Allah setelah dalam waktu yang lama menanti. Sujud syukur juga disyariatkan ketika selamat dari musibah seperti ketika sembuh dari sakit, menemukan barang yang hilang, atau diri dan hartanya selamat dari kebakaran atau dari tenggelam. Atau boleh jadi pula sujud syukur itu ada ketika seseorang melihat orang yang tertimpa musibah atau melihat ahli maksiat, ia bersyukur karena selamat dari hal-hal tersebut.

Ulama Syafi’iyah dan Hambali menegaskan bahwa sujud syukur disunnahkan ketika mendapatkan nikmat dan selamat dari musibah yang sifatnya khusus pada individu atau dialami oleh kebanyakan kaum muslimin seperti selamat dari musuh atau selamat dari wabah.

Bagaimana Jika Mendapatkan Nikmat yang Sifatnya Terus Menerus?

 

Ulama Syafi’iyah dan ulama Hambali berpendapat, “Tidak disyari’atkan (disunnahkan) untuk sujud syukur karena mendapatkan nikmat yang sifatnya terus menerus yang tidak pernah terputus.”

Karena tentu saja orang yang sehat akan mendapatkan nikmat bernafas, maka tidak perlu ada sujud syukur sehabis shalat. Nikmat tersebut didapati setiap saat selama nyawa masih dikandung badan. Lebih pantasnya sujud syukur dilakukan setiap kali bernafas. Namun tidak mungkin ada yang melakukannya.

Syarat Sujud Syukur

 

Sujud syukur tidak disyaratkan menghadap kiblat, juga tidak disyaratkan dalam keadaan suci karena sujud syukur bukanlah shalat. Namun hal-hal tadi hanyalah disunnahkan saja dan bukan syarat. Demikian pendapat yang dianut oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menyelisihi pendapat ulama madzhab.

Tata Cara Sujud Syukur

 

Tata caranya adalah seperti sujud tilawah. Yaitu dengan sekali sujud. Ketika akan sujud hendaklah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, lalu bertakbir, kemudian melakukan sekali sujud. Saat sujud, bacaan yang dibaca adalah seperti bacaan ketika sujud dalam shalat. Kemudian setelah itu bertakbir kembali dan mengangkat kepala. Setelah sujud tidak ada salam dan tidak ada tasyahud.

Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

berharap_gl

Nikmat Allah (SWT) Yang Hakiki

Mungkin ada sebagian di antara kita yang berangan-angan agar besok dapat hidup mewah dan berkecukupan. Memiliki mobil dan rumah mewah serta uang yang banyak sehingga dapat membeli apa saja yang kita inginkan. Kita pun menyangka bahwa kenikmatan itulah yang akan membuat hidup kita senang dan bahagia. Akan tetapi, benarkah demikian? Sama sekali tidak. Bahkan banyak di antara orang-orang kaya yang merasa hidupnya tidak bahagia. Hatinya merasa sempit, tidak tenang, tenteram, dan damai. Lalu apakah nikmat Allah yang hakiki itu, yang akan membuat hidup kita ini bahagia?

 
Nikmat Allah yang Hakiki

 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Nikmat itu ada dua, nikmat muthlaqoh (mutlak) dan (nikmat) muqoyyadah (nisbi). Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam dan Sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita, agar Allah menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu padanya.”

Dari keterangan singkat Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, maka jelaslah bagi kita tentang, ”Apakah nikmat Allah yang hakiki itu?”. Nikmat Allah yang hakiki itu tidak lain dan tidak bukan adalah ketika Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita sehingga kita dapat mengenal Islam dan Sunnah serta mengamalkannya. Kita dapat mengenal tauhid, kemudian mengamalkannya dan dapat membedakan dari lawannya, yaitu syirik, untuk menjauhinya. Kita dapat mengenal dan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, dan dapat membedakan dan menjauhi lawannya, yaitu bid’ah. Kita pun dapat mengenal dan membedakan, mana yang termasuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan manakah yang maksiat?

Nikmat ini hanya Allah Ta’ala berikan khusus kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya. Dengan nikmat inilah kita dapat meraih surga beserta segala kemewahan di dalamnya. Oleh karena itu, ketika shalat kita selalu berdoa,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

”Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” (QS. Al Fatihah [1]: 6-7).

 
Bersyukur atas Nikmat Ilmu dan Amal Shalih

 

Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk bergembira dan berbahagia dengan karunia dan rahmat-Nya yang telah Dia berikan kepada manusia, berupa ilmu dan amal shalih. Allah juga mengabarkan bahwa keduanya itu lebih baik dari apa yang telah kita kumpulkan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

”Katakanlah,’Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’”. (QS. Yunus [10]: 58)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” dalam ayat di atas adalah Al Qur’an, yang merupakan nikmat dan karunia Allah yang paling besar serta keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan “rahmat-Nya” adalah agama dan keimanan. Dan keduanya itu lebih baik dari apa yang kita kumpulkan berupa perhiasan dunia dan kenikmatannya.

Di dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” adalah Islam, sedangkan yang dimaksud dengan “rahmat-Nya” adalah Al-Qur’an.

Al-Qur’an dan iman (Islam) ini tidak lain dan tidak bukan adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Iman dan Al Qur’an, keduanya adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Keduanya adalah petunjuk dan agama yang benar serta ilmu dan amal yang paling utama.”

Ilmu dan amal shalih inilah yang merupakan sumber kebahagiaan hidup kita. Karena kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan jiwa, kebahagiaan ruh dan hati. Kebahagiaan itu tidak lain adalah kebahagiaan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Itulah kebahagiaan abadi dalam seluruh keadaan kita. Kebahagiaan ilmu-lah yang akan menemani seorang hamba dalam seluruh perjalanan hidupnya di tiga negeri, yaitu negeri dunia, negeri barzakh (alam kubur), dan negeri akhirat.

 
Jalan Menuju Kenikmatan

 

Kenikmatan yang hakiki sebagaimana penjelasan di atas tidaklah mungkin kita raih kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i (ilmu agama). Hanya dengan menuntut ilmu syar’i kita dapat mengenal Islam ini dengan benar kemudian dapat mengamalkannya. Tidak mungkin kita dapat mengenal mana yang tauhid dan mana yang syirik, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah atau mana yang taat dan mana yang maksiat kecuali dengan menuntut ilmu syar’i. Karena pada asalnya, manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh dan tidak mengerti apa-apa. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”. (QS. An-Nahl [16]: 78)

Tidak ada cara lain untuk mengangkat kebodohan ini dari dalam diri kita kecuali dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Karena ilmu tidak akan pernah mendatangi kita, namun kita-lah yang harus mencari dan mendatanginya. Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah berkata, ”Tidak ada suatu amal pun yang sebanding dengan ilmu bagi orang yang benar niatnya”. Orang-orang pun bertanya,”Bagaimana niat yang benar itu?”. Imam Ahmad rahimahullah menjawab,”Seseorang berniat untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari selainnya.”

Ketika Allah memberikan hidayah kepada kita untuk bersemangat dan konsisten dalam menuntut ilmu syar’i dengan rajin membaca buku agama atau kitab-kitab para ulama atau rajin menghadiri majelis-majelis ilmu (pengajian) di masjid-masjid atau pun di tempat lainnya, maka ini adalah tanda bahwa Allah benar-benar menghendaki kebaikan untuk kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”

 
Nikmat Harta = Nikmat yang Nisbi

 

Dan sebaliknya, perlu kita ketahui bersama bahwa nikmat harta yang Allah Ta’ala berikan kepada kita bukanlah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Karena nikmat berupa harta tersebut juga Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hambaNya yang musyrik dan kafir. Bahkan bisa jadi orang-orang kafir itu lebih banyak hartanya daripada kita. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebut nikmat harta ini sebagai suatu kenikmatan yang sifatnya nisbi semata, tidak mutlak. Demikian pula nikmat-nikmat lain seperti badan yang sehat, kedudukan yang tinggi di dunia, banyaknya anak dan istri yang cantik.

Bahkan bisa jadi kenikmatan berupa harta ini adalah bentuk istidroj (tipuan atau hukuman) dari Allah sehingga manusia semakin tersesat dan semakin menjauh dari jalan-Nya yang lurus. Atau bisa jadi merupakan bentuk ujian dari Allah kepada manusia.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Ketika nikmat yang sifatnya nisbi merupakan suatu bentuk istidroj bagi orang kafir yang dapat menjerumuskannya ke dalam hukuman dan adzab, maka nikmat itu seolah-olah bukanlah suatu kenikmatan. Nikmat itu justru merupakan ujian sebagaimana istilah yang Allah berikan di dalam kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا

’Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata,’Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata,’Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidak!’ (QS. Al Fajr [89]: 15-17)

Maksudnya, tidaklah setiap yang dimuliakan dan diberi nikmat oleh Allah di dunia berarti Allah benar-benar memberikan nikmat kepadanya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi manusia. Dan tidaklah setiap yang Allah sempitkan rizkinya, dengan memberinya rizki sekadar kebutuhannya dan tidak dilebihkan, berarti Allah menghinakannya. Tetapi Allah menguji hambaNya dengan kenikmatan sebagaimana Allah juga menguji hambaNya dengan kesulitan.”

Oleh karena itu, marilah kita meng-introspeksi diri kita masing-masing. Setiap hari kita banyak berbuat maksiat dan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, namun sedikit sekali kita melakukan amal shalih. Akan tetapi, Allah Ta’ala justru membuka lebar-lebar pintu rizki kita sehingga kita dapat hidup berkecukupan. Saudaraku, tidakkah kita khawatir bahwa ini adalah bentuk istidroj (tipuan) dari Allah Ta’ala sehingga kita semakin durhaka kepada-Nya dengan harta yang kita miliki? Atau tidakkah kita khawatir bahwa ini adalah ujian dari Allah kepada kita, sehingga Allah mengetahui mana di antara hamba-Nya yang bersyukur dan mana yang kufur? Atau apakah kita justru akan tertipu sehingga kita merasa aman dari adzab Allah dan terus-menerus berbuat maksiat karena menyangka bahwa Allah mencintai kita dengan dilancarkan rizkinya?

 

Wallahul musta’an.

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI

ibadah5

3 Amalan Harian Muslim Sejati

Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim… Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.

index

Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya…

jhgtrytr

Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya…, Allahumma amin.

[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya…” (QS. al-Ahzab: 41). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. al-Munafiqun: 9). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

des

[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.” (HR. al-Hakim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita tabaraka wa ta’ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, ‘Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

bgvfdbgvfd

[3] Mohon ampunlah kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” (QS. al-Anfal: 33). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).

Saudaraku,… perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian… Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya…

H.MUSTAFA SEMRANI

H.MUSTAFA SEMRANI